Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Sidang Skripsi Itu Hal yang Gampang, yang Lebih Susah Itu Mengurus Berkas Penjajakan dan Yudisium

Muhammad Bima Raihan Al Masyhur oleh Muhammad Bima Raihan Al Masyhur
5 Juli 2026
A A
Sidang Skripsi Mahasiswa UNY: Ribetnya Mirip Hajatan, Pantas Saja Disebut “Kondangan Akademik” Mojok.co

Sidang Skripsi Mahasiswa UNY: Ribetnya Mirip Hajatan, Pantas Saja Disebut “Kondangan Akademik” (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Setelah melaksanakan sidang skripsi dan merasakan sendiri bagaimana ribetnya proses yudisium, saya setuju kalau ini juga sama sulitnya

“Hah? Yudisium lebih layak dirayakan? Apa layaknya? Kan cuma fotokopi dan minta TTD. Masa iya hal sepele kek gitu lebih layak dirayain?”

Itulah kalimat yang mungkin muncul di kepala saya ketika saat itu tidak sengaja membaca sebuah artikel di Terminal Mojok yang berjudul “Yudisium Lebih Layak Dirayakan daripada Sempro, Sidang, dan Wisuda” yang ditulis oleh Kuncoro Purnama Aji.

Ketika sedang membaca artikel itu, saya masih seorang mahasiswa yang belum melaksanakan yudisium. Malah saya saat itu masih sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi sidang skripsi yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Makanya, ketika membaca artikel itu, saya langsung berpikir, “Bukankah sidang skripsilah yang lebih layak dirayakan?”

Soalnya kan udah nyusun skripsinya susah, cari datanya juga susah, belum lagi nanti pas sidang kan pasti susahnya minta ampun karena harus gontok-gontokan sama dosen penguji selama beberapa jam. Lah masa iya, proses fotokopi dan tanda tangan malah dianggap lebih berharga daripada perjuangan menghadapi para penguji?

Namun setelah saat ini sudah melaksanakan sidang dan merasakan sendiri bagaimana ribetnya proses yudisium dan penjajakan, akhirnya saya paham kenapa menyelesaikan tahap ini sepertinya lebih layak dirayakan.

Sidang skripsi itu sebenarnya mudah

Mungkin di bayangan para pembaca sekalian, sidang skripsi itu pasti menakutkan dan mendebarkan, karena bakal dibantai dosenlah atau mungkin hal yang paling sering ditakutkan adalah tidak lulus sidang. Seperti informasi yang sering kita lihat berseliweran di beranda Instagram yang membahas sidang skripsi itu seperti apa sih. Namun setelah saya sidang, dapat saya pastikan sebenarnya yang sulit dari sidang skripsi itu ternyata cuman satu.

Menurutku hal yang paling sulit dari sidang skripsi adalah merasa gugup dah itu aja. Selebihnya, kalau kita mengerjakan skripsi dengan jujur dan sungguh-sungguh, harusnya sih gampang-gampang saja. Lebih sulit menahan agar tidak gugup ketika dilihatin tiga orang yang lebih ahli daripada kita.

Entah kenapa, ketika dilihatin dosen, kepala saya yang ketika malam hari sebelum sidang sudah seperti calon pemenang nobel, bisa lupa semua layaknya orang amnesia. Sudah, itu saja yang paling berat. Selainnya mah cuma kayak diskusi pas kelas aja, bedanya cuma sama dosen. Habis sidang, nilai langsung keluar, dan ya udah, bisa langsung foto dan hahahihihi sama teman teman.

Baca Juga:

Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?

Jangan Bangga Skripsi Nggak Banyak Revisi, Bisa Jadi Itu Pertanda Salah Arah yang Bikin Repot Saat Sidang Nanti  

Terlihat sepele, tapi ternyata lebih sulit diselesaikan

Sebenarnya, proses penjajakan dan yudisium jauh lebih sulit. Memang jika dilihat prosesnya terdengar sepele karena cuma minta tanda tangan dan upload ini-itu, habis itu selesai. Namun setelah mencoba prosesnya sendiri, ternyata memang ini lebih susah untuk diselesaikan. Bahkan lebih sulit ketimbang sidang skripsi.

Pertama, kampusku mewajibkan upload pasfoto untuk ijazah menggunakan jas almamater. Kemudian foto Kartu Keluarga, dan juga foto ijazah SMA yang tentunya aku harus mencari kembali di mana ijazahku satu itu karena sudah hampir 4 tahun lalu aku memegang benda tersebut. Semua berkas itu wajib diunggah ke website bernama SIMAWA untuk dicek oleh pihak universitas.

Setelah di-ACC, keluar nilai sementara yang harus dipelototi satu-satu biar nggak ada yang salah, sebelum akhirnya minta ACC ke Kaprodi dan Dosen Pembimbing Akademik (PA).

Kemudian setelah tahap tersebut barulah memasuki tahap yang paling menyebalkan dalam proses ini yaitu, berburu tanda tangan lembar pengesahan. Bayangkan, saya butuh tanda tangan dua dosen penguji, dosen pembimbing, Kaprodi, dan Dekan Fakultas. Saya pernah menghabiskan waktu sebulan lebih cuma demi memburu satu tanda tangan dosen penguji. Pernah juga saya nunggu dari pagi sampai menjelang sore di kampus, ujung-ujungnya chat WA saya cuma di-read tanpa balasan. Menyebalkan banget, kan?

Skripsi harus dipecah jadi lima

Lalu masuk ke tahap upload tugas akhir yang nggak kalah menyebalkan. Marginnya harus persis 4-3-3 layaknya formasi sepak bola. Kurang atau lebih sedikit, nggak bisa lanjut. Entah mata stafnya terbuat dari apa sampai bisa tahu margin belum sesuai cuma dalam sekali lirik.

Belum lagi skripsi lima bab itu harus dipecah per bab, abstraknya diterjemahkan ke bahasa Inggris, dan di-burn ke dalam CD buat diserahkan ke perpustakaan. Oh, jangan lupakan urusan remeh seperti bikin akun ikatan alumni, ngurus surat bebas tanggungan perpus, sampai tanggungan biaya pendidikan. Memang gampang, tapi capeknya minta ampun.

Saya harus wira-wiri ke rektorat sampai ke bank buat bayar uang ikatan alumni sebesar 100 ribu, yang sampai detik ini saya nggak paham fungsinya buat apa selain bikin kantong mahasiswa miskin ini makin kering.

Menyelesaikan yudisium dan penjajakan adalah kemenangan sesungguhnya

Skripsi itu alurnya jelas cuman nulis, revisi, sidang, selesai. Kalau pusing, masih bisa ngajak teman yang bahkan dari kampus buat diskusi sambil ngopi. Lha, kalau penjajakan dan yudisium? Mau ngajak diskusi siapa? Syarat tiap fakultas, bahkan tiap jurusan saja bisa beda-beda. Ganti tahun ajaran saja bisa ganti aturan. Masa iya saya mau ngajak Kaprodi nongkrong di warkop buat nanyain proses ini?

Setelah melewati semua penderitaan itu, saya akhirnya benar-benar mengerti maksud artikel Mas Kuncoro. Kalau sidang skripsi adalah panggung unjuk kemampuan di depan tiga ahli, maka yudisium adalah pertempuran sesungguhnya. Melawan sistem administrasi, margin formasi 4-3-3, dan pesan WA yang dicentang biru tanpa balasan. Belum lagi keluar uang tambahan untuk syarat administrasi gaib yang nggak kelihatan apa gunanya.

Melihat berbagai dinamika yang menguras emosi dan dompet itu, saya mantap menyimpulkan: yudisium dan penjajakan sejatinya juga layak diberikan perayaan daripada saat selesai sidang maupun wisuda.

Penulis: Muhammad Bima Raihan Al Masyhur
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sidang Skripsi Nggak Perlu Dirayakan Berlebihan, Revisinya Belum Tentu Lancar 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Juli 2026 oleh

Tags: Sidang Skripsisyarat sidang skripsitata cara mengurus yudisiumyudisium
Muhammad Bima Raihan Al Masyhur

Muhammad Bima Raihan Al Masyhur

Hanya seorang manusia biasa yang suka menulis.

ArtikelTerkait

Predikat Cumlaude Kini Basi dan Tidak Prestisius Lagi karena Terlalu Banyak Mahasiswa Memilikinya Terminal

Predikat Cumlaude Kini Basi dan Tidak Prestisius Lagi karena Terlalu Banyak Mahasiswa Memilikinya

10 Mei 2026
mengerjakan skripsi kuliah sidang skripsi Kiat Merampungkan Skripsi dari Kisah Pewayangan Bambang Ekalaya MOJOK.CO

Sidang Skripsi Online dan Offline Itu Nggak Ada Bedanya, Sama-sama Ribet!

29 Januari 2021
Kok Bisa Kalian Jadi Mahasiswa Semester 14 tapi Nggak Punya Teman? Kok Bisa Kalian Nyinyirin Selebrasi Sidang Skripsi, Iri ya?

Kok Bisa Kalian Jadi Mahasiswa Semester 14 tapi Nggak Punya Teman? Kok Bisa Kalian Nyinyirin Selebrasi Sidang Skripsi, Iri ya?

18 Maret 2024
Wajib Nyumbang Buku sebagai Syarat Kelulusan Itu Perampokan, Bukan Usaha Mencerdaskan!

Wajib Nyumbang Buku sebagai Syarat Kelulusan Itu Perampokan, Bukan Usaha Mencerdaskan!

25 Juli 2023
Merayakan Sidang Skripsi Itu Nggak Masalah, Semua Memang Pantas untuk Dirayakan!

Merayakan Sidang Skripsi Itu Nggak Masalah, Semua Memang Pantas untuk Dirayakan!

11 Januari 2024
Indofood Riset Nugraha, Solusi Mengerjakan Skripsi Tanpa Biaya skripsi mojok.co

Mempertanyakan Keputusan Mantan yang Tiba-tiba Ngilang setelah Sidang Skripsi

9 Februari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pesan untuk orang tua ambis yang khawatir anaknya nggak juara kelas Mojok.co

Pesan dari orang tua untuk sesama orang tua, stop paksa anak yang baru masuk SD jadi juara kelas

24 Juli 2026
Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah Mojok

Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah 

21 Juli 2026
Dosa pengusaha kuliner, pakai foto hasil AI untuk jualan hingga pembeli merasa tertipu Mojok.co

Dosa pengusaha kuliner, pakai foto makanan hasil AI hingga pembeli merasa tertipu

20 Juli 2026
Kayutangan Adalah Sumber Masalah Baru bagi Warga Kota Malang

Orang Malang nggak ada yang suka main ke Kayutangan. Udah macet dan semrawut, desainnya yang meniru Malioboro bikin ilfil

24 Juli 2026
Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer Mojok.co

Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer

20 Juli 2026
Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer Mojok.co

Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer

19 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.