Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Bisnis Pertashop Jelas Karam: Hidup Segan, Mati Tinggal Menunggu Hari

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
14 Juni 2026
A A
Pertamax di Pertashop Memang Lebih Murah, tapi Tetap Saja Orang pada Beli Pertalite, Harga Pertamax Nggak Ngotak! pertamina pertamax oplosan

Pertamax di Pertashop Memang Lebih Murah, tapi Tetap Saja Orang pada Beli Pertalite, Harga Pertamax Nggak Ngotak! (Shutterstock)

Share on FacebookShare on Twitter

Setahun yang lalu, tepatnya 10 Januari 2025, saya menulis tentang efek kenaikan pertamax ke pertashop. Satu setengah tahun kemudian, alih-alih keadaan membaik, yang terjadi justru mereka digebuk dengan senjata yang sama.

Bayangkan, usahamu yang hidup segan mati tak mau itu malah digorok tepat di tenggorokan. Usaha yang dulunya dianggap visioner dan menyelesaikan masalah distribusi bahan bakar, kini dibunuh oleh kebijakan yang harusnya mengayomi mereka.

Dua kali seminggu, saya menyusuri jalan Wonogiri-Jogja. Sepanjang jalur yang saya lewati, ada 8 pertashop yang berdiri. Semenjak kenaikan pertamax yang awalnya 9 ribuan per liter jadi 13 ribuan, satu tutup permanen. Empat yang lain seringnya tutup, sesekali buka. Yang dua masih buka, tapi amat sepi.

Padahal dulu 8 pertashop ini jaya. Setidaknya, selalu ada pelanggan setiap saya lewat. Tak jarang saya mengantre. Saya tak pernah ketakutan kehabisan bahan bakar, sebab, ya, saya bisa mampir ke situ kapan saja.

Pertashop sebenarnya adalah salah satu bisnis yang punya dampak paling positif pada hidup saya. Selain bebas antrean super panjang yang identik di POM bensin besar, outlet mereka kerap berdiri di daerah ramai pengendara, tapi bukan jalan utama.

Bagi pejuang AKAP seperti saya, yang tidak selalu melewati jalan raya utama, tentu saja keberadaan mereka berarti. Jauh lebih berguna ketimbang manusia-manusia yang mengaku penyampai aspirasi rakyat.

Tapi kini, sepertinya, mereka tak menemui opsi lain kecuali siap-siap “mati”.

Harga pertamax naik, lagi

Kenaikan harga pertamax kali ini nggak masuk akal bagi saya. 16 ribu itu harga yang tak masuk akal di saya. Pemasukan saya memang tidak UMR, jauh di atasnya malah, tapi kenaikan ini bikin biaya yang harus saya sediakan hanya untuk bahan bakar melonjak drastis.

Baca Juga:

6 Motor yang Dikira Harus Pakai Pertamax tapi Ternyata Masih Aman dan Memang Bisa Pakai Pertalite  

Cerita Mereka yang Masih Tetap Membeli Pertamax: Jualan Pertamax Eceran Makin Nggak Laku hingga Seorang Kurir yang Terpaksa Menekan Pengeluaran

Anggap saja begini: dulu, biaya bensin saya tak sampai 5 persen pemasukan bulanan dari gaji pokok. Tapi kini malah menyentuh sepuluh persen. Iki edan sih.

Gara-gara itu, saya memutuskan untuk tidak lagi mengunjungi pertashop sebagai penyedia bahan bakar saya. Saat pertamax naik pertama, saya beralih ke pertalite memang. Tapi karena perubahannya begitu kerasa di motor saya, mau tak mau beralih ke pertamax lagi. Saya bisa beradaptasi lah dengan pengeluarannya, dengan memangkas sana sini.

Tapi kini, tak bisa lagi. Masak uang 30 ribu bahkan hanya cukup buat sekali perjalanan ke tempat kerja, kan nggak masuk akal.

Nah, ini saya yang pemasukannya tetap, dan di atas UMR. Bayangkan yang tidak tetap, dan tidak UMR, po ra tambah mumet?

BACA JUGA: Pertashop Beneran Bangkrut Berkat Nalar Timpang Pertamina

Pertashop dulu solusi, tapi…

Pertashop dulu itu solusi. POM bensin utama kerap hanya ada di jalan utama, jauh dari kampung. Lalu muncullah pertashop. Ada di desa-desa yang agak ramai, lalu harga bahan bakarnya terpaut tidak begitu jauh dari pertalite. Waktu pertalite masih Rp7,650, pertamax di angka Rp9,500. Setidaknya, uang 10 ribu, masih bisa dapet seliter punjul sitik.

Lalu pertalite naik jadi 10 ribu, pertamax di angka 13.250, terus turun terakhir di angka 12.200. Masih okelah, 20 ribu masih dapat lumayan. Sekarang, ketika pertalite 10 ribu, tapi pertamax 16 ribu, ya orang tak sudi menatap pertamax. Kaceke wis ra ngutek. 20 ribu udah nggak lagi dapet 1.5 liter, ya nggo ngapa mbok?

Yang kena ya jelas pertashop. Udah mereka hanya bisa jualan satu jenis bahan bakar, kenanya yang harga mahal lagi. Itu yang udah balik modal mungkin bisa nutup kapan saja. Lha yang belum gimana?

Itu baru dari segi bisnis. Lalu bagi pengendara, ya ikutan pusing. Pertashop pada tutup, jadi mereka tak bisa beli bahan bakar kapan saja, plus aksesnya jauh, antrenya panjang lagi. Pengendara, selain rugi harus bayar lebih mahal, jadi rugi karena kehilangan opsi.

Bangkrutnya pertashop, tak bisa dimungkiri, tak hanya berefek di sisi bisnis saja, tapi juga ke konsumen. Konsumen yang sudah beralih habit, jadi harus beralih lagi karena opsinya dibunuh. Plus, mereka kehilangan hal yang memudahkan mereka.

Kalian bisa bilang, pertamax memang harus naik, ini bukan bahan bakar subsidi, ini langkah yang harus diambil. Ya, saya sih paham, tapi kalau tiap kebijakan yang diambil selalu bikin rakyat yang jadi korban, ya yang saya pertanyakan kapabilitasnya sih.

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pertashop dan Pertamini Itu Nggak Musuhan, Asal Nggak Jual Pertalite dan Ada Ketegasan dari Pertamina

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Juni 2026 oleh

Tags: harga pertamax naikpertamaxpertashop
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

Kasihan Motor Saya jika Pertalite Beneran Dihapus

Kasihan Motor Saya jika Pertalite Beneran Dihapus

27 Januari 2022
Kelas Menengah Dimatikan dengan Pajak dan Kenaikan BBM (Unsplash)

Kenaikan Harga Pertamina Turbo dan DEX Mendorong Kelas Menengah Menuju Kemiskinan dan Kematian

20 April 2026
5 Dosa Operator Pertashop yang Membuat Lapak Mereka Sepi (Unsplash)

5 Dosa Operator Pertashop yang Membuat Lapak Mereka Sepi

1 Februari 2023
Pertamax di Pertashop Memang Lebih Murah, tapi Tetap Saja Orang pada Beli Pertalite, Harga Pertamax Nggak Ngotak! pertamina pertamax oplosan

Cerita Mereka yang Masih Tetap Membeli Pertamax: Jualan Pertamax Eceran Makin Nggak Laku hingga Seorang Kurir yang Terpaksa Menekan Pengeluaran

21 Juni 2026
Pertamax di Pertashop Memang Lebih Murah, tapi Tetap Saja Orang pada Beli Pertalite, Harga Pertamax Nggak Ngotak! pertamina pertamax oplosan

Bisnis Pertashop Beneran Karam: Hidup Segan, Mati Sudah Jelas

10 Januari 2025
Pertashop di Gunungkidul Kini Sudah Menjadi Bangkai Sejarah (Unsplash)

Mengenang Perjalanan Singkat Pertashop di Gunungkidul yang Kini Sudah Menjadi “Bangkai Sejarah”

6 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tolong hentikan tradisi perpisahan sekolah anak SD di hotel atau tempat mubazir lainnya, ini pemborosan tak berguna!

Tolong hentikan tradisi perpisahan sekolah anak SD di hotel atau tempat mubazir lainnya, ini pemborosan tak berguna!

25 Juli 2026
3 hal yang mendorong saya meninggalkan Alfagift dan beralih Klik Indomaret walau lebih mahal Mojok.co

3 hal yang mendorong saya meninggalkan Alfagift dan beralih Klik Indomaret walau lebih mahal

26 Juli 2026
5 tempat wisata Berbah yang layak dikunjungi agar plesiran di Sleman nggak cuma di situ-situ aja mojok

5 tempat wisata Berbah yang layak dikunjungi agar plesiran di Sleman nggak di situ-situ aja

27 Juli 2026
Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam "Naik Kelas" Jadi Makin Diperhitungkan Mojok.co

Waktunya Kebumen berhenti jual diri sebagai “kota yang murah”, harus mulai berani punya harga diri!

27 Juli 2026
Saya kapok pakai tumbler mahal yang tahan panas dingin, mendingan tetap setia pakai botol Tupperware jadul kesayangan Ibu

Saya kapok pakai tumbler mahal yang tahan panas dingin, mendingan tetap setia pakai botol Tupperware jadul kesayangan Ibu

29 Juli 2026
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

4 kebiasaan warga Jogja yang biasanya menular ke pendatang

28 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.