Saat jadi mahasiswa, saya kesal dengan dosen yang lama membalas chat WhatsApp. Saya sudah mengirimkan pesan dengan penuh hormat, pakai salam, kata-katanya rapi. Tidak lupa emoji “sendiko dawuh” yang kerap dipakai kepada orang lebih tua maupun atasan.
Akan tetapi, entah kapan pesan tersebut dibalas. Kalau beruntung, balasan akan datang beberapa jam berselang. Kalau sial, pesan baru dibalas besok atau tidak pernah dibalas. Bahkan, kadang saya sampai lupa pernah bertanya atau menginformasikan apa saja lewat pesan WA.
Saya yakin banyak mahasiswa lain juga mengalami hal serupa, bahkan lebih perih. Kadang, WhatsApp dosen terlihat sedang aktif, tapi pesan dibiarkan menggantung begitu saja, tanpa balasan, tanpa kepastian.
Saking banyaknya mahasiswa yang mengalami hal serupa, pengalaman kolektif ini naik derajat menjadi materi stand up comedy. Bahkan, bahan bercandaan lintas kampus.
Saat jadi mahasiswa meme tersebut terlihat lucu. Akan tetapi, setelah kini jadi menjadi dosen, saya jadi memahami pengalaman tersebut dengan arti yang berbeda. Fenomena slow respon ini bukan sekadar kemalasan individual, dia sudah menjadi kultur akademik.
Alasan dosen sedang mengajar itu benar adanya
“Maaf sedang mengajar” jadi salah satu alasan yang paling sering dipakai dosen ketika telat membalas pesan. Setelah jadi pengajar, saya baru mengerti kalau alasan ini benar adanya, bukan sok sibuk atau dibuat-buat.
Dosen memang bisa mengajar berjam-jam, pindah kelas, pindah gedung, lalu lanjut diskusi dengan mahasiswa lain. Biasanya kalau alasannya ini, respons masih tergolong manusiawi. Chat pagi dibalas siang. Chat siang dibalas sore. Masih ada harapan.
Rapat, pelatihan, atau diklat itu bukan sok sibuk
Ini juga alasan yang sering dipakai. Biasanya pola waktunya khas: chat masuk pagi, balasan datang menjelang magrib, lengkap dengan kalimat, “Maaf baru balas, tadi sedang rapat.”
Akan tetapi, setelah saya ikut berbagai rapat dosen, saya menemukan fakta yang cukup mengejutkan: rapat itu sebenarnya tidak sesibuk itu. Kadang pembahasannya muter-muter. Kadang ada sesi yang bahkan membuat peserta membuka marketplace, membaca berita, atau mengecek grup keluarga. Dan ya, ponsel dosen biasanya tetap berada persis di sebelah tangan mereka.
Artinya, kemungkinan dosen melihat chat mahasiswa itu besar. Sangat besar. Hanya saja… membalasnya belum menjadi prioritas.
Ada juga tipe pengajar yang sebenarnya membaca pesan, tanda biru tercentang, lalu berniat membalas nanti. Persoalannya, “nanti” dalam dunia dosen adalah konsep yang sangat filosofis. Karena setelah itu muncul kelas lain, revisi administrasi, mahasiswa lain, grup dosen, undangan seminar, jurnal yang deadline-nya kemarin, sampai akhirnya chat mahasiswa tadi tenggelam ke lapisan terdalam WhatsApp.
Dear mahasiswa, kami tidak bermaksud mengabaikan pesan kalian
Mahasiswa sering mengira dosen sengaja mengabaikan mereka. Padahal tidak selalu begitu. Kadang dosen hanya kalah cepat dengan kekacauan hidupnya sendiri.
Tetapi, setelah dipikir-pikir lagi, ada sisi lain yang jarang dibahas mahasiswa. Boleh jadi slow respon dosen itu adalah hubungan resiprokal.
Coba muhasabah sebentar. Bukankah mahasiswa juga punya bakat serupa?
Dosen mengirim revisi bimbingan hari ini, mahasiswa menghilang tiga minggu. Dosen bertanya, “Kapan seminar proposal?” Mahasiswa menjawab empat hari kemudian dengan alasan “Maaf Pak, baru buka WA” Padahal story WA dan Instagram-nya aktif setiap malam.
Jangan-jangan kultur slow respon ini sebenarnya hubungan timbal balik yang diwariskan turun-temurun di dunia akademik.
Dosen merasa mahasiswa sulit dihubungi. Mahasiswa merasa pengajar lebih sulit dihubungi. Akhirnya terciptalah ekosistem komunikasi pasif-agresif yang stabil dan berkelanjutan.
Jadi kalau disimpulkan bahwa dosen itu malas atau sengaja lama membalas chat, barangkali tidak proporsional. Kadang persoalannya sederhana: chat yang masuk terlalu banyak, sementara energi untuk membalas semuanya tidak selalu ikut tersedia. Begitu ya.
Penulis: Muhammad Asgar Muzakki
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Dosen Muda Memang Asyik, tapi (Maaf) Saya Lebih Percaya Diajar Dosen Tua.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
