Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sebaiknya Warga Malang Tidak Terlalu Marah kalau Matos Disebut sebagai Mall Terkecil, Masih Banyak Urusan Lain yang Lebih Penting

Ahmad Fahrizal Ilham oleh Ahmad Fahrizal Ilham
7 Maret 2026
A A
Sebaiknya Warga Malang Tidak Terlalu Marah kalau Matos Disebut sebagai Mall Terkecil, Masih Banyak Urusan Lain yang Lebih Penting

Sebaiknya Warga Malang Tidak Terlalu Marah kalau Matos Disebut sebagai Mall Terkecil, Masih Banyak Urusan Lain yang Lebih Penting

Share on FacebookShare on Twitter

Belakangan tengah ramai menjadi perbincangan di linimasa media sosial saya, seorang perempuan sekaligus pegiat media sosial muda, yang mengaku dari Surabaya, tengah mengabadikan momennya saat berkunjung ke Malang Town Square (Matos).

Berdasarkan kesaksiannya, seorang influencer yang tidak terkenal tersebut, menyebut jika Matos adalah mall terkecil di dunia. Tak tanggung-tanggung, dengan nada dan ekspresi nyinyir yang fasih, influencer itu menyatakan jika dirinya kesulitan mencari makanan enak selama di sana.

Selain itu, yang tak kalah membuat banyak warga Malang geram adalah, perempuan itu melabeli Malang, sebagai “Desa Malang”. Barangkali, menurut penilaiannya, dengan keadaan mall sekaliber Matos, Malang belum sah untuk menyandang gelar kotamadya.

Tidak bisa dimungkiri kalau pernyataannya memang menyebalkan

Sebagai warga Malang tulen, menonton klip singkat dari video tersebut, memang berhasil membuat saya merinding. Terlebih, ekspresi perempuan itu, seolah memang sengaja untuk memantik siapa pun agar lekas-lekas meninggalkan umpatan di kolom komentar.

Sebab, dalam bahasa Jawa Timuran, sikap yang ditunjukkan perempuan itu, benar-benar “kemenyek”, alias, terlalu sok dan menyebalkan.

Kalaupun saya mencoba berprasangka baik dan menganggap semua pernyataan yang dilayangkan influencer itu adalah bentuk guyonan semata, kok rasa-rasanya tidak pas juga, ya. Selain tidak lucu, majas hiperbola yang digunakan juga tidak ditempatkan dengan skala baik. Jadinya ya itu tadi, kesan yang ditangkap oleh orang yang mendengar kalimatnya, bukannya tertawa akan tetapi malah sebal.

Jika saya dibebaskan untuk menduga, penampilan dan ekspresi perempuan itu memang memegang peranan besar sebagai faktor yang menyulut amarah warga Malang. Soalnya, jika benar Matos seburuk itu, sejauh ini saya belum pernah melihat cece-cece yang tinggal di Jalan Dempo, Malang, membuat video yang serupa.

Padahal, menurut keyakinan saya, influencer tadi, kalau dilihat secara sekilas dari penampilannya saja, justru memiliki kecenderungan untuk lebih sering berkunjung ke Ramayana Bungurasih ketimbang Pakuwon Mall.

Baca Juga:

UIN Malang Adalah Kampus Terbaik di Kota Malang yang Bisa Bikin Kamu Patah Hati Jika Memasang Ekspektasi Terlalu Tinggi

Merindukan Pasar Wilis Malang, Surga Buku Bekas yang Kini Sepi Menunggu Mati

Tapi, baiknya warga Malang tidak terlalu tersulut emosi

Mulanya, saya memang menikmati setiap ujaran kebencian yang ramai-ramai dikirimkan oleh warga Malang kepada perempuan itu. Saya sampai agak keheranan, lantaran banyak dari umpatan itu, seolah selalu menemukan celah baru dari diri influencer tadi, untuk menjadi sumber komedi.

Namun, sikap saya ini kemudian berubah total. Tak lama setelah banyak komentar yang tidak lagi menanggapi pernyataan tersebut dengan nada lucu-lucuan. Sebaliknya, beberapa orang justru bangga ketika berhasil menemukan nama lengkap, asal kampus, bahkan sampai alamat asli si pembuat video.

Buat saya, ini sih, sudah kelewatan dan tidak setimpal. Soalnya, menghina satu mall dan daerah tertentu, tidak bisa menjadi pembenaran untuk tindakan doxing. Sebab, mau disebut seperti apa saja, keadaan di Kota Malang, khususnya Matos, ya tidak akan berubah.

Bukan hanya karena ada mbak-mbak iseng yang nyinyir dan bilang kalo Matos adalah mall terkecil di dunia, terus tiba-tiba ukuran Matos beneran menyusut sampai seukuran Depot Kayutangan, kan?

Atau, saya kira juga mustahil sekali, hanya karena influencer itu menganggap Malang lebih cocok disebut sebagai “desa”, apakah terus kemudian tiba-tiba Kemendagri bakal mengadakan rapat besar-besaran buat mengkaji ulang status Malang sebagai sebuah kota? Kan tidak.

Makanya, kalo gitu, kenapa kita mesti sampai “menelanjangi” influencer yang dosanya nggak ngaruh-ngaruh amat ini coba?

BACA JUGA: 4 Alasan Malang Nggak Perlu Bangun Mall Baru

Masih banyak urusan penting yang perlu mendapat atensi

Suka tidak suka, kita semua masih memegang status kewarganegaraan WNI, loh. Artinya, masih terlalu banyak problem, yang jauh lebih penting untuk kita awasi dan kalau perlu kita sumpah serapahi.

Sebut saja Reformasi Polri yang masih belum pernah diseriusi. Sampai-sampai masih banyak nyawa melayang sia-sia karena oknum yang terlalu banyak itu. Atau proyek MBG dan Koperasi Merah Putih yang minim transparansi serta berpotensi besar untuk berjalan menjauh dari tujuan asli mereka.

Nah ini. Ini yang menurut saya jauh lebih penting buat mendapat atensi kita semua.

Okelah, kalau kalian adalah seorang konten kreator juga. Yang mana, menanggapi video hinaan tersebut, berkemungkinan besar akan mengundang angka engagement yang begitu tinggi. Tapi, kalau kalian adalah warga sipil biasa, yang cuma cape dan nggak dapet apa-apa tiap habis marah-marah, ya sudah. Tidak ada untungnya untuk marah berlebihan.

Saya kira, akan jauh lebih baik kalau kita melihat ini sebagai fenomena lucu-lucuan berupa aksi konyol dari orang yang tidak tahu sopan santun di daerah orang saja—yang mana, tidak akan berpengaruh pada martabat warga Malang sendiri. Tidak lebih.

Penulis: Ahmad Fahrizal Ilham
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Malang Dihina “Desa”, padahal Tempat Pelarian Terbaik bagi Orang Kota Surabaya yang Stres meski Punya Mal Mewah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Maret 2026 oleh

Tags: influencerkota malangmalang town squarematos
Ahmad Fahrizal Ilham

Ahmad Fahrizal Ilham

Berasal dari Malang, dengan ketertarikan mendalam pada narasi kemanusiaan. Ia meyakini bahwa cerita terbaik sering kali tidak ditulis, melainkan dirasakan dari detak jantung pemiliknya

ArtikelTerkait

Beasiswa Kuliah Influencer, Orang Eksis Lebih Punya Kesempatan ketimbang Orang Pintar Mojok.co

Beasiswa Kuliah Influencer, Orang Eksis Lebih Punya Kesempatan ketimbang Orang Pintar

21 Mei 2024
maskapai garuda

Soal Larangan Memotret di Dalam Pesawat Maskapai Garuda: Antara Penegasan dan Konten Baru di Media Sosial

17 Juli 2019
penumpang

Ujian Jadi Penumpang Angkot

20 September 2019
Saya Punya Alasan untuk Tidak Perhitungan Follow IG Orang terminal mojok.co

Tips Mengendorse Influencer di Instagram

22 Juni 2020
Berlomba Mengutuk BPJS, Padahal yang Buruk Pelayanan Rumah Sakitnya

Berlomba Mengutuk BPJS, padahal yang Buruk Pelayanan Rumah Sakitnya

25 Oktober 2022
influencer

Tren Para (So Called) Influencer yang Menginginkan Gratisan Bermodalkan Jumlah Followers

18 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Pengangguran Korban Kekerasan, Diusir Kakak Kandung (Unsplash)

Jadi Pengangguran karena Membela Diri dari Kekerasan, Berujung Diusir Kakak: Ketika Gaji 80 Ribu Lebih Berharga daripada Harga Diri

25 Mei 2026
Ditolak Universitas Trunojoyo Bukan Akhir dari Segalanya, Masih Ada 3 Kampus di Madura Lain yang Layak Jadi Plan B Terminal

Ditolak Universitas Trunojoyo Bukan Akhir dari Segalanya, Masih Ada 3 Kampus di Madura Lain yang Layak Jadi Plan B

27 Mei 2026
Pantai Depok Batang, Destinasi Indah yang Berdampingan dengan Krisis Lingkungan Pesisir Mojok.co

Pantai Depok Batang, Destinasi Indah yang Berdampingan dengan Krisis Lingkungan Pesisir

30 Mei 2026
Sekolah Bukan Cuma Formalitas. Bimbel Tak Akan Bisa dan Tak Akan Pernah Bisa Menggantikan Sekolah  

Sekolah Bukan Cuma Formalitas, Bimbel Tak Akan Bisa dan Tak Akan Pernah Bisa Menggantikan Sekolah  

25 Mei 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN guru pns

Nasib Guru PNS Muda di Sekolah Boomer: Dianggap Dewa Teknologi, Berakhir Jadi Kurikulum Abadi

24 Mei 2026
PMII Bangkalan Aneh, Paling Getol Mengkritik Pemkab, tapi Prokernya Selalu Bermanis-manis sama Pejabat

PMII Bangkalan Aneh, Paling Getol Mengkritik Pemkab, tapi Prokernya Selalu Bermanis-manis sama Pejabat

28 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.