Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Menggugat Aktris dan Influencer yang Sok-sokan Jadi Messiah di Tengah Masyarakat Miskin

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
31 Agustus 2021
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Merasa diri sendiri adalah seorang messiah, sang juru selamat, itu sungguh memuakkan.

Siang hari di tengah vertigo dan deadline, salah seorang sahabat mengirimi saya link Instagram. Ternyata link tersebut berisi unggahan salah seorang aktris yang tengah membicarakan suaminya yang juga produser dan sutradara film. Tahu, lah, siapa pasangan ini. Dalam unggahan itu, si aktris membicarakan mimpi sang suami saat ingin membeli lahan kosong di area pedesaan.

Sang suami bermimpi, blio ingin memajukan masyarakat desa di sekitar lahan tersebut lewat sektor pariwisata. Sang suami membandingkan lahan tersebut dengan “kesuksesannya” memajukan masyarakat desa di lokasi lain. Yang saya tangkap, sang suami tadi merasa datang sebagai penyelamat di tengah masyarakat desa yang terkesan terbelakang secara ekonomi.

Hebat sekali! Itulah yang diungkapkan follower akun Instagram aktris tadi. Mereka memuja sang suami sebagai seorang filantropis yang luar biasa mulia. Namun, saya malah merasa risih dengan argumen sang suami. 

Mungkin Anda berpikir saya iri dengan suami aktris tadi, dan memandang buruk rencana mulia blio. Tapi, mari saya bawa menuju realita yang menunjukkan aksi filantropis macam itu hanya manis di kulit. Mimpi memajukan masyarakat dengan aksi filantropis ala aktris, public figure, dan  influencer hanyalah mimpi utopis yang berakhir menyebalkan.

Pasalnya, yang saya lihat adalah karakter messiah complex. Mentalitas ini memandang diri sendiri superior di tengah masyarakat dan merasa dirinya “terpilih” untuk menyelamatkan masyarakat yang dipandang rendah itu. Dan saya melihat, messiah complex ini cenderung memuakkan.

Lantaran merasa diri sebagai messiah alias juru selamat, maka mereka merasa mampu menyelamatkan masyarakat di sebuah daerah dengan cara mereka sendiri. Nah, ini harus ditekankan: dengan cara mereka. Bukan berdasarkan karakteristik dan kearifan lokal daerah tersebut. Bukan berdasarkan pengamatan mengenai karakter bumi dan masyarakat yang ingin mereka angkat derajatnya.

Para messiah wannabe ini hidup di luar masyarakat yang mereka tolong, bala bantuan yang dikirim juga berdasarkan cara pikir mereka. Cara pikir kelompok masyarakat ekonomi atas yang tidak jauh dari pemenuhan kebutuhan tersier. Sedangkan masyarakat yang ingin mereka tolong masih bermasalah dengan ketimpangan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan dasar.

Baca Juga:

Sebaiknya Warga Malang Tidak Terlalu Marah kalau Matos Disebut sebagai Mall Terkecil, Masih Banyak Urusan Lain yang Lebih Penting

Saya Lebih Percaya Dokter Tirta daripada Influencer Kesehatan Lainnya, To The Point, dan Walk The Talk!

Akhirnya, giat filantropis mereka berakhir seperti monumen saja. Terlihat megah dan indah, tapi hanya sebatas itu fungsinya. Meskipun mereka memandang sumbangan mereka akan memajukan masyarakat, yah realitanya malah melahirkan ketimpangan lebih parah. Baik sosial atau ekonomi.

Ini melahirkan masalah kedua, yaitu gentrifikasi. Ini sudah jadi isu lama, tapi sering terlambat untuk disadari. Ya, terlambat karena kemunculannya diawali romantisasi juru selamat para kaum berada ini. Mereka merangsek masuk ke sebuah daerah dengan ekonomi rendah, lalu melakukan pembangunan seturut ideal mereka.

Pembangunan ini difungsikan demi kebutuhan masyarakat kelas atas, misal pariwisata. Nah, masyarakat asli daerah tersebut tidak serta merta mampu mengakses potensi yang dibangun. Entah karena tidak mampu mengimbangi, atau karena memang dibatasi bahkan dijadikan objek pariwisata.

Profit dari perputaran ekonomi di lingkup kepemilikan para messiah ini juga dibawa pergi di daerah asli. Menjadi kapital untuk mengembangkan sayap ekonomi mereka. Sedangkan pada masyarakat asli tidak banyak yang berubah. Mungkin mereka alih profesi. Dari menanam padi menjadi penjual tempura, oleh-oleh, dan softdrink.

Mungkin gentrifikasi bisa memoles daerah terbelakang, dengan kemudahan akses dan pembangunan infrastruktur. Akan tetapi, hanya itu saja yang berubah. Dengan laju masuknya masyarakat ekonomi atas ke tengah pedesaan, yang terjadi adalah ketimpangan yang makin menjadi.

Contohnya tentu saja tanah kelahiran saya, provinsi DIY alias Do It Yourself. Pembangunan sektor pariwisata tidak serta merta meningkatkan kualitas hidup dan ekonomi masyarakat bawah. Di antara hotel mewah dan mal, masih ada rumah petak berdinding triplek dengan penghasilan di bawah UMR paling humble se-Indonesia.

Dan masalah terakhir dari mental messiah ini adalah ketergantungan masyarakat. Bukan karena kemalasan, tetapi karena mereka teralienasi dari pembangunan yang hingar bingar itu. Mereka terputus dari akses menuju sumber daya ekonomi karena sumber daya itu termonopoli oleh para messiah tadi. Pokoknya mereka sedang diselamatkan messiah, dan bukan membangun lingkungan hidup mereka sendiri.

Jika memang para public figure dan influencer berniat membantu, kaji dahulu bagaimana masyarakat di daerah tersebut. Mereka tidak bisa memberi ikan setiap waktu. Daripada ikan, masyarakat lebih butuh empang sehingga mereka bisa meningkatkan kualitas hidup secara mandiri.

Namun, kalau memang ingin mengembangkan usaha, ya jauhkan diri dari mental messiah. Jangan sampai niat memperkaya diri ini dibalut semboyan gotong royong. Karena memang tujuannya merebut ruang hidup dengan harga murah, demi profit semaksimal mungkin. Tidak harus bersembunyi di jubah messiah kalau yang menjadi tujuan utama adalah eksploitasi alam dan masyarakatnya! 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 Agustus 2021 oleh

Tags: artisfigur publikinfluencerJuru selamatMessiah Complex
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Budaya Malu dan Meminta Maaf Figur Publik di Jepang Terminal Mojok

Budaya Malu dan Meminta Maaf Figur Publik di Jepang

7 Februari 2022
Pengalaman Table Manner dan Alasan Restoran Mahal Porsinya Sedikit terminal mojok.co

Kuliner Seleb dan Harga untuk Sebuah Rasa Penasaran

1 Juli 2019
Saya Lebih Percaya Dokter Tirta daripada Influencer Kesehatan Lainnya, To The Point, dan Walk The Talk!

Saya Lebih Percaya Dokter Tirta daripada Influencer Kesehatan Lainnya, To The Point, dan Walk The Talk!

1 Mei 2025
Influencer Mahal Nggak Akan Bikin Bisnis Coffee Shop Ramai, kalau Emang Ampas ya Siap-siap Bangkrut

Influencer Mahal Nggak Akan Bikin Coffee Shop Ramai, kalau Emang Ampas ya Siap-siap Bangkrut!

24 Oktober 2023
4 Kesamaan Bekasi dengan Yogyakarta Jakarta

Untuk Para Artis yang Terjun ke Politik, Nggak Usah Nyalon di Bekasi

14 November 2022
figur publik konferensi pers permintaan maaf kasus mojok

Publik Figur Minta Maaf karena Terjerat Kasus Itu Nggak Perlu Dilakukan

11 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro Mojok.co

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

28 Maret 2026
3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

30 Maret 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

Jalan-jalan ke Pantai saat Libur Panjang Adalah Pilihan yang Buruk, Hanya Dapat Capek Saja di Perjalanan

1 April 2026
Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang Mojok.co

Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang

1 April 2026
Weleri Kendal Baik-baik Saja Tanpa Mie Gacoan, Waralaba Ini Lebih Baik Incar Daerah Lain Mojok.co

Membayangkan Kendal Maju dan Punya Mall Itu Sulit, sebab Mie Gacoan Aja Baru Ada Setahun

31 Maret 2026
Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau

Kerja di Jakarta Memang Kejam, tapi Masih Banyak Hal yang Bisa Disyukuri dari Kota yang Mengerikan Itu

29 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Kebeli Suzuki Ertiga tapi Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.