Selain Bandung, ada kota lain yang membuat saya jatuh hati, yakni Tangerang Selatan. Alasannya karena saya pernah merantau ke sana sekitar 10 yang lalu, sesaat setelah lulus SMK.
Sekarang, saya sudah kembali menetap di tanah kelahiran, Bandung. Maka, saya sudah tidak lagi bergelut dengan kerasnya persaingan di penyangga Jakarta. Tapi, sekalinya ingat masa lalu, memori saya langsung tertuju ke kawasan Ciputat, tempat saya menumpang di rumah saudara demi mencari rezeki dan mengejar mimpi.
Kendati hanya sempat tinggal di sana kurang dari satu semester sebelum akhirnya terpaksa angkat kaki oleh keadaan, saya tetap merindukan Tangerang Selatan. Entah sihir apa yang dipakai kota ini sehingga saya begitu kesengsem dengannya, padahal nasib baik belum sempat mampir saat itu.
#1 Jejak perjuangan Tangerang Selatan di Masjid Agung Al-Jihad
Hal pertama yang selalu memanggil memori saya tentang Tangerang Selatan adalah Masjid Agung Al-Jihad. Berdiri megah di Jl. H. Usman, masjid ini bukan sekadar bangunan bersejarah yang menjadi latar azan pertama TVRI tahun 1970. Lebih dari itu, ia adalah saksi bisu perjuangan kemerdekaan.
Konon, pada masa revolusi, kawasan sekitar masjid ini sempat menjadi saksi ketegangan antara pejuang lokal dengan penjajah, bahkan pernah menjadi lokasi penawanan di masa pergolakan fisik.
Bagi saya, ia adalah tempat istirahat dan perlindungan yang paling teduh. Di tengah ribuan jemaah, tersimpan memori tentang lelahnya mengetuk pintu-pintu kantor di seantero Tangerang Selatan demi mencari loker.
Saat itu, lantai masjid ini adalah sandaran terbaik untuk mengumpulkan sisa tenaga. Melihat menaranya dari kejauhan rasanya seperti menemukan mercusuar di tengah badai. Di atas ubin yang dingin dan penuh nilai sejarah itulah, saya sering merenung dan menitipkan doa-doa paling tulus tentang nasib.
Baca halaman selanjutnya: Romantika Tangerang Selatan yang bikin rindu.



















