Saya lebih senang Stasiun Purwosari daripada Stasiun Solo Balapan.
Stasiun Solo Balapan itu megah. Stasiun kebanggaan warga Solo yang punya arsitektur gagah ini memang pantas jadi wajah pertama yang menyapa para pendatang.
Lalu-lalang penumpang dengan bumbu pertemuan dan perpisahan jadi pemandangan sehari-hari di sana. Stasiun Solo Balapan memang gemilang menjalankan tugasnya sebagai gerbang utama kota.
Akan tetapi, buat mereka yang lebih suka suasana tenang, ada kalanya stasiun sebesar itu terasa terlalu ramai buat sekadar menikmati momen pulang atau berangkat. Nah, di saat suasana syahdu lebih dirindukan, Stasiun Purwosari hadir sebagai penyelamat.
#1 Stasiun Purwosari punya skala yang lebih manusiawi, terutama bagi jiwa yang nggak muda lagi
Berlarian mengejar kereta di stasiun yang terlalu luas kadang bikin napas tersengal dan lutut gemetar. Apalagi kalau sudah mulai memasuki usia kepala empat. Drama menggeret koper ke sana-sini, ditambah harus naik-turun eskalator, rasanya benar-benar menguras tenaga dan bikin pundak encok seketika.
Untungnya, semua adegan menyebalkan tersebut nggak pernah terjadi kala menginjakkan kaki di Stasiun Purwosari. Memang, ukurannya jauh lebih mungil dibanding Stasiun Solo Balapan yang namanya legendaris berkat lagu Didi Kempot itu. Tapi, justru karena kecil itulah, banyak orang yang malah makin sayang pada Stasiun Purwosari.
Luasnya jauh dari kata mengintimidasi, membuat setiap langkah terasa lebih tenang dan nggak terburu-buru. Jarak dari parkiran sampai ke pintu masuk pun selemparan batu saja. Jadi, jangan heran apabila turun kereta dari stasiun ini serasa sedang berjalan di koridor rumah sendiri.
#2 Kepadatan Stasiun Purwosari lebih terukur, cocok dengan citra Solo sebagai kota yang tentram
Kalau Stasiun Solo Balapan adalah pusat keramaian yang terkadang bikin panik, Stasiun Purwosari adalah antitesis yang sangat dibutuhkan. Kepadatan di sini jauh lebih bisa ditoleransi. Penumpang nggak akan terjebak dalam arus manusia yang saling sikut demi mengejar gerbong kereta.
Ditambah, suasananya jauh lebih slow-paced. Ini sangat selaras dengan citra Solo sebagai kota yang tentram dan nggak neko-neko. Antrean masuknya nggak mengular seperti antre bantuan sembako. Pun, ruang tunggu selalu punya cukup sisa kursi bagi mereka yang ingin duduk diam tanpa diganggu bisingnya hiruk-pikuk kota besar.
#3 Kenangan historis hangat yang lebih intim di Stasiun Purwosari
Meski lokasinya masih satu kota, Stasiun Purwosari punya aroma sejarah yang jauh lebih intim. Usianya memang sudah sepuh. Namun, stasiun ini nggak sok pamer atau mentereng. Sebaliknya, setiap sudut bangunannya justru terasa hangat.
Tempat ini seolah-olah sedang menyimpan banyak cerita yang enggan diumbar ke orang asing. Apalagi, kehadiran Sepur Kluthuk Jaladara di sini bikin pengalaman visualnya jadi lebih personal. Keunikan tersebut jelas merupakan sesuatu yang sulit ditemukan di tengah keriuhan stasiun manapun.
Berbeda jauh dengan stasiun-stasiun modern yang arsitekturnya sering kali terasa dingin dan kaku, Stasiun Purwosari benar-benar punya nyawa. Duduk tenang di sini sambil menunggu kereta datang saja sudah bikin perasaan jadi beda. Penumpang bukan lagi sekadar objek transit yang cuma dicatat dalam sistem. Tapi, benar-benar merasa sedang menjadi bagian dari sejarah kota ini.
#4 Memanjakan telinga penumpang dengan live music dari seniman lokal
Menunggu kereta sambil ditemani petikan gitar akustik dari seniman lokal itu definisi kemewahan yang sederhana tapi mengena di Stasiun Purwosari. Rasanya, waktu tunggu yang biasanya membosankan jadi terasa lebih hidup. Dibanding harus menahan telinga mendengar jingle iklan berulang-ulang dari pengeras suara, alunan musik langsung ini jauh lebih menenangkan. Bahkan terasa seperti hadiah istimewa buat mereka yang mau bepergian.
Serunya lagi, pengunjung bisa request lagu favorit tanpa dipatok bayaran tertentu. Plus, dimanjakan dengan performa mereka yang asyik dilihat khas pemusik vintage. Jujur, suasana di peron jadi berubah total. Rasanya bukan lagi seperti sedang di stasiun buat menanti transportasi umum, lebih seperti lagi nongkrong santai di kafe terbuka yang nyaman.
Buat tipe pelancong yang ingin merasakan riuhnya kota besar sebagai penyambut kedatangan, Stasiun Solo Balapan tentu nggak akan pernah tergantikan. Namun, buat mereka yang mendambakan aroma kearifan lokal yang lebih kental, Stasiun Purwosari adalah pelabuhan yang paling masuk akal.
Jadi, sesekali bolehlah turun di Stasiun Purwosari dan duduk sedikit lebih lama di peronnya. Niscaya, stasiun kecil itu akan memberi perspektif baru pada setiap mata yang memandang tentang arti kata pulang.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Stasiun Lempuyangan Jogja, Stasiun Sederhana Saksi Pertemuan yang Manis dan Perpisahan yang Tragis.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













