Penyusun Daftar Lagu di Mobil, Antara Dibenci dan Dipuji

Featured

Avatar

Sebelum melakukan perjalanan, selain memastikan kondisi kendaraan dan pengendara laik jalan, menyiapkan daftar lagu untuk didengarkan sepanjang perjalanan juga tidak kalah penting. Biasanya tugas menjadi “produser” daftar lagu ini diemban oleh orang yang duduk di kursi depan, sebelah sopir. Setelah kemunculan berbagai aplikasi musik streaming, fungsi penyusun daftar lagu menjadi lebih krusial. Sebab lagu bisa kamu susun sesuka-hati.

Menjadi penyusun daftar lagu merupakan sebuah kehormatan. Bayangkan, kamu bisa menjadi pengendali mood seisi mobil selama kendaraan melaju. Sebuah tugas yang tidak mudah juga mulia. Butuh kepiawaian dan kecakapan dalam menyusun daftar lagu yang cocok bagi telinga penumpang lainnya.

Dalam menyusun daftar lagu, kamu juga tidak sekadar menimbang antara lagu yang enak dan tidak sesuai seleramu. Kamu harus paham sifat-sifat penumpang yang selera musiknya cukup majemuk itu. Misal, si A adalah penyuka musik pop, si B pendengar musik rock, dan si C pecinta dangdut. Kamu sebagai produser di mobil tersebut dipaksa mengakomodir semua selera musik tersebut.

Pernah naik bus antar-kota? Pernah dipaksa mendengar lagu dangdut koplo sepanjang perjalanan? Nah, itu adalah contoh manajemen daftar lagu yang amat buruk. Si sopir atau kernet, yang biasa memegang kendali perlaguan di sepanjang perjalanan biasanya hanya memutar lagu-lagu yang ia sukai saja. Persetan dengan telinga penumpang lainnya. Padahal, menganggu pendengar dan kenyamanan orang lain juga termasuk perbuatan yang zalim.

Berangkat dari contoh buruk tersebut dan ketidakinginan menjadi seorang yang zalim, kamu harus berusaha keras menyusun daftar lagu yang dapat menyenangkan semua orang. Di sini pengetahuan musikmu akan diuji. Seberapa luas kamu mengenal lagu-lagu, lagu apa yang cocok membangkitkan mood, atau lagu apa yang bisa dinyanyikan oleh seluruh penumpang sehingga perjalanan terasa sangat menyenangkan.

Baca Juga:  Ketika Seorang Imam Besar yang Juga Gurunya Imam Syafii Dianggap Menista Nabi Muhammad

Selain memerhatikan selera musik masing-masing penumpang, kamu juga harus bisa menganalisa keadaan. Misalkan ketika jalanan macet total, kamu harus bijaksana dengan tidak memutar lagu-lagu black metal yang bisa membuat senewen seisi mobil. Atau ketika malam hari dan kendaraan memasuki daerah hutan yang gelap dan sepi, kamu malah memutar lagu Lingsir Wengi. Sama sekali tidak bijak.

Jika sekali saja kamu melakukan kesalahan dalam menyusun daftar lagu yang membuat mood seisi mobil rusak, kamu akan dicap tidak becus dan kehilangan kepercayaan. Terburuk, kamu akan dicap memiliki selera musik yang buruk. Ketahuilah, dianggap memiliki selera musik yang buruk tidak lebih menyenangkan ketimbang diselingkuhi.

Alangkah lebih baik, sebelum melakukan perjalanan, kamu harus melakukan riset terlebih dahulu. Siapa saja yang akan menjadi penumpang lengkap dengan selera musik mereka. Selain itu, kamu juga harus tahu lagu apa yang tengah mereka dengarkan belakangan ini. Apakah lagu-lagu hits kekinian, atau lagu-lagu lawas. Jangan pernah menebak-nebak terkait selera lagu orang!

Saya pernah memiliki pengalaman buruk terkait menyusun daftar lagu. Ketika itu saya dan beberapa rekan akan melakukan perjalanan yang cukup jauh, dari Jakarta ke Surabaya. Ada sekian jam yang akan saya habiskan di perjalanan bersama rekan-rekan tersebut. Bermodal sok tahu, saya menyusun daftar lagu yang saya pikir akan disukai oleh rekan-rekan. Ternyata setelah beberapa belas lagu diperdengarkan silih bergantian, rekan-rekan saya satu-persatu memasang headset-nya masing-masing, dan tampak asyik dengan lagu yang mereka putar dari ponselnya sendiri. Setelah itu, perjalanan terasa hambar, lagu-lagu yang saya putar hanya didengar oleh saya sendiri dan Pak Sopir yang suka-tidak suka harus terpaksa mendengarkan lagu-lagu tersebut.

Baca Juga:  Mengapa Lulusan Fakultas Filsafat UGM Bisa Sukses Nyaris di Segala Bidang?

Itu belum seberapa. Keadaan akan semakin menyebalkan jika ada rekanmu yang nyeletuk: selera lagumu kok aneh! Dalam kasus saya, rekan-rekan seperjalanan menyebut selera lagu saya “tua”.

Padahal, menurut saya, lagu-lagu yang saya putar itu sudah yang paling enak dan keren. Tapi kembali lagi: kita tidak bisa memaksakan selera musik seseorang. Bagi beberapa orang, musik sudah seperti doa. Begitu sakral. Dan kesakralan itu hanya ia dan kupingnya yang bisa memahami. Lainnya tidak.

Sebab memiliki pengalaman buruk dalam menyusun daftar lagu tersebut, saya memutuskan untuk lebih berhati-hati dalam perjalanan selanjutnya. Jika tidak ingin repot, saya serahkan saja tugas penyusun daftar lagu pada orang lain. Dengan risiko lagu-lagu yang ia putar tidak masuk dengan selera saya.

Beruntunglah kamu jika rekan seperjalanan memiliki selera musik yang sama, atau nyaris sama. Dengan begitu, kemungkinan besar ia akan menyukai lagu-lagu yang kamu sukai juga.

Begitulah suka dan duka menjadi penyusun daftar lagu di sebuah perjalanan. Kamu akan sangat disukai jika berhasil menyusun daftar lagu yang sesuai, tapi akan dianggap mengganggu jika melakukan hal sebaliknya. Jika ingin bermain aman, setel saja radio dan serahkan susunan daftar lagu oleh produser. Selesai.

BACA JUGA Lagu Dangdut: Satu Lagu Sejuta Penyanyi atau tulisan Adia Puja lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
10


Komentar

Comments are closed.