Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Predikat Cumlaude Kini Basi dan Tidak Prestisius Lagi karena Terlalu Banyak Mahasiswa Memilikinya

Iqbal AR oleh Iqbal AR
10 Mei 2026
A A
Predikat Cumlaude Kini Basi dan Tidak Prestisius Lagi karena Terlalu Banyak Mahasiswa Memilikinya Terminal

Predikat Cumlaude Kini Basi dan Tidak Prestisius Lagi karena Terlalu Banyak Mahasiswa Memilikinya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada masanya, lulusan dengan predikat cumlaude itu jadi sesuatu yang sangat prestisius, istimewa, juga sangat sulit untuk didapat. Bisa dibilang bahwa cumlaude itu predikat yang sakral. Perlu ketekunan, keseriusan, dan konsistensi belajar yang ekstra selama berada di bangku perkuliahan. Itu mengapa, ketika ada orang yang dapat predikat cumlaude, bangganya tentu bukan main. Sebab pada masanya, predikat cumlaude ini punya banyak keuntungan.

Menyandang predikat cumlaude bukan hanya jadi bukti bahwa kita adalah salah satu lulusan terbaik. Predikat cumlaude juga bukan hanya berarti kita bisa mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,51 dalam waktu maksimal 4 tahun. Tapi, menyandang predikat cumlaude berarti kita akan lebih mudah ketika keluar dari kampus. Sederhananya, kita akan lebih mudah dapat pekerjaan yang baik dengan modal predikat cumlaude.

ADVERTISEMENT

Namun itu dulu. Sekarang situasinya sudah jauh berbeda. Sekarang, cumlaude sudah nggak lagi jadi predikat yang prestisius, yang istimewa. Predikat cumlaude juga sudah nggak terdengar magis dan sakral lagi. Cumlaude sudah jadi predikat yang biasa saja. Toh, sekarang di sebagian besar kampus juga sudah gampang cari IPK di atas 3,5 dengan waktu kuliah maksimal 4 tahun. Nggak kayak dulu.

Baca juga Kampus di Bangkalan Madura Bakal Jadi “Pabrik” Pengangguran kalau Tidak Serius Berbenah

Inflasi Cumlaude

Perbincangan mengenai merosotnya marwah predikat cumlaude memang sedang hangat dalam beberapa waktu terakhir. Kalau kalian cari di mesin pencari Google dengan kata kunci “cumlaude sudah tidak istimewa”, kalian akan menemui banyak sekali pembahasan mengenai mengapa dan bagaimana predikat cumlaude ini sudah nggak istimewa. 

Salah satu yang menarik dari pembicaraan mengenai hal ini adalah munculnya istilah “inflasi cumlaude”. Istilah ini mengacu kepada melonjaknya rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) para lulusan. Jumlah lulusan yang mendapatkan IPK di atas 3,51 dengan predikat cumlaude makin tahun makin banyak, bahkan terlalu banyak. Penyebabnya macam-macam. Mulai dari betapa mudahnya para dosen memberikan nilai, hingga kampus yang terlalu mengejar dan mempertahankan akreditasi serta reputasi. 

Nah, inflasi cumlaude ini sebenarnya dilematis. Di satu sisi, kampus layak bangga kalau tiap tahun jumlah lulusan cumlaude naik. Nama kampusnya akan wangi, akreditasinya akan aman (mungkin bisa naik). Tapi, di sisi lain, predikat cumlaude akan kehilangan marwahnya. Selain itu, akan muncul pertanyaan, “Kok gampang banget dapat cumlaude di kampus itu?” Integritas kampus dalam memberi nilai justru akan dipertanyakan.

Dosen terlalu mudah memberi nilai, dan kampus ingin mengejar (menjaga) akreditasi

Seperti yang sudah saya singgung sedikit di atas, merosotnya marwah cumlaude dan munculnya “inflasi cumlaude” disebabkan oleh dua hal ini: dosen terlalu mudah memberi nilai, dan kampus yang ingin mengejar (menjaga) akreditasi.

Baca Juga:

Karangmalang UNY tidak ramah pejalan kaki, jalan kaki di sana serasa uji nyali

Sidang Skripsi Itu Hal yang Gampang, yang Lebih Susah Itu Mengurus Berkas Penjajakan dan Yudisium

Skemanya begini. Akreditasi (termasuk reputasi) sebuah kampus itu salah satunya dinilai dari prestasi mahasiswa. Prestasi mahasiswa ini sesederhana berapa tahun kuliahnya dan berapa IPK-nya ketika lulus. Kalau banyak mahasiswa yang IPK-nya bagus dan durasi kuliahnya tepat waktu, akreditasi kampus akan aman. Sebaliknya, kalau banyak yang IPK-nya jelek dan kuliahnya molor, bisa-bisa akreditasi kampus (fakultas, jurusan) bisa turun. Kalau akreditasi turun, reputasi kampus tersebut juga jadi jelek.

Itu mengapa, banyak kampus-kampus yang menganjurkan para dosen untuk lebih murah hati dalam memberikan nilai. Nilai A dan B jadi sesuatu yang terlalu mudah untuk didapat. Beberapa kampus dan dosen sekarang mikirnya gimana caranya mahasiswa biar dapat nilai yang bagus dan cepat lulus. Yang penting akreditasi dan reputasi kampus aman.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Hal ini juga terjadi ketika saya kuliah dulu. Di kampus saya (terutama di fakultas dan jurusan saya), bisa dapat nilai B, B+, bahkan A itu cenderung mudah. Dosen-dosen saya cukup dermawan dalam memberi nilai. Nggak perlu bikin sesuatu yang ‘wah’ atau keren. Asalkan absennya nggak jebol, tugas-tugas dikumpulkan (nggak peduli bagus atau jelek), ikut UTS dan UAS, dijamin dapat nilai minimal B atau B+. Paling hanya beberapa dosen yang masih “pelit” memberi nilai. Itu pun bisa dihitung jari.

Baca juga Jangan Remehkan Mahasiswa Nasakom (Nasib Satu Koma): Mereka Menyelamatkan Saya dari Kehidupan Kampus yang Monoton.

Soal dosen yang “dermawan” nilai

Nah, soal cumlaude dan para dosen yang terlalu mudah memberi nilai, ini sudah disinggung oleh Komite Harvard lebih dari satu abad lalu, tepatnya di akhir 1800-an. Melansir The Harvard Crimson, Komite Harvard protes bahwa nilai A dan B terlalu mudah diberikan kepada mahasiswa. Nilai A diberikan untuk tugas (karya) yang kualitasnya nggak terlalu tinggi. Nilai B diberikan untuk tugas (karya) yang sangat biasa. Imbasnya, mahasiswa yang nggak tekun dan nggak begitu niat, bisa dapat nilai yang bagus.

Bayangkan, masalah ini sudah terjadi dan sudah diprotes oleh Komite Harvard sejak akhir abad 19. Satu abad lebih berselang, masalah ini nyatanya masih saja belum terselesaikan. Entahlah.

Predikat cumlaude sudah nggak jadi acuan di dunia kerja

Sekarang mari keluar dari lingkungan kampus dan masuk ke lingkungan atau dunia kerja. Ada masanya, predikat cumlaude itu jadi modal besar untuk dapat pekerjaan. Siapapun yang menyandang predikat cumlaude, akan lebih mudah dapat pekerjaan, terutama di perusahaan-perusahaan besar. Saat itu, predikat cumlaude masih dipandang di dunia kerja.

Sayangnya, sekarang sudah nggak seperti itu lagi. Predikat cumlaude sudah nyaris nggak ada artinya lagi di dunia kerja. Hampir semua perusahaan di berbagai bidang lebih mementingkan pengalaman dan portofolio ketimbang predikat cumlaude. Pengalaman dan portofolio terasa lebih nyata gitu.

Itu mengapa, kita sering lihat lowongan pekerjaan di beberapa perusahaan (apalagi di bidang industri kreatif), syarat minimal IPK sudah mulai nggak dicantumkan lagi. Penekanannya kini bukan lagi di minimal IPK, tapi pengalaman sekian tahun di bidang yang sama, dan portofolionya apa saja. Nggak peduli IPK di bawah 3, tapi kalau pengalamannya banyak dan portofolionya berjejer, tentu akan lebih dipilih oleh perusahaan.

Ini sudah jelas jadi bukti bahwa predikat cumlaude ini makin hari makin nggak punya marwah. Cumlaude cuma jadi predikat biasa saja. Di lingkungan kampus makin nggak istimewa dan makin kehilangan kesakralan, di dunia kerja juga mulai nggak ditengok lagi.

Akan tetapi, ya mau gimana lagi, iwong kalau kita telaah, penyebab utama merosotnya marwah dan keistimewaan predikat cumlaude ini juga dari dalam, kok. Institusi pendidikan sendiri yang bikin predikat cumlaude jadi nggak istimewa. Ya sudah.

Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Pengalaman Kuliah S2 UGM Nyambi Jadi MUA, Nggak Malu walau Sempat Merias Temen yang Lulus Duluan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Mei 2026 oleh

Tags: alumnialumnuscumlaudedunia kerjainflasi cumlaudeMahasiswawisudayudisium
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

Alumni UNNES: Setelah Lulus pun Harus Berdamai dengan Stereotipe Miring

Alumni UNNES: Setelah Lulus pun Harus Berdamai dengan Stereotipe Miring

26 November 2025
8 Tips untuk Mahasiswa DKV agar Survive dalam Menjalani Perkuliahan

8 Tips untuk Mahasiswa DKV agar Survive dalam Menjalani Perkuliahan

4 Oktober 2023
Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

9 Desember 2023
rasanya kuliah di jurusan psikologi enak susah berat mojok.co

Kuliah di Jurusan Psikologi Itu Enaknya Nggak Ketulungan

6 September 2020
Detail Kecil tentang KKN yang Luput di Film KKN di Desa Penari Terminal Mojok

Detail Kecil tentang KKN yang Luput dalam Film KKN di Desa Penari

25 Mei 2022
kkn di desa

Program Kerja Mahasiswa KKN yang Itu-Itu Saja

12 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman saya sebagai lulusan jurusan Hukum Islam yang memilih jadi petani kopi di desa, ilmunya nggak sia-sia Mojok.co

Pengalaman saya sebagai lulusan jurusan Hukum Islam yang memilih jadi petani kopi di desa, ilmunya nggak sia-sia

12 Juli 2026
Setelah Perpusda Bangkalan Madura Punya Gedung Baru, Saya Kira Semua akan Berubah, Ternyata Tidak Terminal

Setelah Perpusda Bangkalan Madura Punya Gedung Baru, Saya Kira Semua akan Berubah, Ternyata Tidak

6 Juli 2026
5 Dosa Penjual Ketoprak Jakarta yang Membuat Pembeli Tidak Nafsu Makan Mojok.co cirebon

Jangan Asal Klaim, Ketoprak Itu Warisan Kuliner Betawi Jakarta, Bukan Cirebon

6 Juli 2026
Pengalaman Menjadi Penulis Novel Online Lebih dari 3 Tahun: Kalah sama Cerita Panas, Karier Jalan di Tempat

Pengalaman Menjadi Penulis Novel Online Lebih dari 3 Tahun: Kalah sama Cerita Panas, Karier Jalan di Tempat

9 Juli 2026
Harga Makanan di Surabaya Lebih Murah dari Banyuwangi: Untung bagi Pembeli, tapi Derita bagi Penjualnya

Harga Makanan di Surabaya Lebih Murah dari Banyuwangi: Untung bagi Pembeli, tapi Derita bagi Penjualnya

11 Juli 2026
Orang-orang yang menjalani double job itu nggak serakah, mereka cuma mencoba bertahan ketika negara gagal menyejahterakan rakyatnya Mojok.co

Orang-orang yang menjalani double job itu nggak serakah, mereka cuma mencoba bertahan ketika negara gagal menyejahterakan rakyatnya

10 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.