Selain Hati, Alam Juga Harus Kembali Fitrah di Hari yang Fitri Nanti

Artikel

Avatar

“Ramadan kayak angin lalu yang lewat mak sliwer tok. Kok cepet e dah tanggal segini aja.” Kata salah seorang teman di akun Twitter-nya. Sejenak saja berpikir, iya yah Ramadan kali ini terasa lebih cepat dari biasanya. Sebentar lagi udah lebaran dan salat Idul Fitri. Walaupun nggak punya pilihan selain harus salat di rumah.

Tapi jika diingat-ingat, selain di masjid, masyarakat Indonesia juga biasa melaksanakan salat Idul Fitri di lapangan luas. Yah, momen yang hanya bisa dirasakan dua kali dalam setahun ini memang sebenarnya mengasyikkan.

Apalagi ketika kita masih kecil dulu, bisa bermain atau lari-larian tanpa dipermasalahkan jamaah lain yang sedang salat atau khusyuk mendengarkan ceramah (khotbah) imam. Walaupun panasnya juga kadang nggak bisa dikompromi, sih.

Meski begitu, orang-orang akan tetap berbondong-bondong datang untuk melaksanakan salat Idul Fitri di lapangan. Jika tidak kebagian karpet, maka mereka akan menggelar koran di atas tanah sebagai alas sajadah yang digunakan untuk salat. Yang tanpa sadar, koran atau alas sekali pakai yang digunakan untuk dijadikan alas sajadah itu juga membawa dampak tersendiri.

Salat di tengah tanah luas yang lapang tentu menimbulkan sensasi berbeda. Setidaknya, bisa menyaksikan lebih banyak objek daripada jika salat di masjid. Sayangnya, sensasi itu juga harus dibayar dengan banyaknya koran yang berserakan begitu saja.

Setelah salat Idul Fitri selesai, seperti sudah menjadi pemandangan umum, bekas-bekas koran, kardus, atau bahkan bungkus jajan yang dibawa oleh jamaah itu di buang begitu saja di tanah lapang tempat digelarnya salat. Mereka berserakan bahkan terbawa angin hingga ke mana-mana.

Duh ya, apa hadis annadzofatu minal iman yang udah diajarkan dari kecil itu cuma jadi pemanis aja? Padahal baru juga memulai hari yang fitri. Gimana mau bersihkan hati kalau lingkungan sekitar kita juga nggak bersih?

Sudah sangat jelas dalam KBBI, kata fitri artinya berhubungan dengan fitrah (sifat asal). Setiap hari raya Idul Fitri, kita selalu tak asing dengan kalimat “kembali ke fitrah”. Ya, kita semua memang ingin kembali ke fitrah-Nya. Meminta ampunan kepada Allah SWT, berharap dosa-dosa bisa luntur dan terampuni dengan saling memaafkan antara satu dengan yang lain.

Tapi egoisnya manusia, kita menganggap diri kita saja yang butuh dan pantas kembali ke fitrah. Padahal ada makhluk selain manusia yang juga ingin kembali ke fitrahnya atau ke sifat asalnya sebagai makhluk hidup yang juga hidup berdampingan dengan manusia.

Sadar nggak sih, kalau alam juga ingin kembali bersih? Tanah ingin nggak menelan benda-benda yang nggak bisa diurai, udara ingin dirinya bebas asap, pohon juga ingin tumbuh lebih lama. Dan ada makhluk hidup lain yang butuh itu semua, nggak cuma manusia.

Udah banyak yang mengatakan kalau munculnya virus baru ini sebagai upaya bumi untuk istirahat dari berbagai eksploitasi manusia. Dan alam sedang dalam tahap menyembuhkan dirinya sendiri. Entah teori ini dianggap konspirasi atau tidak, tapi nyatanya ada banyak kabar baik tentang kondisi alam yang membaik serta adanya aktivitas hewan secara bebas yang jauh dari jarahan manusia.

Kembali ke momen Idul Fitri. Dari kecil, kita selalu diajarkan untuk bisa memetik hikmah dari segala peristiwa yang ada, sekalipun dalam peristiwa yang nggak pengin kita temui. Seperti ditiadakannya salat Idul Fitri berjamaah tahun ini. Siapa sih yang nggak pengin salat Idul Fitri rame-rame? Apalagi momen Idul Fitri menjadi momen paling dinantikan untuk bisa berkumpul bersama keluarga.

Namun sekali lagi, kita tetap harus bisa ambil hikmahnya. Iya, kayak yang biasa di sinetron azab itu. Dan sisi baiknya nggak adanya jamaah salat Idul Fitri di lapangan, jadi nggak ada sampah koran yang berserakan juga. Biar lapangan-lapangan itu bersih dulu dan rumputnya bisa tumbuh sesuka mereka. Sampai sebulan kemudian tumbuh ilalang dan jadi rawa. Lah?

Di luar itu, pasti banyak orang yang mencintai kebersihan, tapi sayangnya justru tidak berlaku adil terhadap kebersihan lingkungan dan makhluk di sekitarnya. Padahal keimanan seseorang tidak hanya diukur dari banyaknya ritual di tempat ibadah. Akan tetapi juga menjaga dan memelihara lingkungan merupakan hal yang sangat fundamental dalam kesempurnaan iman seseorang. Bahkan Yusuf Qardhawi dalam bukunya tentang fiqih lingkungan mengatakan “tidak sempurna iman seseorang jika tidak peduli lingkungan”. Hal itu yang kemudian menjadi salah satu alasan kenapa setiap muslim harus menjaga lingkungan.

Alam dan lingkungan juga punya hak sendiri untuk hidup. Mereka juga makhluk Allah yang ingin kembali ke fitrah layaknya manusia pada umumnya. Momen menuju Idul Fitri ini juga bisa kita gunakan untuk koreksi, nggak hanya kepada diri sendiri tapi juga makhluk hidup lainnya.

Lalu berbaik hati (walau sedikit) kepada mereka. Kayak ngasih makan kucing atau burung, siram tanaman, bersihin halaman dan pilah sampahnya, atau hal lainnya yang bisa bikin kita merasa hidup berdampingan dengan mereka.

Alam dan hati kita bisa sama-sama kembali ke fitrahnya. Dan kalau boleh mengutip sebuah ayat di Alquran, “Dan tiada lah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan (juga) umat seperti kamu. Tiada lah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhan lah mereka dihimpunkan”. (QS. Al-An’am: 38).

BACA JUGA Esai-esai Terminal Ramadan Mojok lainnya.

Baca Juga:  Drama Bukber: Sungkan Balik Duluan tapi Takut Ketinggalan Tarawih Berjamaah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
4


Komentar

Comments are closed.