Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Jujur, Saya sebagai Mahasiswa Kaget Lihat Biaya Publikasi Jurnal Bisa Tembus 500 Ribu, Ditanggung Sendiri Lagi

Azzhafir Nayottama Abdillah oleh Azzhafir Nayottama Abdillah
16 Desember 2025
A A
Jujur, Saya sebagai Mahasiswa Kaget Lihat Biaya Publikasi Jurnal Bisa Tembus 500 Ribu, Ditanggung Sendiri Lagi

Jujur, Saya sebagai Mahasiswa Kaget Lihat Biaya Publikasi Jurnal Bisa Tembus 500 Ribu, Ditanggung Sendiri Lagi

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai mahasiswa, kita memang punya satu tuntutan akademik yang tidak bisa ditawar, yaitu menuntaskan tugas akhir, entah dalam bentuk skripsi konvensional atau publikasi artikel ilmiah. Di sinilah masalah mulai muncul. Publikasi jurnal yang terdengar akademis, bergengsi, dan intelektual ternyata juga punya harga yang tidak murah.

Jujur, kaget rasanya ketika pertama kali melihat biaya publikasi jurnal untuk keperluan Tugas Akhir. Angkanya bukan cuma puluhan sampe seratus-dua ratus ribu untuk satu semester, tapi bisa tembus 500 sampai 700 ribu rupiah hanya untuk satu artikel. Mahal banget. Apalagi bagi mahasiswa tingkat akhir yang dompetnya sudah lelah lebih dulu sebelum skripsian.

Di Indonesia, mayoritas kampus menggunakan Science and Technology Index (SINTA) sebagai acuan kualitas jurnal. SINTA sendiri terbagi ke dalam enam peringkat, dari SINTA-1 yang paling prestisius sampai SINTA-6 yang paling dasar dan relatif “ramah” bagi mahasiswa. Semakin tinggi peringkatnya, semakin mahal pula biaya publikasinya. Bahkan untuk level SINTA-5 saja, biaya 500 ribu rupiah sudah jadi hal lumrah.

Padahal, secara aturan, publikasi jurnal sebenarnya tidak selalu wajib bagi semua mahasiswa. Tapi dalam praktiknya, publikasi jurnal sering diposisikan sebagai jalan pintas yang “lebih ringkas, lebih rapi, dan lebih layak baca” dibanding skripsi tebal yang berakhir mengendap di repository kampus. Artikel jurnal dianggap lebih berguna karena bisa diakses publik, disitasi, dan kalau beruntung bisa menjadi jejak akademik pertama seorang mahasiswa.

Biaya publikasi jurnal tetap menguras dompet meskipun sudah patungan

Awalnya saya kira biaya publikasi jurnal itu paling mentok di angka 100 ribu rupiah, atau minimal ditanggung kampus sebagai bagian dari fasilitas akademik. Toh ini kan tugas resmi, bukan proyek pribadi. Nyatanya? Tidak sesederhana itu.

Coba kita lihat realitas biayanya. Jurnal SINTA 6 yang sering dianggap “paling ramah mahasiswa” saja masih berada di kisaran 200 ribu rupiah. Naik sedikit ke SINTA 5, biayanya bisa 300 ribu. SINTA 4 menyentuh 600 ribu, SINTA 3 sekitar 700 ribu, dan ketika masuk ke level yang sering dielu-elukan sebagai “jurnal bergengsi”, angkanya makin bikin mahasiswa menarik napas panjang sebab SINTA 2 bisa tembus 2 juta rupiah, sementara SINTA 1 bahkan bisa mencapai 5 juta rupiah untuk satu artikel.

Yang bikin kaget bukan cuma soal mahalnya biaya publikasi jurnal, tapi juga fakta bahwa biaya ini sepenuhnya ditanggung oleh penulis. Kampus menuntut publikasi, jurnal menyediakan ruang publikasi, tapi urusan bayar? Ya silakan diselesaikan masing-masing. Seolah-olah publikasi ilmiah itu semacam hobi mahal, bukan bagian dari proses akademik yang diwajibkan.

Di titik ini, publikasi bukan lagi sekadar soal menulis dan meneliti, tapi soal sanggup atau tidaknya dompet diajak kerja sama. Dari situ pikiran mulai ke mana-mana. Kalau mahasiswa saja harus keluar uang ratusan ribu untuk satu artikel, lalu bagaimana dengan dosen? Mereka dituntut lebih gila lagi, seperti harus publikasi di jurnal bereputasi, SINTA tinggi, bahkan Scopus yang harganya bisa buat DP motor.

Baca Juga:

Saya pikir publikasi jurnal saat pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, nyatanya lebih banyak menguji mental

Publikasi Jurnal Kadang Jadi Perbudakan Gaya Baru: Mahasiswa yang Nulis, tapi Dosen yang Dapat Nama, Logikanya di Mana?

Jangan-jangan di balik gelar akademik dan reputasi ilmiah itu, ada dompet yang ikut menipis pelan-pelan. Jangan-jangan pula, sebagian gaji dosen akhirnya “balik lagi” ke sistem publikasi itu sendiri. Kalau benar begitu, ini bukan lagi ironi, tapi sirkulasi keuangan yang agak absurd.

Ini perkara siapa yang sanggup bayar

Bahkan ketika biaya publikasi itu dipikul bersama alias patungan antara mahasiswa dan dosen pembimbing, rasa mahalnya tetap tidak bisa bohong. Bagi dosen, itu mungkin dianggap sebagai “biaya profesional”. Tapi bagi mahasiswa, itu adalah uang makan sebulan, uang kos, atau tabungan darurat yang mendadak harus dikorbankan demi satu artikel PDF. Patungan memang terdengar adil, tapi dalam praktiknya tetap timpang. Satu pihak sudah bergaji, satu pihak masih hidup dari kiriman orang tua.

Yang lebih lucu publikasi jurnal sering diposisikan sebagai tolok ukur kualitas akademik. Padahal kualitas itu seperti punya harga tiket masuk. Bukan cuma soal ide, riset, dan nalar, tapi juga soal siapa yang sanggup bayar.

Tulisan ini bukan mau menyalahkan jurnal atau dosen, apalagi kampus secara membabi buta. Ini cuma ungkapan kaget yang jujur dari mahasiswa biasa yang tadinya mengira dunia akademik itu idealis dan bersih dari urusan uang. Ternyata tidak. Bahkan di ruang paling ilmiah sekalipun, struk pembayaran tetap jadi penentu.

Penulis: Azzhafir Nayottama Abdillah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pengalaman Publikasi Artikel di Jurnal Ilmiah: Ternyata Ada Sisi Gelapnya!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Desember 2025 oleh

Tags: biaya publikasi jurnaljurnal scopusjurnal sintapublikasi jurnalsinta
Azzhafir Nayottama Abdillah

Azzhafir Nayottama Abdillah

Mahasiswa Ilmu Politik yang memiliki pengalaman menulis selama 5 tahun. Memiliki minat riset dan pendidikan.

ArtikelTerkait

Dosen Numpang Nama di Jurnal, Vampir Akademik Pengisap Darah Mahasiswa yang Banting Badan demi Kelulusan

Dosen Numpang Nama di Jurnal, Vampir Akademik Pengisap Darah Mahasiswa yang Banting Badan demi Kelulusan

23 Februari 2025

Surat Hanoman kepada Sinta

27 April 2020
Usaha Fotokopi Melakukan Praktik "Kotor" yang Meresahkan Pelanggan, Tega Manipulasi Data hingga Jual Skripsi Mojok.co publikasi jurnal

Skripsi dan Publikasi Jurnal bagi Mahasiswa Itu Nggak Ada Bedanya, kayak Suruh Milih Masuk Kandang Buaya atau Singa

29 September 2025
Saya pikir, publikasi jurnal saat kuliah pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, ternyata lebih banyak menguji mental Mojok.co

Saya pikir publikasi jurnal saat pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, nyatanya lebih banyak menguji mental

29 Juli 2026
Alih-alih Mengharuskan PPG, Bukankah Lebih Baik Meningkatkan Kualitas Mahasiswa yang Jadi Calon Guru Sejak Mereka Kuliah S1?

Derita Mahasiswa PPG: Tugas Kebanyakan, Wajib Publikasi Jurnal, Dosen Cuma Nitip Nama

18 Juli 2024
Surat Rahwana kepada Sinta terminal mojok.co

Surat Rahwana kepada Sinta

20 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara dangdut D’Academy Mojok.co

Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara Dangdut Academy

5 Agustus 2026
Alasan modal Rp100 miliar lebih baik "disulap" jadi bisnis laundry daripada usaha yang ikuti tren Mojok.co

Alasan modal Rp100 miliar lebih baik “disulap” jadi bisnis laundry daripada usaha yang ikuti tren

2 Agustus 2026
Stasiun Tambak, stasiun yang hampir tidak ada gunanya bagi warga Tambak Banyumas

Stasiun Tambak, stasiun yang hampir tidak ada gunanya bagi warga Tambak Banyumas

3 Agustus 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama

6 Agustus 2026
Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

5 Agustus 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Setelah akad KPR rumah, saya baru sadar bahwa beli rumah bukannya jadi solusi, tapi justru jadi masalah baru

1 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.