Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Saya Pernah Jadi Pemberi Cap Ahli Neraka dan Betapa Bodohnya Saya Kala Itu

FN Nuzula oleh FN Nuzula
12 Desember 2020
A A
Saya Pernah Jadi Pemberi Cap Ahli Neraka dan Betapa Bodohnya Masa Itu

Saya Pernah Jadi Pemberi Cap Ahli Neraka dan Betapa Bodohnya Masa Itu

Share on FacebookShare on Twitter

Waktu SD, pengetahuan agama Islam saya bisa dibilang lebih baik dari teman-teman sebaya saya. Di madrasah sore, teman-teman sekelas saya semuanya kakak kelas saya di SD. Nilai pelajaran agama saya di Ujian Akhir Sekolah tertinggi se-Kecamatan. Saya mewakili sekolah untuk lomba PAI (Pengetahuan Agama Islam) dan jadi juara satu di tingkat Kabupaten. Dan ini ada hubungannya dengan cerita saya sebagai pemberi cap ahli neraka.

Dulu, kalaupun akhirnya saya ranking satu di kelas 6 SD setelah sebelumnya selalu ranking 2, menurut bapak saya, itu bukan karena nilai saya terbaik, tapi karena sekolah lebih senang pada saya yang untuk pertama kali membawa namanya berkibar di perlombaan tingkat Provinsi.

ADVERTISEMENT

Tapi, tidak ada lomba dengan teknologi penilaian secanggih apa pun yang bisa mengukur kadar keislaman seseorang. Mungkin saat itu pengetahuan keislaman saya memang lebih baik, tapi bisa jadi kadar keislaman saya tak lebih baik dari teman saya kebanyakan. Terlepas fakta bahwa saat itu kami kebanyakan belum balig, namun ada kisah dalam Islam yang membuat saya begitu tersindir. Berkaitan dengan masa kecil saya yang pernah hobi “memberi cap” ahli neraka pada seseorang.

Kisah ini sangat masyhur dalam literatur keilmuan Islam yang dimuat dalam kitab Shohih Muslim dan Ihya’ Ulumuddin, dan pernah diceritakan oleh Gus Baha’ dalam ngajinya. Suatu hari, ada seseorang dari Bani Israil yang menginjak kepala seorang abid (orang yang beribadah) yang sedang sujud. Sontak, abid tersebut pun murka. Ia bersumpah demi Allah dan mengatakan orang yang menginjak kepalanya tidak diampuni Allah. Katanya, “Wa Allahi, la yaghfiru Allah li fulan.” (Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni fulan). Allah kemudian berfirman, “Siapa orang yang bersumpah atas nama-Ku bahwa aku tidak mengampuni fulan? Sesungguhnya Aku sungguh telah mengampuni fulan, dan Aku menghapus pahala amalmu.”

Dijelaskan oleh Gus Baha’, selain berstatus “Yang menyiksa”, Allah juga berstatus “Yang mengampuni”. Tidak fair, bila si abid tadi dengan bersumpah atas nama Allah menggugurkan Allah sebagai Dzat Yang maha pengampun dan dengan yakin mengatakan Allah tidak mengampuni fulan. Bagaimanapun, potensi seorang fasik berbuat dosa untuk taubat dan diberi ampunan oleh Allah itu tetap ada. Kita tidak bisa memutus rahmat (kasih sayang) Allah dari siapa pun, sefasik apa pun orang itu.

Kisah ini juga mengajarkan kita untuk tidak mengagungkan diri sendiri dan berlaku sombong pada siapa pun, sekalipun itu orang yang menyakiti kita. Amal ibadah kita tidak bisa dijadikan legitimasi bagi kita untuk melaknat orang. Jangan sampai hanya karena merasa punya banyak amal ibadah yang belum ada kepastian diterima, kita bertindak sebagaimana kisah abid di atas, yang melibatkan Tuhan dalam kemarahanya, sampai-sampai mereduksi status Allah sebagai Dzat Yang maha mengampuni.

Saya sendiri sangat tersindir dengan kisah ini karena punya pengalaman yang mirip saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Waktu itu, sebagaimana lazimnya anak-anak, kawan-kawan mengisi jam istirahat sekolah dengan bermain-main berbagai macam permainan, seperti bermain sepakbola, delikan, betengan, bekelan, dan sebagainya. Tapi, ada juga yang mengisinya dengan menggoda teman lainya. Ada yang menyembunyikan topi upacara, menggoda kawan perempuan, menyembunyikan buku, dan sebagainya.

Suatu hari, saya diganggu oleh adik kelas saya. Saya lupa alasan kenapa ia mengganggu saya, pastinya masalah yang tidak besar-besar amat sewajarnya anak-anak dan jelas bukan masalah ibadah seperti kisah abid di atas. Yang pasti, waktu itu ia membuat saya begitu jengkel dan marah.

Baca Juga:

8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen 

Guru Agama Katolik, Pekerjaan dengan Peluang Menjanjikan yang Masih Kurang Dilirik Orang

Meskipun ia adik kelas, ia pernah tinggal kelas, jadi usia kami seumuran dan badanya lebih besar. Didorong oleh kemarahan ala anak-anak yang membuncah, saya memberanikan diri mendatanginya di kelas. Saya tidak mengajaknya bertengkar atau mengumpatnya waktu itu, tapi apa yang saya katakan padanya mungkin lebih sembrono dan menyakitkan, “Akan masuk neraka kamu!” Ia hanya tertawa setelah saya menyebutnya ahli neraka. Entah antara tidak mengerti atau sudah paham dengan tidak berartinya omongan saya.

Saat mengatakan itu, tentu saya tidak berpikir panjang. Saya sudah terlanjur terbawa emosi layaknya anak-anak yang masih labil. Pengetahuan agama saya yang tak seberapa juga tidak saya jadikan pertimbangan untuk menuduh seseorang jadi ahli neraka secara ngawur. 

Itu terjadi memang murni karena emosi atas penghinaan terhadap saya pribadi. Ketika saya merasa punya pengetahuan agama yang lebih baik daripada dia dan mungkin waktu itu saya sadar akan kalah dalam pertengkaran fisik, saya mengucapkan keputusan yang sama sekali bukan wilayah kekuasaan saya, yaitu memberi cap ahli neraka pada seseorang. Sesuatu yang dalam perspektif teologi Islam, sangat fatal.

Setelah SD, saya melanjutkan pendidikan di pesantren. Semakin ngaji dengan banyak kiai dan kitab kuning, ditambah penjelasan dari Gus Baha’, saya semakin tahu betapa fatalnya saya mengatakan hal itu. Peristiwa yang sudah sangat lama, tapi terus saya ingat sampai sekarang, dan selalu membuat saya tersindir saat kembali mendengar kisah ini. 

Ketika melihat ada tokoh agama yang mencatut nama Tuhan dan agamanya untuk kepentingan-kepentingan yang bersifat sementara, seperti kepentingan politik, kepentingan kelompoknya, dan sebagainya, saya juga teringat dengan peristiwa itu, dan membatin, “Koyok aku ndisek”. Mengamalkan dawuh dan guyonan Gus Baha’, “Kalau ada yang salah (karena belum tahu ngaji ini) jangan sok gaya membenarkan. Sama-sama terlambatnya kok gaya. ‘Kayak aku dulu!’ gitu aja. Hahaha….”

Pengalaman sebagai “pemberi cap” ahli neraka bagi saya tentu bukan pengalaman yang menyenangkan. Malah sering kali masih saja menyisakan rasa bersalah pada diri saya. Apalagi, pengalaman seperti ini tidak bisa dimasukkan dalam CV untuk melamar pekerjaan atau beasiswa. Namun, selayaknya penyesalan yang lain, pengalaman merupakan guru yang baik. Dengannya, saya bisa terus introspeksi untuk tidak mudah menghakimi orang lain sebagai ahli neraka, lebih menggunakan ilmu dalam bertindak daripada menggunakan emosi, dan tidak mudah mencatut nama Tuhan untuk urusan yang sebenarnya personal.

BACA JUGA Alasan Kenapa Kita Suka Nggak Puas Sama Film Adaptasi Novel Berdasarkan Teori Sosiologi dan tulisan FN Nuzula lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 Desember 2020 oleh

Tags: agamaGus Baha'
FN Nuzula

FN Nuzula

Dari Pati, Jawa Tengah. Kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mushonep Fathul Ketip.

ArtikelTerkait

menganut lebih dari satu agama, mbel-Embel Garis Lucu dan Tahun-tahun yang Tidak Ramah Bagi Umat Beragama

Embel-Embel Garis Lucu dan Tahun yang Tidak Ramah Bagi Umat Beragama

14 Desember 2019
Kalau Agama Dilihat dari Cara Berpakaian, Orang Atheis akan Telanjang Selamanya terminal mojok.co

Kalau Agama Dilihat dari Cara Berpakaian, Orang Ateis Akan Telanjang Selamanya

5 Februari 2021
Kata Sains Ruh, Jin, dan Tuhan Itu Tidak Ada

Kata Sains, Ruh, Jin, dan Tuhan Itu Tidak Ada

30 November 2019
Merdeka Pikiran dari Keinginan untuk Jadi Sesuatu di Luar Dirimu MOJOK.CO

Merdeka Pikiran dari Keinginan untuk Jadi Sesuatu di Luar Dirimu

21 Agustus 2020
In the Name of God: A Holy Betrayal, Saat Manusia Berdosa dengan Menjual Agama dan Mengaku Tuhan

In the Name of God: A Holy Betrayal, Saat Manusia Menjual Agama dan Mengaku Tuhan

12 Maret 2023
agama

Kontekstualisasi Agama atau Seragamisasi Agama?

5 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

7 Agustus 2026
Kerja sambil kuliah program Ekstensi UI mengubah cara pandang terhadap pekerjaan saya sebagai ASN Kementerian Mojok.co

Kerja sambil kuliah program Ekstensi UI mengubah cara pandang terhadap pekerjaan saya sebagai ASN Kementerian

10 Agustus 2026
Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua Mojok.co

Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua

7 Agustus 2026
Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

10 Agustus 2026
Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

5 Agustus 2026
Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa (Unsplash)

Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa

10 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.