Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja karena Semua Menjadi Budak Validasi, Bikin Saya Rindu Mudik ke Lamongan

Akhmad Yunus Vixroni oleh Akhmad Yunus Vixroni
24 Februari 2026
A A
Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja (Unsplash)

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Menikahi perempuan Jogja adalah privilege tertinggi bagi saya, lelaki pesisir Lamongan yang tumbuh dengan debu Pantura dan aroma ikan asin. Saya bisa mudik ke kota healing.

Dalam bayangan naif saya dulu, memiliki kampung halaman istri di Jogja yang terkenal serunya berarti memiliki “jaring pengaman kewarasan”. Sebuah tempat pelarian sakral di mana saya bisa mudik sambil berwisata semaunya, menggelar tikar di teras rumah mertua, mendengarkan suara jangkrik, dan menikmati waktu yang berjalan lambat.

Namun, liburan kemarin menyadarkan saya bahwa definisi “mudik” ke Jogja sudah bergeser jauh. Bagi saya, mudik itu seharusnya kembali ke masa lalu. Kembali ke kesunyian desa dan jalanan lengang di mana hambatan terbesar hanyalah rombongan kambing yang menyeberang atau jemuran gabah.

Tapi Jogja? Ah, Jogja hari ini bukan lagi sebuah “kampung halaman”. Ia telah berubah menjadi Kota Tujuan Wisata yang terlalu glowing, terlalu estetik, dan jujur saja terlalu bising untuk disebut tempat istirahat. 

Mudik ke Jogja rasanya bukan seperti pulang ke rumah nenek. Ini malah mirip ikut rombongan study tour anak SMA yang tak kunjung usai.

Baca juga: Sandwich Generation Merantau demi Perbaiki Ekonomi, Eh Duit Malah Ludes Tiap Mudik

Macet di Jogja, yang katanya kampung halaman

Kegalauan pertama terjadi di atas aspal. Kalau mudik ke Lamongan, macet itu terjadi di perjalanan (proses), bukan di tujuan. 

Macet di Pantura wajar karena volume kendaraan atau perbaikan jalan. Tapi begitu menuju, atau bahkan jauh sebelum gapura “Selamat Datang di Kabupaten Lamongan” jalanan kosong melompong. Kita bisa napas lega.

Baca Juga:

7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup

6 Oleh oleh Khas Jogja Paling Red Flag, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Sakit Hati

Mudik ke Jogja adalah tentang anomali. Perjalanan dari Bekasi lancar jaya via Tol Trans Jawa. Tapi begitu keluar pintu tol dan masuk area provinsi ini, neraka justru baru dimulai.

Saya terjebak macet parah bukan di jalan raya antar-provinsi, melainkan di jalan-jalan dekat rumah mertua saya. Jalanan yang lebarnya pas-pasan untuk dua mobil itu kini dipadati oleh kendaraan plat B, F, D, dan bus-bus pariwisata berukuran raksasa yang manuvernya bikin jantungan. Ini membingungkan mental saya.

“Lho, saya ini sudah sampai kampung, kok masih macet?”

Saya mudik untuk menghindari macet Bekasi. Tapi ternyata, saya membawa kemacetan itu bersama saya ke sini.

Di Lamongan, saya hanya berhenti kalau ada kambing atau kereta melintas. Di sini, saya berhenti karena ada rombongan jeep wisata Merapi atau bus yang mau parkir ke pusat oleh-oleh. Rasanya saya tidak sedang mudik, tapi sedang terjebak di area parkir Dufan yang meluber satu provinsi.

Mudik artinya antre demi sebuah nostalgia bernama Gudeg Sagan

Malam harinya di Jogja, istri mengajak makan malam nostalgia. “Ke Gudeg Sagan yuk, Mas. Kangen nih,” ajaknya dengan mata berbinar.

Sebagai suami yang baik, saya mengangguk. Ekspektasi saya tentang makan malam di kampung halaman adalah: Masuk warung sederhana, ibu-ibu penjual menyambut dengan ramah, duduk santai, makan dengan tenang.

Realitanya? Kami harus mengambil nomor antrean. Ya, makan gudeg pakai nomor antrean, persis seperti mau mengurus paspor di kantor imigrasi.

Resto itu penuh sesak. Orang-orang berdiri gelisah menunggu meja kosong. Suara riuh rendah percakapan bercampur dengan denting sendok garpu.

Ketika akhirnya makanan datang, saya melihat istri saya makan dengan bahagia. Tapi bagi saya, kenikmatan itu berkurang drastis. Gudegnya memang enak (meski manisnya masih bikin lidah Lamongan saya culture shock), tapi suasananya? Nol besar.

Tidak ada keintiman. Tidak ada obrolan santai karena kami sadar ada orang lain yang berdiri di samping meja dengan tatapan, “Cepat selesaikan makanmu, giliran kami duduk”.

Di Lamongan, makan di warung pecel lele adalah momen sakral. Penjualnya kenal nama bapak kita. Kita bisa ngobrol ngalor-ngidul soal harga pupuk kandang atau gosip pilkada. Di Jogja, makan adalah transaksi cepat di tengah hiruk-pikuk industri pariwisata.

Jebakan “healing” di HeHa Mountain View

Puncak dari “hilangnya rasa mudik” ini terjadi besoknya, ketika kami pergi ke Heha Mountain View, yang terkenal akan keindahannya. Kami menempuh perjalanan menanjak ke arah Patuk yang padat merayap. 

Sesampainya di sana, definisi “healing” saya hancur lebur. HeHa bukanlah tempat menikmati alam. Ia adalah sebuah Studio Foto Outdoor Raksasa.

Jujur saja, pemandangannya memang indah sekali. Lampu kota Jogja kelap-kelip di kejauhan. Tapi bisakah kita menikmatinya? Tidak.

Mata pengunjung tidak tertuju ke horizon, tapi ke layar hape. Di setiap sudut ada antrean manusia yang ingin berfoto di spot-spot buatan: Balon udara palsu, teras kaca, atau bingkai-bingkai neon.

Saya mengamati sekeliling. Tidak ada yang duduk diam meresapi angin gunung. Semua sibuk dengan pose, angle, dan pencahayaan.

Saya melihat fenomena ini bukan sebagai liburan, tapi sebagai Kerja Rodi Digital. Kita bayar tiket masuk, bayar parkir, macet-macetan, hanya untuk bekerja menjadi model dan fotografer bagi akun media sosial kita sendiri.

Mudik ke Jogja adalah soal kebahagiaan istri

“Mas, sini foto aku udah pasang tripod,” kata istri saya memanggil dari salah satu spot. “Oke gass, Dik!” jawab saya semangat. (Dalam hati saya mengakui: Pemandangannya bagus juga, kan sayang kalau nggak foto).

Akhirnya, saya yang niatnya mau mudik dan istirahat dari pekerjaan di Bekasi, malah beralih profesi menjadi tukang foto dadakan. Satu jepretan, 10 jepretan, 50 jepretan, keringat bercucuran. Tapi, melihat dia tersenyum puas saat melihat hasil fotonya, ya sudahlah. Itulah healing versi saya hari itu: melihatnya bahagia (dan tidak ngomel).”

Di Lamongan, kalau mau lihat pemandangan, saya tinggal jalan ke pematang sawah atau duduk di tanggul Bengawan Solo, gratis, sepi. Hanya ada saya, angin, dan mungkin seekor kerbau. Itu baru namanya healing.

Baca juga: Begini Rasanya Nggak Pernah Mudik Lebaran Sejak Lahir

Jogja: Kampung halaman milik semua orang

Dalam perjalanan pulang dari HeHa, sambil menyetir menembus kemacetan Jalan Wonosari, saya merenung. Mungkin masalahnya bukan pada Jogja. Kota ini terlalu terkenal.

Akibatnya, Jogja bukan lagi milik warganya atau para pemudik seperti saya. Jogja sudah menjadi milik Indonesia. Milik semua orang yang butuh validasi liburan. Ketika sebuah kota menjadi “Kota Wisata”, ada harga mahal yang harus dibayar: Hilangnya privasi dan keheningan.

Bagi yang lain, ini mungkin tetap menyenangkan. Tapi bagi saya, pria Lamongan yang mendambakan definisi mudik yang purba, pulang ke sunyi, pulang ke lambat, Jogja terasa melelahkan.

Saya jadi sadar, mudik ke Jogja itu bukan liburan. Itu adalah kunjungan kerja. Kerja menahan emosi di jalan, kerja mengantre makanan, dan kerja menjadi fotografer dadakan.Mungkin tahun depan, kalau mau benar-benar merasakan “mudik” yang tenang, saya tidak akan mengajak istri pulang ke Jogja.

Saya akan ajak dia ke Lamongan saja. Kita duduk di pinggir tambak, makan pecel lele yang asin pedas, makan rujak petis, dan menikmati kemewahan hakiki: Jalanan yang sepi dan tidak ada bus pariwisata.

Penulis: Akhmad Yunus Vixroni

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 5 Hal Normal di Lamongan tapi Susah Ditemukan di Jogja, Bikin Culture Shock Perantau

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2026 oleh

Tags: bekasigudeg saganheha mountain viewJogjalamonganlibur lebaranMudikPulang Kampung
Akhmad Yunus Vixroni

Akhmad Yunus Vixroni

Akhmad Yunus Vixroni. Seorang lulusan Psikologi yang suka keliling bareng istri. Tertarik dengan hal-hal kecil yang sering luput dari observasi.

ArtikelTerkait

Sego Boran, Kuliner Lamongan yang Nggak Cocok di Lidah Wisatawan Mojok

Sego Boran, Kuliner Lamongan yang Kurang Cocok di Lidah Wisatawan

2 Desember 2024
3 Dosa Jalan Bantul yang Membuat Warga Lokal seperti Saya Sering Apes ketika Melewatinya Mojok.co

3 Dosa Jalan Bantul yang Membuat Warga Lokal seperti Saya Sering Apes ketika Melewatinya

5 September 2025
Tidak Semua Setan Betah di Kota Jakarta, Tidak Semua Malaikat Nyaman di Jogja mojok.co/terminal

Tidak Semua Setan Betah di Kota Jakarta, Tidak Semua Malaikat Nyaman di Jogja

16 Maret 2021
Jalan Solo-Jogja, Jalan Paling Monoton dan Bikin Ngantuk

Jalan Solo-Jogja, Jalan Paling Monoton dan Bikin Ngantuk

20 September 2024
The Victoria Hotel Jogja, Hotel Ramah Anak yang Membuat Liburan Keluarga Nggak Banyak Drama  (Mojok.co)

The Victoria Hotel Jogja, Hotel Ramah Anak yang Membuat Liburan Keluarga Nggak Banyak Drama  

26 Juni 2025
Membayangkan Tingkah Laku Upin Ipin dan Anak-anak Tadika Mesra kalau Punya Grup WhatsApp Mojok.co jogja kuliah di jogja

Membayangkan Tokoh Upin Ipin Kuliah di Jogja: Susanti Nongkrong di Bonbin, Ehsan Jadi Anak Amikom

21 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Al Waqiah, Surah Favorit Bikin Tenang Meski Kehilangan Uang (Unsplash)

Al Waqiah, Surah Favorit yang Membuat Saya Lebih Tenang Meski Kehilangan Uang

20 Februari 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

19 Februari 2026
Tebet Eco Park, Spot Hits Jakarta Selatan yang Sering Bikin Bingung Pengunjung Mojok.co

Tebet Eco Park Adalah Mahakarya yang Tercoreng Bau Sungai yang Tak Kunjung Dibenahi

20 Februari 2026
Bayar STNK Sudah Bikin Pusing, Sekarang Mau Ditambah Parkir Setahun, Selalu Ada Cara Baru Nambah Beban Rakyat

Bayar STNK Sudah Bikin Pusing, Sekarang Mau Ditambah Parkir Setahun, Selalu Ada Cara Baru Nambah Beban Rakyat

22 Februari 2026
Sidoarjo dan Surabaya Isinya Salah Paham, Bikin Kecewa Saja (Unsplash)

Sidoarjo Nggak Perlu Capek-capek Saingan sama Surabaya, Cukup Perbaiki Jalan yang Lubangnya Bisa Buat Ternak Lele Saja Kami Sudah Bersyukur!

24 Februari 2026
Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah (Wikimedia Commons)

Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah

24 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi
  • Private Label Indomaret Penyelamat Hidup Saat Tanggal Tua Bulan Ramadan, Murah tapi Tak Murahan
  • Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang
  • Pahitnya Jadi Mahasiswa Kritis di UIN Makassar: Berujung Skors, Beasiswa Dicabut, hingga Kecewakan Orang Tua yang Seorang Guru Honorer
  • Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa
  • Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.