Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jangan Salahkan Orang Jakarta kalau Harga Makanan di Jogja Tak Ramah Warlok: Sebuah Pembelaan untuk Kaum Plat B

Dodik Suprayogi oleh Dodik Suprayogi
26 Juni 2026
A A
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan jakarta

Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Rasa-rasanya, tak elok menyalahkan orang Jakarta atas mahalnya harga makanan di Jogja, sebab akar masalahnya jadi tak tersentuh

Beberapa hari lalu, saya turun dari kereta di Stasiun Tugu untuk urusan pekerjaan di Jogja. Sebagai orang yang sudah lama tidak berkunjung, bayangan saya tentang Jogja masih sama seperti narasi romantis di media sosial, kota syahdu dengan biaya hidup yang selalu ramah di kantong.

Oleh karena ada waktu senggang di sela-sela urusan kerja, saya memutuskan untuk keliling sekitaran Jogja kota demi berburu kuliner. Melihat harga di lembar menu, saya sempat tertegun. Begitu menyandingkannya dengan realitas upah minimum di sini, saya langsung membatin, ini sih bukan harga buat warga lokal alias warlok.

Fenomena ini sering kali membuat sebagian orang menuding wisatawan, terutama rombongan pelat B alias orang Jakarta, sebagai biang keladi naiknya harga-harga. Padahal, kalau mau jujur, menuduh orang Jakarta adalah sebuah salah sasaran yang fatal.

Standar ganda Jogja

Memang harus diakui, kuliner Jogja tidak semuanya mahal. Ketika saya sempat melipir agak jauh ke area pinggiran, saya masih bisa menemukan warung-warung kecil yang menjual makanan dengan harga murah merakyat.

Masalahnya, begitu kita bergerak masuk ke area Jogja kota, harganya langsung melonjak berkali-kali lipat. Di sebuah kedai kopi di pusat kota tempat saya meluruskan kaki, saya mendengar grenengan sekumpulan anak muda di meja sebelah yang tampaknya sedang menghitung sisa uang saku bulanan mereka.

“Uang segini kalau di Jakarta ya wajar, lha ini di Jogja kok regane wis ngalah-ngalahi Jakarta to, Jess?” keluh salah satu dari mereka sambil geleng-geleng kepala melihat nota pembayaran.

Ini bukan lagi sekadar candaan sarkas, melainkan keluhan yang nyata. Jogja kota hari ini menjelma menjadi wilayah dengan dua wajah ekonomi yang timpang.

Baca Juga:

Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

Tinggal dekat Ringroad Barat itu nggak nyaman, tiap malam diteror suara blayer motor yang meresahkan

BACA JUGA: Jogja Itu Indah asalkan Kamu Nggak Keluar Rumah

Ironi angka pengeluaran di lembar BPS

Selama berada di Jogja, saya iseng membuka data BPS untuk memvalidasi keresahan saya. Menariknya, data BPS justru konsisten menunjukkan bahwa angka rata-rata pengeluaran per kapita atau rumah tangga di Jogja tergolong rendah jika dibandingkan dengan provinsi lain di Jawa.

Awalnya terdengar kontradiktif dengan mahalnya harga makanan di tengah kota yang saya temui. Namun setelah saya perhatikan polanya, semua jadi masuk akal.

Angka pengeluaran yang rendah itu bukan bukti bahwa semua harga barang di Jogja itu murah. Angka itu justru menjadi cerminan dari daya beli warga lokal yang memang dipaksa mengerem konsumsi karena pendapatan yang terbatas.

Warlok bukannya menikmati makanan murah di tengah kota, melainkan mereka memilih untuk menyingkir ke pinggiran atau memilih untuk tidak jajan di tempat-tempat yang harganya sudah ugal-ugalan.

Jangan kambinghitamkan wisatawan

Kembali ke urusan pelat B tadi. Sangat tidak adil rasanya jika setiap kenaikan harga makanan di Jogja kota selalu memicu gerundelan yang menyudutkan orang Jakarta.

Wisatawan datang ke Jogja hanya membawa daya beli mereka, mereka tidak punya otoritas untuk menentukan regulasi harga pasar atau menetapkan kebijakan upah daerah.

Mereka hanyalah konsumen pasif yang kebetulan punya anggaran lebih untuk bersenang-senang selama beberapa hari liburan.

Menyalahkan pendatang atas mahalnya harga makanan sama saja dengan mengabaikan akar masalah yang sebenarnya, kegagalan dalam mengimbangi pertumbuhan industri wisata dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi warganya sendiri.

Selama jurang antara upah lokal dan standar harga wisata di pusat kota terus melebar, maka selamanya pula makanan-makanan di Jogja kota hanya akan ramah bagi para pendatang seperti saya yang sedang singgah. Sementara bagi pemilik rumah yang asli, menu-menu itu akan tetap menjadi kemewahan yang berjarak.

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jogja Dijual (dan Sudah Laku), Warganya Cukup Jadi Penonton Sambil Ngontrak Saja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Juni 2026 oleh

Tags: harga makanan di jogjaJakartaJogja
Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Penggiat pertanian yang sedang menempuh pendidikan S2 Ilmu Ekonomi di Universitas Trisakti Jakarta.

ArtikelTerkait

Mie Ayam Jogja Ternyata Tak Seenak Reputasinya, Makan Sekali Langsung Kapok, Mie Ayam Malang Jauh Lebih Enak mie ayam solo

Mie Ayam Jogja dan Mie Ayam Solo: Begitu Berbeda, tapi Sama-sama Bikin Hati Tenang

27 Oktober 2025
Gudeg Adalah Makanan Khas Jogja Paling Mengecewakan (Unsplash)

Gudeg Adalah Makanan Khas Jogja Paling Mengecewakan, Mending Makan Mangut Lele atau Bakmi Jawa kalau Pertama Kali Kulineran di Jogja

9 Maret 2026
Wedang Ronde vs Bandrek Bu Dewarsi Pusaka Lidah Orang Jogja (Unsplash)

Bandrek Bu Dewarsi vs Wedang Ronde, Adu Mekanik Minuman Tradisional dan Pusaka Lidah Orang Jogja

3 Agustus 2024
Upah Minimum Jogja Memang Naik, tapi Bukan Berarti Buruh Nggak Boleh Protes, Ini Bukan Perkara Upah Semata, Bolo! UMP Jogja, gaji Jogja, frugal living ump jogja yogyakarta, bandung

UMP Jogja Memang Naik, tapi Tetap Saja Tak Ada Efeknya, Tetap Tak Bisa Beli Apa-apa!

1 Desember 2023
4 Jalan di Jakarta yang Jadi Arena Balap Liar dan Kebut-kebutan. Hati-hati kalau Lewat Sini

Sulitnya Nyetir di Jakarta: Salah Belok, Salah Jalur, Bisa Fatal!

23 September 2024
Warmindo di Pekalongan (Unsplash.com)

Beberapa Warmindo di Pekalongan Bukan Tempat yang Menyenangkan

19 Juni 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung Mojok.co

Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung

3 Agustus 2026
Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan lulusan UIN

Niat ikut organisasi mahasiswa di UIN cuma mau cari teman, malah jadi terpaksa ikut pengkaderan yang rumit

31 Juli 2026
4 hal yang tidak saya sangka bisa dilakukan driver ojek online selain mengantar penumpang dan makanan Mojok.co

4 hal yang tidak saya sangka bisa dilakukan driver ojek online selain mengantar penumpang dan makanan

1 Agustus 2026
Jalan Alternatif Jogjakarta-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

Jalan alternatif Jogja-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

2 Agustus 2026
Akal-akalan loker isi survei dan nonton iklan online, menyedot banyak kuota, tapi hasilnya cuma cukup buat beli es teh Mojok.co

Akal-akalan loker isi survei dan nonton iklan online, menyedot banyak kuota, tapi hasilnya cuma cukup buat beli es teh

6 Agustus 2026
Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang? (Unsplash)

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli apa-apa sudah bikin senang?

3 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.