Surat Rahwana kepada Sinta – Terminal Mojok

Surat Rahwana kepada Sinta

Featured

Apa yang selalu kau pikirkan, Anakku, selama di taman Argasoka Ngalengka ini? Apakah kau selalu merindukan kekasihmu yang sedang dibuang di Hutan Dandaka di Ayodya sana, Rama itu?

Anakku, Sinta. Apakah kau tidak tahu bahwa aku, Rahwana ini adalah ayahandamu? Ah, Sinta, aku sebenarnya ingin bercerita kepadamu tentang identitasmu ini. Hanya saja, kau selalu menolak kehadiranku. Kau selalu mengira bahwa kedatanganku adalah untuk merayumu, Anakku. Kau salah besar, Sinta. Sebagai ayah yang terpisah lama sekali dengan anaknya, aku juga ingin tahu kabarmu, Sinta. Aku rindu sebagai ayah kepada anak, Sinta. Karena semenjak kau lahir, aku tak punya kesempatan menggendongmu, menembangkan tak lela lela le dong, bahkan aku tak tahu bagaimana rupamu semasa kecil.

Aku ingin mendengar banyak ceritamu. Hanya saja, kau menolakku, juga Trijata, keponakanku itu, ikut-ikutan menolakku. Trijata tidak tahu bahwa ayahnya, Wibisanalah tersangka pembuangan Sinta.

Baiklah, Anakku. Jika dengan pertemuan tidak bisa kuceritakan, akan kutuliskan kisahnya lewat surat ini, Sinta. Selagi ada waktu, sebelum wanara-wanara brengsek itu menggegerkan Ngalengka.

Semua berawal dari rasa cintaku yang amat besar kepada Dewi Widowati. Dewi Widowati merupakan titisan dari Dewi Sri. Kau tahu, kan, Anakku, kalau Dewi Sri itu adalah lambang dari kesuburan? Ya, aku ingin menjadikan Ngalengka tanahnya subur, padi-padi tumbuh dengan ijo royo-royo, dan panen yang melimpah. Sehingga Ngalengka tidak perlu impor beras dan kebutuhan pangan lainnya. Karena sudah tercukupi oleh masyarakat Ngalengka sendiri. Ngalengka gemah ripah loh jinawi. Ah, Nak, sebagai seorang raja, aku tidak mementingkan diriku sendiri, aku juga memikirkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatku. Tidak salah kan, Nak?

Baca Juga:  Menjadi Ambis atau Tidak Ambis dalam Pusaran Kehidupan Mahasiswa

Hanya saja, para dewa tidak mengerti maksud dan niatku. Karena aku seorang raksasa. Mungkin mereka kira raksasa hanya memiliki nafsu yang menggebu-gebu. Sehingga para dewa melarangku untuk memiliki Dewi Sri karena Dewi Sri hanya dilahirkan untuk Wisnu. Oh, mengapa Wisnu tidak menitis kepadaku saja? Aku marah, Nak. Kuobrak-abrik kahyangan hingga para dewa meminta ampun dan berjanji menghidupkan kembali Widowati untukku.

Ya, meski aku diberikan Dewi Tari, Dewi Aswani, dan Dewi Triwati, tetapi kesemuanya tidak kunikahi sendiri, Anakku. Dewi Aswani dan Dewi Triwati pun menjadi bulikmu karena keduanya kuberikan kepada dua adikku, Kumbakarna dan Gunawan Wibisana.

Bertahun-tahun aku menantikan janji para dewa. Hingga akhirnya istriku, Dewi Tari melahirkan anak pertamanya. Saat itu Gunawan Wibisana, adikku yang cerdas itu mengetahui bahwa putriku adalah titisan Dewi Sri, Sinta. Iya, putri itu adalah dirimu, Sinta. Dan Dewi Tari adalah ibumu.

Wibisana takut jika kakaknya akan mencintai lalu menikahi putrinya sendiri atas ambisinya kepada Dewi Sri, sehingga ia membuang Sinta dan menggantinya dengan Indrajit. Ah, Anakku, apakah aku, Rahwana, berpikiran seperti yang dipikirkan adik bungsuku itu? Tidak, Sinta. Karena dengan menitisnya Dewi Widowati kepada anakku, aku akan mencintainya seperti anakku sendiri, tidak lebih. Karena sudah ada di Ngalengka, aku percaya negeri ini akan makmur.

Ya, meski kecewa dengan para dewa. Karena mereka berjanji akan menghidupkan Dewi Widowati untukku, bukan menjadi anakku.

Baca Juga:  Daftar Kata dalam Bahasa Makassar dan Bahasa Indonesia yang Serupa, namun Memiliki Arti Berbeda

Sinta, kau akhirnya dimasukkan ke dalam ketupat lalu dihanyutkan ke sungai Jamuna. Prabu Janakalah yang akhirnya menemukanmu, dan membawanya ke negara Manthili untuk diangkat menjadi anak. Dan kau dinamai Sinta.

Kau tahu Indrajit, Sinta? Ia disabda oleh Wibisana dari awan atau mega menjadi seorang bayi. Hmmm, adikku yang satu itu benar-benar pintar menyembunyikan.

Seandainya aku tahu ketika Prabu Janaka mengadakan sayembara untuk memperebutkanmu, Sinta, maka aku akan mengikutinya. Agar aku bisa memboyongmu kembali ke Ngalengka sebagai anakku. Hanya saja, aku tidak mendengarnya. Dan Rama telah memboyongmu ke Ayodya untuk diambil istri, tanpa restuku, ayah kandungnya.

Lalu suatu hari adik perempuan tersayangku, Sarpakenaka, memberitahuku bahwa Sinta di hutan Dandaka bersama Rama dalam masa pembuangan. Ah, Anakku, seandainya engkau tidak dibuang oleh Wibisana, hidupmu tak akan sesedih ini.

Dan seandainya engkau tahu, Sinta, bahwa dengan kuboyong engkau dari hutan Dandaka, sejatinya aku ingin menyelamatkanmu dari hidup yang penuh sengsara. Agar hidupmu mulya, Nak!

Hanya saja, semua orang tidak mengerti. Semua orang mengira bahwa aku ingin merebutmu dan menjadikanmu istri. Aku hanya ingin Rama meminta restu kepadaku, Rahwana, sebagai ayah kandungmu, Sinta. Jika aku ingin menjadikanmu istri, bukankah sedari awal di Ngalengka bisa kunikahi kau secara paksa? Bukankah selama dua belas tahun kau di Alengka, aku sama sekali tidak menyentuhmu kan, Sinta?

Baca Juga:  Living in a Bubble: Ketika Media Sosial Digunakan Penguasa untuk Membungkam Demokrasi

Ah, Sinta, perang akan mulai. Aku terburu-buru dalam menulis surat. Takut kalau tidak rampung. Bala tentara kera itu sudah mulai menyerang liar. Semoga kau selamat di sana. Salam cinta dan rindu dari ayahmu, Rahwana.

BACA JUGA Surat Hanoman kepada Sinta dan tulisan Ervinna Indah Cahyani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.