Informasi
ADVERTISEMENT

Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya 

Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya Mojok.co

Banyak orang yang bilang hidup dan punya rumah di desa itu enak. Katanya, ritme hidup akan lebih pelan, mental pun akan terasa lebih tenang. Namun, menurut saya, kehidupan di desa tidak melulu memberikan ketenangan. 

Tenang itu hanya luarnya saja. Jauh di lubuk hati paling dalam, tinggal di desa itu jadi lebih ekstra hati-hati. Sebab, kalau tidak hati-hati, kita bisa jadi sasaran perasaan iri hati.  

Tampilan luarnya saja. Di lubuk hati yang dalam, sering kali kita merasa harus ekstra hati-hati, karena jika tidak kita bisa jadi sasaran perasaan iri dan dengki tetangga kita.

Nah, demikianlah yang saya rasakan saat merenovasi rumah sekarang ini. Jujur, belum juga rumah saya dibongkar, mental dan perasaan keluarga saya sudah dibuat lelah sama huru-hara tetangga. Padahal, renovasi ini nggak ada hubungannya sama tetangga kami itu. Duit ya duit kami, tanah ya tanah kami, tapi tetap aja dorongan untuk ikut campur dari tetangga itu tak bisa dibendung. Haduh!

Nah, bagi kalian yang berencana pindah atau bangun rumah di desa, berikut saya jelaskan supaya kalian tidak kaget ketika tinggal di desa!

Posisi rumah di desa bisa jadi masalah dengan tetangga

Secara logika, berniat membangun rumah harusnya terserah orangnya kan ya. Yang penting duitnya ada, tanahnya juga ada. Nggak ada urusannya sama orang lain. Namun, secara sosial, di desa-desa, tetangga kita kadang merasa punya urusan untuk ikut campur niat kita membangun rumah. 

Misalnya yang terjadi pada saya ini. Jadi sebelumnya, rumah saya tepat berdampingan dengan tetangga saya. Bukan rumahnya saja, tapi juga halaman rumahnya. 

Karena keluarga makin banyak, orang tua saya berniat menambah kamar di halaman rumah, sehingga akan memisah dua halaman itu tadi. Dipisah pun sebenarnya masih ada jarak 2 meter untuk orang-orang lalu lalang di halaman itu.

Nah, di sini mulai muncul omongan tetangga. Opininya dibuat-buat, kami disangka tidak mau hidup berdampingan, tanahnya mau dipisah dan banyak kabar lain. Lha, lagian apa urusannya. Masa saya harus kedinginan tiap malam saat tidur di luar karena nggak punya kamar?

Ah sudahlah, biasa hidup di desa. Orang-orang emang selalu kepo sama kehidupan tetangganya. Haduh!

Baca halaman selanjutnya: Kinerja tukang …

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2026 oleh .

Abdur Rohman

Seorang warga sipil Bangkalan dengan selera yang kontradiktif: mencintai segala jenis olahan mie, namun memiliki alergi akut terhadap mie-literisme.