Ngaji Alhikam dan Kegalauan Nasib Usaha Kita

Artikel

Avatar

Kitab Alhikam karya Ibnu Athoillah ini sangat populer di kajian keislaman, khususnya pada lingkungan pesantren. Kitab ini tidak dipelajari oleh para sufi saja, Alhikam digandrungi oleh pembelajar lainnya, karena hikmah-hikmah di dalamnya sangat indah.

Kitab ini memang butuh penalaran yang cukup dalam. Sehingga, tidak jarang santri yang mengkaji kitab ini, harus santri yang memiliki daya ilmu tinggi. Bahkan, dianjurkan sudah fasih dalam keilmuan lainnya. Di luar kalangan pesantren, bahkan tidak sedikit yang mengatakan kalau kitab Alhikam termasuk kitab dengan ajaran yang menyesatkan.

Di pondok pesantren tempat saya belajar, saya berkesempatan mengkaji kitab Alhikam ini dengan kiai fenomenal sekarang, yang masyhur sangat luas keilmuannya. Beliau adalah Kiai Bahauddin Nursalim atau yang dikenal dengan Gus Baha. Cara penyampaiannya yang lugas, detail, diselingi candaan kepada santri ini menjadi sangat diminati dan membuat santri-santri bersemangat untuk mengikuti pengajian beliau.

Sampai pada hikmah yang membahas tentang himmah atau cita-cita, ada suatu hal yang cukup menggelitik. Bunyi hikmah tersebut, “Sawabiqul himami, laa takhriqu aswaaral aqdar”, yang artinya, kekuatan semangat atau cita-cita, tidak akan mampu menembus pagar takdir.

Kebetulan di pesantren saya konsentrasi Mahad Aly mengkaji ushul fiqh, dan rata-rata pengajian itu diikuti oleh santri Mahad Aly. “Iki santri fokus kajian ushul fiqih kok ngaji kitab Hikam. Aneh. Ushul Fiqih itu mbulet, membuat kita mengernyitkan dahi. Sedangkan ngaji Hikam itu mendukung pengangguran,” celetuk Gus Baha pada malam itu.

“Wah seneng iki, santri-santri model sampeyan iki ngaji Kitab Hikam iki,” lanjutnya.

Gelak tawa santri terdengar pada majelis malam itu. Bagaimana Gus Baha tidak mengatakan begitu? Santri macam kami sekalian begini ini ya jelas senang, ada hikmah yang mengatakan seperti itu. Malah bisa-bisa dijadikan senjata buat mager-mageran. Hehehe.

“Wah ini, nih. Cocok,” gumam santri yang duduknya agak duduk dekat dengan saya.

“Kalau kamu sekalian ingin melanjutkan kuliah di universitas x, sudah berusaha maksimal. Kalau kamu sekalian diterima, itu juga bukan karena usaha kalian, melainkan karena ketetapan dan rida Allah. Kalau sudah berusaha maksimal tidak juga diterima, begitu juga atas kehendak Allah,” jelas Gus Baha.

Sebagai manusia yang berilmu pas-pasan begini, saya sok-sokan membaca jalan pikiran orang yang memaknai akan hikmah satu ini. Ada dua perbedaan, yaitu tipe orang optimis dan tipe orang pesimis.

Tipe optimis dalam memaknai hikmah pada kitab Alhikam tersebut, pasti akan biasa saja. Dan tentunya, akan memaknainya dengan tetap selalu berikhtiar dan percaya pada janji-Nya, atas balasan kepada orang yang berusaha dengan selalu diiringi dengan mengharap rida-Nya.

Namun, kalau tipe orang pesimis, sudah pasti akan menyesalkan usaha-usaha dia yang lalu, dan akan menganggapnya sia-sia. Lebih parahnya lagi, kalau sehabis ngaji ini tidak mau ikhtiar lagi, dapat rezeki apa pun pasrah sama yang dikasih Tuhan.

Nah, lalu bagaimana sama nasib cita-cita kita?

Memahami kitab Alhikam memang nggak bisa ngasal aja. Lantaran sungguh dalamnya esensi hikmah-hikmah yang terkandung. Bahkan, kalau kitab ini tidak dikaji dengan guru spiritual yang mumpuni, malah akan menimbulkan banyak penafsiran. Nanti malah jadinya salah kaprah. 

Memang Alhikam itu lebih cocok dikaji oleh para sufi yang sudah mencapai tingkat hanya menghamba cinta-Nya, bukan kayak kita yang masih ketergantungan duniawi seperti ini. Seperti yang ditakutkan Gus Baha, kalau santri yang belum ngaji apa-apa, kok langsung ngaji Alhikam, takutnya nanti malah senang menjadi pengangguran.

Sudah to, mbok ya jadi orang itu yang sedang-sedang saja. Kalau semangat mengejar cita-cita, nggak usah terlalu ambisius. Kalau terlalu ambisius, bisa-bisa dalam mengejar keinginan malah akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya dan menjadikan Tuhan tidak rida.

Benar, tanpa takdir yang sudah ditentukan-Nya, kita bukan apa-apa. Tapi juga jangan malah santuy amat. Mana ada juga Tuhan akan memberi kenikmatan hamba-Nya, kalau tanpa usaha.  Dan tentu, diiringi selalu mendekatkan diri dengan-Nya. Allah itu Maha Adil. Allah itu Maha Rahman-Rahim.

Tidak hanya menimbulkan banyak pemaknaan saja. Sebenarnya hikmah ini juga menjadi nasihat bagi kita semua, kalau setiap usaha kita dalam mengerjakan sesuatu untuk mencapai sesuatu, harus selalu seimbang dengan ibadah dan doa kita meminta kepada-Nya. Karena tanpa kemurahannya, ambisi-ambisi kita tidak akan menjadi apa-apa.

“Kalau orang itu iman sama takdir Tuhan, pasti tidak akan putus asa,” pungkas Gus Baha pada ngaji Alhikam malam itu.

BACA JUGA Esai-esai Terminal Ramadan Mojok lainnya.

Baca Juga:  Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
12


Komentar

Comments are closed.