Ada yang suka naik Bluebird juga?
Sejujurnya, saya ini penganut sekte kereta api garis keras. Selama jarak tempuhnya masih masuk akal, saya pasti memilih duduk manis di gerbong ketimbang harus terbang. Alasannya bukan cuma sekadar faktor finansial. Tapi, juga proses check-in kereta api yang jauh lebih manusiawi.
Akan tetapi, mau saya turun di peron stasiun yang riuh atau terminal kedatangan bandara yang dingin, pilihan tunggangan untuk sampai ke tujuan akhir selalu berujung sama. Meski banyak sopir taksi online langsung berebut di pintu keluar demi menawarkan jasa, langkah kaki saya tetap menuju deretan taksi biru, Bluebird.
Pemandangannya pun unik. Petugas lounge yang berperan memanggil armada, sering kali terlihat anteng. Seolah mereka nggak butuh-butuh amat mencari penumpang. Sialnya, Bluebird selalu memenangkan hati saya untuk menuntaskan perjalanan.
Etika sopir Bluebird yang jempolan, bukan gimmik demi rating bintang lima
Sopir Bluebird punya standar perilaku beda kelas. Saya perhatikan, nggak ada sopir yang menggantungkan pewangi Stella jeruk. Mereka juga nggak pernah pakai parfum menyengat. Ini poin plus buat penumpang yang punya kecenderungan mabuk perjalanan seperti saya.
Herannya lagi, mungkin mereka juga ditatar jadi cenayang saat pelatihan. Pasalnya, setiap pengemudi yang saya temui, tahu kapan harus meladeni omongan dan kapan harus membiarkan penumpang menikmati keheningan.
Ditambah, sopir selalu siaga membantu mengangkat dan menurunkan barang meskipun saya cuma membawa koper kabin. Pintu pun selalu dibukakan apabila penumpang terlihat repot. Sebelum turun, mereka juga senantiasa mengingatkan barang bawaan supaya nggak ada yang tertinggal.
Pendek kata, kesopanan adalah prosedur tetap Bluebird. Bukan sekadar akting demi mengemis rating bintang lima.
Faktor keamanan yang terpercaya, dari tidur pulas sampai barang tertinggal yang selama
Salah satu kemewahan naik taksi biru adalah rasa aman. Identitas sopir taksi yang jelas dan sistem perusahaan yang sudah mapan membuat saya bisa dengan tenang memejamkan mata sejenak di kursi belakang walau hari telah larut. Nggak perlu waswas sambil memelototi GPS buat memastikan rute.
Kepercayaan saya pada Bluebird makin solid berkat satu kejadian yang membekas. Suatu kali, ponsel saya tertinggal di area bandara lantaran saya mau keluar sebentar untuk mencari makan di mal terdekat.
Saya menyadari kecerobohan itu saat taksi sudah melaju dari mal. Untungnya, sopir Bluebird lain yang sedang mangkal di parkiran mal sigap membantu menghubungi rekan sejawatnya untuk berkoordinasi dengan petugas bandara.
Berkat solidaritas dan jaringan koordinasi karyawan Bluebird yang mantap, ponsel saya akhirnya berhasil terselamatkan. Saya seketika sadar bahwa nominal yang saya bayar di layar argo bukan sekadar penukar bensin atau jasa mengemudi. Melainkan sebuah integritas yang nggak bisa terganti.
Baca juga 5 Dosa Sopir Taksi Online yang Bikin Penumpang Nggak Nyaman.
Fleksibilitas harga dari sopir Bluebird yang ada di bandara
Ada momen di mana sopir Bluebird mendadak jadi konsultan keuangan. Pengalaman ini saya alami sendiri di bandara. Begitu pintu mobil tertutup rapat, sopir nggak buru-buru tancap gas. Alih-alih, dia malah menawarkan pilihan yang cukup mengejutkan dengan bertanya apakah saya mau tetap pakai tarif borongan sesuai standar pool bandara atau pakai argometer saja.
Bahkan, pengemudi tersebut menyarankan saya untuk menggunakan argo. Alasannya, jarak tujuan saya ternyata nggak jauh-jauh amat dari bandara. Sementara tarif tetap dari pool punya selisih harga yang lumayan bikin kantong meringis.
Saya pribadi kurang paham apakah aksi buka kartu begini diperbolehkan atau nggak. Tapi, kejujuran sopir yang lebih memilih membela kepentingan penumpang daripada sekadar mengejar setoran itu sungguh bikin saya salut.
Kalau beruntung, bisa dapat bonus air mineral gratis
Kalau semesta sedang berpihak, jangan kaget jika di sisi belakang jok kursi penumpang depan terpasang kantong untuk memajang sejumlah botol air mineral kemasan. Dengar dari sopir Bluebird, memang nggak semua armada diberi fasilitas tersebut. Konon, hanya taksi yang punya nomor lambung berawalan angka tiga yang disediakan air dari sponsor.
Mungkin kedengaran sepele. Namun, mendapatkan air minum gratis setelah tenggorokan kering dihajar AC pesawat atau debu stasiun itu rasanya seperti mendapat oase di tengah padang pasir. Keberuntungan kecil ini sering kali menjadi pelengkap manis yang membuat perjalanan menuju tujuan terasa jauh lebih melegakan.
Buat saya, memilih armada biru di gerbang kepulangan adalah bentuk kasih sayang paling nyata terhadap diri sendiri. Sebab, kadang yang dibutuhkan penumpang setelah turun dari kereta atau pesawat bukanlah tarif yang paling murah. Namun, kedamaian batin bahwa perjalanan ini akan berakhir dengan nyaman tanpa gangguan.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Menyebalkannya Orang-Orang Suka Maksa di Terminal Purabaya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













