Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jogja Dijual (dan Sudah Laku), Warganya Cukup Jadi Penonton Sambil Ngontrak Saja

Faiz Al Ghiffary oleh Faiz Al Ghiffary
4 Maret 2026
A A
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu lalu, seorang kawan lama semasa kuliah memutuskan balik ke Jogja. Niatnya mulia: pengin menetap dan membangun hidup di sini. Dia sudah hampir akad rumah di pinggiran Jogja. Sudah survei lokasi berulang kali, sudah menghitung cicilan sampai pusing, bahkan sudah membayangkan di sudut mana ia akan menaruh rak buku-buku Pramoedya Ananta Toer kesayangannya.

Sialnya, dua minggu sebelum tanda tangan, harga tanahnya mendadak naik. Alasannya? Ya, apalagi kalau bukan mantra sakti para spekulan: “STRATEGIS”. Katanya, kawasan itu bakal dekat akses wisata dan nggak jauh dari jalur tol yang entah kapan jadinya.

Kawan saya mundur teratur. Si penjual? Santai saja sambil bilang, “Masih banyak yang minat, Mas.”

Dan benar saja, rumah itu terjual kilat. Tapi bukan ke orang yang mau tinggal di sana, melainkan ke orang yang mau menjadikannya ladang sewa. Sebuah ironi yang hari ini jadi pemandangan biasa di Jogja.

Pariwisata yang wangi, tanah yang tak terbeli

Jogja hari ini terlalu sering dicitrakan sebagai kota yang ramah. Ramah buat belajar, ramah buat liburan, dan tentu saja—ramah buat investasi. Tapi jujur saja, Jogja makin nggak ramah untuk dimiliki warganya sendiri.

Harga tanah melompat seperti atlet parkour, sementara UMR Jogja jalannya pelan banget kayak siput lagi sariawan. Biaya pendidikan naik teratur sesuai kalender, dan di atas itu semua, pariwisata dipelihara habis-habisan sebagai mesin uang paling sah.

Yang terjepit siapa? Ya kita-kita ini, kelas menengah ngehe yang hidup dari gaji bulanan, percaya kalau ijazah adalah kunci sukses, dan masih nekat bermimpi punya rumah di kota tempat kita mencari nafkah. Secara administrasi mungkin kita nggak masuk kategori miskin, tapi secara struktural, kita ini nggak punya pijakan.

Tiap akhir pekan, plat kendaraan luar kota memenuhi jalanan. Hotel-hotel tumbuh subur, homestay estetik muncul di gang-gang yang dulunya sepi. Sawah-sawah pelan-pelan berubah fungsi: bukan lagi buat tanam padi, tapi buat tanam cuan.

Baca Juga:

Long Weekend Itu Memang Menyenangkan, kecuali untuk Warga Jogja

5 Keanehan Lokal Jogja yang Nggak Pernah Saya Temukan di Semarang tapi Malah Bikin Bahagia

Nggak ada yang salah dengan pariwisata. Dia buka lapangan kerja, dia menggerakkan ekonomi. Tapi kalau orientasinya cuma ngejar angka pertumbuhan tanpa mikirin keberlanjutan ruang hidup, yang terjadi adalah perang dingin antara “rumah” dan “penginapan”. Yang satu pengin menetap, yang satu cuma pengin menginap.

Masalahnya, dalam hukum pasar, “menginap” selalu jauh lebih menguntungkan daripada “menetap”.

Mitos naik kelas lewat ijazah

Kita, kelas menengah Jogja, lahir dari keyakinan purba: pendidikan adalah tangga untuk naik kelas. Kita kuliah, bayar UKT yang makin mencekik, bertahan di kos-kosan yang tarifnya naik tiap tahun, lalu lulus dengan gelar mentereng dan harapan setinggi langit.

Tapi setelah masuk dunia kerja—entah di kampus, kantor swasta, atau industri kreatif—kita baru sadar: gaji tetap ternyata nggak otomatis bikin hidup stabil. Ekonomi kota mungkin tumbuh, angka kunjungan wisata naik, PAD membaik, tapi stabilitas individu kita sering kali nggak ikut-ikutan.

Politik pertumbuhan kita sering berhenti di presentasi PowerPoint yang indah. Jarang banget ada yang tanya: Ada nggak sih kebijakan serius soal hunian terjangkau? Ada nggak pembatasan spekulasi lahan biar harganya nggak ngawur?

Baca halaman selanjutnya

Untuk hidup atau sekadar dikunjungi?

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 5 Maret 2026 oleh

Tags: harga tanah di jogjaJogjakuliah di jogjaumr jogja
Faiz Al Ghiffary

Faiz Al Ghiffary

Juru tulis perusahaan swasta. Hobi ngopi dan baca apa saja

ArtikelTerkait

Jogja Itu Nggak Istimewa dan Tidak Lagi Sama (Pexels)

Jogja Itu Nggak Istimewa dan Tidak Lagi Sama karena yang Istimewa Itu Orang-orangnya

10 Februari 2025
5 Tempat di Jogja yang Sebaiknya Tidak Dikunjungi terminal mojok.co

5 Tempat di Jogja yang Sebaiknya Tidak Dikunjungi

13 November 2021
Indomaret Yudonegaran Jogja Cabang Paling “Sultan”, Berada di Kompleks Tempat Tinggal Keluarga Kerajaan Mojok.co

Indomaret Yudonegaran Jogja Cabang Paling “Sultan”, Berada di Kompleks Tempat Tinggal Keluarga Kerajaan

25 April 2024
Membayangkan Tingkah Laku Upin Ipin dan Anak-anak Tadika Mesra kalau Punya Grup WhatsApp Mojok.co jogja kuliah di jogja

Membayangkan Tokoh Upin Ipin Kuliah di Jogja: Susanti Nongkrong di Bonbin, Ehsan Jadi Anak Amikom

21 Januari 2025
Penderitaan Orang Bantul yang Kuliah di Sleman (Unsplash)

Orang Bantul Kalau ke Sleman Rasanya Dekat, tapi Orang Sleman ke Bantul Rasanya Jauh Banget: Penderitaan Mahasiswa Nglaju PP

20 November 2025
Cafe Terdekat di Jogja yang Menyimpan Misteri Pohon Ketapang (Unsplash)

Menguak Misteri Pohon Ketapang di Beberapa Cafe Terdekat dari Tempat Tinggal Saya di Jogja

9 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokal Mojok.co

Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokalnya

11 Mei 2026
Motor dan Helm Hilang Itu Hal Biasa di UNY, Fungsi Satpamnya Saja Juga Ikutan Hilang

Motor dan Helm Hilang Itu Hal Biasa di UNY, Fungsi Satpamnya Saja Juga Ikutan Hilang

9 Mei 2026
Menyesal Beli Motor Impian Honda Astrea Prima karena Akhirnya Cuma Nambah Beban Hidup Mojok.co astrea bulus

Astrea Bulus 1991 yang Saya Beli Lima Juta, Dibilang Teman “Ora Jaman”, Ternyata Malah Jadi Motor Paling Masuk Akal Buat Saya

5 Mei 2026
Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Hantavirus (Unsplash)

Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Hantavirus: Pertama, Please, Jangan Panik

8 Mei 2026
Alumni UT Nggak Ribut Soal Almamater, Tahu-tahu Hidupnya “Naik Kelas” Terminal

Alumni UT Nggak Ribut Soal Almamater, Tahu-tahu Hidupnya “Naik Kelas”

11 Mei 2026
Saatnya Warga Bantul Berbangga dengan Embung Potorono yang Bisa Membuat Warga Sleman Iri

Saatnya Warga Bantul Berbangga dengan Embung Potorono yang Bisa Membuat Warga Sleman Iri

6 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada
  • Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa
  • Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung
  • Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus
  • Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga
  • Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.