Nasib Jadi Keturunan Arab yang Sering Disalahpahami Banyak Orang – Terminal Mojok

Nasib Jadi Keturunan Arab yang Sering Disalahpahami Banyak Orang

Artikel

Dulu, ketika masih jadi seorang bocah biasa—sampai sekarang pun masih biasa-biasa saja, sih—saya merasa menjadi seorang keturunan Arab adalah sebuah anugerah yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak? Punya wajah seperti orang asing (yang anehnya, bagi sebagian orang dijadikan parameter kecantikan/ketampanan), hidung yang lebih mancung ketimbang orang kebanyakan, atau kalau terkenal dan punya ilmu agama tinggi mungkin bisa menjadi “protector” bagi orang lain seperti Hyung Husein.

Ibarat kartun Naruto, keturunan Arab di Indonesia mungkin mirip dengan klan Uchiha dan Hyuga yang punya keistimewaan tersendiri berupa jurus mata (doujutsu) murni akibat faktor genetik. Atau, kalau kata Kanjeng Lord Maharaja Baginda Coach Justinus Lhaksana, “gol jatuh dari langit”.

Namun, seiring dengan bertambahnya usia, entah kenapa saya malah makin sering menemui kesalahpahaman orang tentang keturunan Arab yang bikin hati serta pikiran saya serempak berkata, “Lho, kok gini, sih?”

Pasti bisa bahasa Arab

Ini mungkin kesalahpahaman paling dasar dan lazim dialami oleh keturunan Arab di Indonesia. Terkadang, memang ada yang menggunakan stigma ini sebagai bahan bercandaan. Namun, kalau sudah sampai mengucapkan kalimat, “Lu kan orang Arab, masa nggak bisa bahasa Arab?” Nah, sepertinya yang begini sudah halal untuk disentil lambungnya.

Yang perlu kalian semua ketahui, kami ini cuma keturunan, heyyy. K-E-T-U-R-U-N-A-N. Lha, teman saya yang orang tuanya berasal dari Jawa (yang biasanya identik dengan Jateng, Jatim, dan Yogyakarta saja) tapi lahir dan tumbuh besar di Jakarta saja nggak fasih berbicara bahasa Jawa, kok. Itu masih beda provinsi, loh, apalagi kami yang moyangnya beda negara, Malih!

Baca Juga:  Kamus Bahasa Makassar Sehari-hari (2): Kenalan dengan Partikel Pi, Mo, dan I

Alim dan punya ilmu agama tinggi

Sebagai tempat munculnya salah satu agama Abrahamik terbesar di dunia, yaitu Islam, wajar jika Jazirah Arab dipandang sebagai tempat munculnya pakar-pakar keislaman dengan kealiman luar biasa. Sayangnya, ada anggapan keliru yang berkembang di masyarakat bahwa “keturunan Arab = ahli agama”.

Padahal, generalisasi seperti itu salah besar. Keturunan Arab juga manusia normal dengan minat dan bakat yang beragam, nggak harus jadi ulama dengan ilmu agama yang super semua. Jadi, jangan kaget kalau melihat keturunan Arab yang kelakuannya nyeleneh. Toh, passion dan perilaku seseorang itu nggak harus selalu ada kaitannya dengan suku bangsa, kan?

Berperawakan tinggi besar

Kesalahpahaman semacam ini mungkin sering ditemui oleh keturunan Arab yang memiliki perawakan relatif kecil, seperti saya contohnya, hehehe. Sudah nggak terhitung berapa kali saya mendapatkan pertanyaan yang menjurus kepada body shaming semacam, “Keturunan Arab kok badannya kecil?” Cocoteee itu, loh!!!

Bagi mereka, keturunan Arab yang ideal mungkin adalah yang bertubuh tinggi, punya otot besar, bahkan kalau bisa jago bela diri, persis seperti Thanos. Mohon maaf, ciri-ciri tersebut sangat nggak pas untuk bentuk fisik yang memang sudah diciptakan Tuhan beragam apa pun suku bangsanya. Jika Anda mencari suku bangsa yang sesuai dengan karakteristik seperti itu, mungkin yang Anda cari adalah spesies Titan, bukan manusia.

Baca Juga:  Begitu Banyak Artis Indonesia, Mengapa Harus Selalu Reza Rahardian?

Dicurigai teroris

Well, ini adalah kesalahpahaman terhuwalahumba yang pernah saya alami (mungkin saya doang kali ya, huft). Ketika masih kecil, saya cukup sering mengunjungi salah satu markas kepolisian di Indonesia untuk bermain ke rumah seorang teman. Namun, ada satu kejadian yang akan selalu saya ingat.

Biasanya, saya santai-santai saja ketika bermain ke sana. Sampai tiba hari di mana saya ditanya bermacam pertanyaan mulai dari keturunan saya, asal negara, dan sebagainya. Padahal, kan, sudah berapa generasi keluarga saya di Indonesia dan sudah berkali-kali saya bermain ke sana, mana masih SD pula, kok bisa-bisanya ditanya pertanyaan seperti itu? Untungnya, teman saya segera menjelaskan kepada petugas penjaga tersebut bahwa saya hanya berniat main ke rumahnya, nggak melakukan tindakan yang aneh-aneh.

Ternyata, cap itu masih melekat sampai sekarang (walau sebatas bahan bercandaan). Ketika terjadi peristiwa bom di Makassar dan penyerangan Mabes Polri, saya mendapatkan ceng-cengan yang mengaitkan peristiwa ini dengan asal keturunan saya.

Jadi, pada tulisan ini, izinkan saya menyampaikan pesan cinta kepada para teroris yang identik dengan budaya kearab-araban itu: kalian kurang ajar!

Anggota ormas

Nah, karena saya masih muda dan menginginkan kehidupan yang tenang, terlebih lagi ini merupakan tulisan pertama saya, alangkah baiknya jika tulisan ini berakhir sampai di sini saja. #Peace

Baca Juga:  Alasan Fans Musisi Indonesia Jarang Beli Album Fisik Karya Idolanya

BACA JUGA Begini Rasanya Jadi Orang Batak Keturunan Jawa Berwajah Timur.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.