Merasa Gagal Jadi Musisi? Belajarlah pada Kale di Film NKCTHI!

Awalnya saya seperti Kale yang berambisi untuk jadi musisi. Saya pernah main band, tapi sering kali nggak cocok. Mencoba jadi musisi solo, tapi lagu yang saya buat terlalu jelek untuk disebarluaskan.

Featured

Avatar

Sudah lebih dari satu pekan, hegemoni film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) besutan Angga Dwimas Sasongko menguasai bioskop-bioskop. Film yang bercerita tentang dinamika permasalahan keluarga, dan bagaimana beban masing-masing anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu ini memang membawa warna baru bagi dunia film. Belum ada film yang sekompleks ini membahas hal-hal itu. Nggak hanya itu, dari segi penonton, film ini juga sudah hampir menyentuh angka satu juta penonton. Sebuah pencapaian yang sangat pantas, mengingat ceritanya begitu kuat.

Perhatian penonton paling banyak tertuju pada tokoh Kale (diperankan oleh Arditho Pramono) dan Awan (diperankan oleh Rachel Amanda). Perhatian Kale kepada Awan, serta harapan berlebih Awan terhadap Kale juga menjadi salah satu highlight dari keseluruhan cerita di film tersebut. Saya juga memperhatikan Kale, tetapi bukan perkara hubungan dia dengan Awan di film ini. Saya memperhatikan Kale karena salah satunya dia (Ardhito Pramono) menambah daftar musisi yang mampu berakting dengan ciamik, setelah Jason Ranti, dan Danilla Riyadi.

Satu hal lagi yang membuat tokoh Kale cukup terpatri dalam pikiran saya adalah ketika scene Kale berbicara dengan Awan setelah bertemu pertama kali di sebuah konser. Dalam scene itu, Kale diceritakan bertemu dengan Awan di sebuah konser yang dibuat oleh kakaknya Awan, Angkasa. Kale di situ adala manajer dari band bernama “Arah” yang juga bermain dalam konser tersebut. Band “Arah” adalah band favorit Awan. Ketemulah mereka berdua. Setelah konser, mereka berdua ngobrol-ngobrol banyak hal.

Ada satu pembicaraan yang paling menusuk dan merasuki pikiran saya adalah ketika Awan bertanya kepada Kale kenapa bisa sampai jadi manajer band. Kale menjawab dengan panjang lebar bahwa dulunya Kale adalah musisi. Sudah mencoba jadi musisi solo, mencoba juga jadi vokalis band, tetapi tetap gagal. Setelah itu, dia tahu bahwa manajer band “Arah” sebelumnya memutuskan keluar, dan berhubung Kale adalah teman dari anak-anak “Arah”, jadilah Kale menjadi manajer band “Arah” dan sedikit berdamai dengan kegagalannya jadi musisi panggung.

Baca Juga:  Ngomongin Anya Geraldine yang Ngakunya Seorang Fakgirl

Inilah scene yang paling saya ingat sampai sekarang. Scene ini juga yang seperti memecut saya untuk sadar bahwa terlalu ambisius untuk jadi sesuatu itu kadang nggak baik. Kadang kita harus berdamai dan mengambil jalan lain yang tidak populer. Dalam kasus ini, awalnya saya seperti Kale yang berambisi untuk jadi musisi. Saya juga pernah main band, tapi sering kali nggak cocok. Menjadi musisi solo juga sudah saya coba, tetapi beberapa lagu yang saya buat terlalu jelek untuk disebarluaskan. Bahkan disebarkan ke teman-teman sendiri pun rasanya nggak pantas.

Maka dari itu, saya mulai sedikit berdamai dengan kegagalan itu dan mulai mencoba mengambil jalan lain. Saya mulai dengan menjadi kru di band teman-teman saya. Kru apa pun itu. Bantu-bantu setting drum, gitar, dan lain-lain lah. Saya juga tertarik untuk belajar manajerial band. Ya pokoknya masih berkecimpung di dunia musik lah. Saya juga lagi belajar untuk menulis musik, sebuah “profesi” yang juga saya impikan dari dulu, selain jadi musisi. Siapa tahu saya bisa sukses jadi manajer band, atau penulis musik, atau jadi kru band yang sukses juga bisa. Kale saja bisa, kenapa saya nggak bisa?

Apa yang dialami Kale seakan menunjukkan bahwa menjadi seorang rockstar itu nggak melulu ada di atas panggung, bernyanyi, memetik gitar, atau menggebuk drum. Seorang manajer band, kru, bahkan sound engineer juga bisa disebut sebagai rockstar ketika melakukan tugasnya dengan baik. Musisi di panggung juga nggak akan sukses tanpa adanya manajer, kru panggung, atau sound engineer. Kale di film itu, meskipun dia manajer, dia juga bisa disebut sebagai rockstar (terlepas dari Arditho Pramono yang memang seorang musisi hebat). Saya pun bisa sebenarnya, kalau mengikuti jalan hidupnya Kale dalam berkarir.

Baca Juga:  Yang Jokowi Maksud dengan “Memerintah Tanpa Beban”

Memang menjadi orang belakang panggung itu bukan pilihan yang populer. Sangat sedikit orang yang bercita-cita menjadi manajer band, atau menjadi sound engineer saat ini. Semuanya masih ingin menjadi musisi. Padahal, menjadi manajer, kru, atau sound engineer juga bisa jadi sukses dan terkenal. Tinggal bagaimana kinerja kita saja, bagus atau nggak. Dimulai dari saya, mungkin saya akan mencoba memilih jalan yang nggak populer itu. Saya akan belajar dari Kale.

BACA JUGA Jadi Musisi Itu Lebih Menjanjikan daripada Jadi Presiden atau tulisan Iqbal AR lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
5

Komentar

Comments are closed.