Kalau semua orang Sumatera Selatan ngaku dari Palembang, lalu kapan orang-orang bakal kenal daerah lain di Sumatera Selatan?
“Kamu dari Palembang? Sama nih.”
“Wah, Palembang di mananya, Kak? Desember nanti aku pulang ke Gandus.”
“Oh, aku di Muara Enim, ehehe.”
Percakapan macam di atas bukan sekali dua kali saya dengar juga alami. Sebagai keturunan suku Melayu Palembang dan Lahat yang hanya memilih untuk mengaku orang Palembang kalau sedang membahas pempek, tekwan, dan antu banyu — saya selalu bingung dengan kebiasaan tersebut.
Kalau alasannya untuk mempermudah orang luar memahami asal daerah lantaran nama Palembang lebih familier dan populer sih, saya masih bisa memafhumi. Namun, yang sering bikin heran, ihwal ini juga kerap terjadi ketika mengobrol dengan sesama orang Sumatera Selatan. Kan kocak.
Padahal ngobrol sesama orang Sumsel, tetapi enggan mengakui asal daerah sendiri
Selama berkuliah di Universitas Lampung, provinsi tetangga yang secara historis merupakan hasil pemekaran Sumatera Selatan, berulang kali saya mendapati fenomena ini.
Banyak mahasiswa yang awalnya mengaku dari Palembang. Belakangan, baru saya tahu asalnya dari Prabumulih, Lahat, Pagar Alam, Lubuk Linggau, Muara Enim, dan daerah-daerah lainnya di Sumsel.
Padahal, saya sudah lebih dulu memperkenalkan diri sebagai orang Lahat dan senang sekali apabila bertemu dengan sesama jeme (orang) dusun. Berkat pengakuan itu pula, saya jadi punya kawan serumpun yang lebih akrab dengan bahasa Melayu berakhiran ê (e pepet).
Mau tak mau saya jadi bertanya-tanya dalam hati. Apakah kalau mengaku dari Palembang derajatnya meninggi? Jadi lebih bergengsi karena ibu kota provinsi?
Palembang dianggap mewakili seluruh Sumatera Selatan
Lantaran dilanda penasaran, saya sempat menyelam ke beberapa postingan di media sosial yang membahas kebiasaan orang Sumsel mengaku-ngaku dari Palembang ini. Banyak yang relate, sudah pasti. Komentarnya pun beragam.
Selain malas menjelaskan kepada orang awam, ada pula yang memberi alasan bahwa Palembang dulunya merupakan pusat Kesultanan Palembang Darussalam. Dengan demikian, Kota Palembang adalah milik semua warga Sumsel. Nggak harus tinggal di Palembang atau bersuku Melayu Palembang untuk mengaku sebagai orang Palembang.
Meskipun mencoba untuk berpengertian, jujur, tetap saja saya merasa ganjil. Lantas, buat apalah dipisah-pisah identitas antarkota dan kabupaten kalau pada akhirnya semua mengaku wong Palembang? Bagaimana kita mau mengenalkan asal daerah sendiri kepada orang luar kalau mengakuinya saja ogah-ogahan?
Tahu kok, tahu, fenomena ini nggak hanya terjadi pada Sumsel. Sebutlah saja tetangga sepulau. Sumatera Utara sering diidentikkan dengan Medan, sedangkan Sumatera Barat kerap disamakan dengan Padang. Nama kota yang lebih terkenal akhirnya menjadi representasi tunggal yang menutupi identitas provinsi itu sendiri.
Sampai-sampai Palembang dikira nama provinsi
Justru itu. Hanya karena daerah lain juga mengalaminya, bukan berarti harus dianggap biasa. Sebelas dua belas dengan pemangkasan kata “Bandar” dari Kota Bandar Lampung, hanya saja konteksnya berkebalikan. Kalau Lampung sering dikira kota, Medan, Padang, dan Palembang malah kerap dikira provinsi.
Hasil pemekaran yang juga berbatasan langsung ini pun sering saling krisis identitasnya. Masyarakat kedua provinsi pasti lebih akrab dengan rute Palembang-Lampung ketimbang Sumatera Selatan-Lampung atau Palembang-Bandar Lampung. Lebih simpel memang, tetapi juga ambigu karena menyandingkan nama kota dengan nama provinsi.
Kerancuan semacam ini bukan perihal baru. Salah satu contoh yang pernah menghebohkan publik ialah ketika Jokowi salah menyebut “Provinsi Padang” saat meninjau pembangunan Jalan Tol Trans-Sumatera ruas Pekanbaru-Padang pada 19 Mei 2021. Melansir CNN, Kepala Sekretariat Presiden kala itu, Heru Budi Hartono, sampai mengklarifikasi.
Kota Palembang pun tidak luput dari kasus kesalahan serupa. Penggunaan istilah “Provinsi Palembang” lumayan gampang ditemukan di laman pencarian Google. Mulai dari artikel BBC hingga PPID Kota Serang, menyasar pula ke skripsi dan artikel ilmiah.
Yang membuat saya makin takjub, nggak sedikit penggunaan “Provinsi Palembang” justru dilakukan oleh mahasiswa asal Sumatera Selatan itu sendiri.
Tentu saya nggak bisa memastikan penyebab atas kekeliruan tersebut. Yang jelas, batas antara identitas Kota Palembang dan Provinsi Sumatera Selatan menjadi kabur. Ketika nama sebuah kota terus-terusan dipakai untuk mewakili satu provinsi, tak heran apabila sebagian orang akhirnya mencampuradukkan keduanya.
Bodo amat orang nggak paham, tinggal kasih paham
Pada akhirnya, persoalan yang saya bahas bukan benar atau salah mengaku dari Palembang. Hanya saja rasanya sayang kalau daerah-daerah lain di Sumatera Selatan perlahan menghilang dari obrolan lantaran warganya sendiri lebih memilih memakai identitas yang dianggap paling familier.
Sampai kapan coba kita terus beralasan “biar gampang” atau “biar cepat”? Kalau semua orang Baturaja mengaku Palembang, semua orang Sekayu mengaku Palembang, dan semua orang Tebing Tinggi mengaku Palembang, kapan daerah-daerah itu akan dikenal orang awam?
Jangankan ketika saya magang di seberang pulau, selama sekolah dan kuliah di Kota Bandar Lampung pun, banyak yang merasa asing dengan nama Lahat apalagi subsuku Kikim. Boro-boro tahu. Yang ada malah saya dikira sedang membicarakan “liang lahat”.
Kalau memang harus menjelaskan lebih panjang, ya tinggal saya jelaskan saja. Bodo amat manjangin tali kelambu. Bukankah itu justru kesempatan bagus untuk mengenalkan daerah sendiri kepada orang lain?
Lagi pula, memang seribet apa sih secara jujur memberitahu asal suku dan daerah, apalagi yang jarak tempuhnya bisa berjam-jam dari kota yang awalnya disebutkan?
Saya bangga menjadi jeme dusun. Saya bangga berasal dari Kikim Timur Lahat, kendati setiap kali pulang kampung, pemandangan yang saya dapati hanyalah kebun-kebun karet dan kopi yang perlahan berganti menjadi hamparan sawit.
Soalnya, kalau kita sendiri terus-terusan memilih menjadi wong Palembang, daerah lain di Sumatera Selatan kapan dikenalnya?
Penulis: Siti Atika Azzahrah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Palembang Bikin Pangling, Banyak Berubah padahal Baru Ditinggal Merantau Setahun
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













