Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Alasan Mengapa Politik Dinasti Banten Begitu Digemari Warganya

Muhammad Nanda Fauzan oleh Muhammad Nanda Fauzan
30 April 2020
A A
politik dinasti banten tubagus chaeri wardana wawan badak bercula satu korupsi peta banten mojok

politik dinasti banten tubagus chaeri wardana wawan badak bercula satu korupsi peta banten mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Di penjara Waldheim, Karl May menulis empat jilid Winettou dan berhasil membawa tiap pembacanya bertualang ke pelbagai tempat eksotis di Amerika. Kita tahu, banyak pemikir dunia melakukan hal serupa; berkreasi di tengah telikung penjara. Di Indonesia, kita mengenal sejumlah nama kesohor yang mempraktikkan laku demikian, dari Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, hingga yang paling anyar: Jonru Ginting. Tubagus Chaeri Wardhana a.k.a. Wawan sang koruptor, sebagai produk politik dinasti Banten, jelas bisa dijejalkan dalam daftar panjang nama-nama tersebut.

Ia pemikir jempolan, Anda tahu siasat para koruptor dibuat begitu memikat, dan itu memerlukan kerja otak yang ekstra. Nah, di Lapas Sukamiskin Ia membangun ruang kerja—dengan reka bentuk bangunan menyerupai istana—untuk menunjang proses kreatifnya. Tentu setelah memberi sedikit bisyarah pada penjaga lapas, subhanallah~

Proyek macam apa yang tengah ia garap jelas tak perlu dipersoalkan, yang wajib kita catat ialah secara tidak langsung Wawan berhasil menyindir—jika bukan mengolok-olok—saya dan 490 ribu warga lainnya yang turut membawa Banten menduduki puncak klasemen sebagai provinsi paling hebat dalam urusan menciptakan pengangguran.

Demi behel Bowo Alpenliebe, ini adalah sebuah ironi. Masa iya Wawan yang mendekam di hotel prodeo bisa rileks bekerja dengan fasilitas mewah, sementara kami yang menghirup udara segar dan menyandarkan pundak di dinding-dinding kumuh masih saja kelimpungan mencari penghidupan.

Wawan yang sukses menghadirkan refleksi, tak lain riak kecil di tengah derasnya problem politik dinasti, di luar itu kita masih bisa mendedahkan banyak faedah-faedah tersembunyi. Anda mungkin merasa heran sekaligus bertanya-tanya, “Mengapa, sih, orang-orang Banten masih mempercayakan jabatan penting pada orang yang itu melulu? Padahal jelas itu bukan pilihan cerdas.”

Pertama-tama, kami lebih senang disebut shalih alih-alih cerdas. Kedua, yang terjadi di lapangan tak sesederhana itu. Kebanyakan dari kami memusatkan perhatian pada hal-hal di luar politik, dan tak mau ambil pusing pada siapa pun yang kelak menjadi pemimpin. Bertolak dari kenyataan pahit itu, kawan dekat saya bahkan punya niat elit: mendaftarkan badak bercula satu di bursa politik.

Kepala Balai Taman Nasional Ujung kulon Anggodo melaporkan bahwa hingga pengujung tahun 2019 populasi badak bercula satu bertambah empat ekor. Warta itu sungguh menggembirakan kawan saya, sebab artinya ada tujuh puluh dua badak yang siap dikader untuk menjadi politikus bijak, lalu mendaftar di KPU.

Jumlah itu cukup untuk membuat formasi yang siap menjegal tiga klan politik utama, yakni Ratu Atut, Jayabaya, dan Natakusumah. Paling tidak, jika tak ada manusia yang sanggup menandingi mereka, mungkin kalangan haiwan bisa, toh.

Baca Juga:

Penderitaan orang Serang yang kerja di luar kota: pakai KRL susah, kereta lokal pun nggak membantu

Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Kerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak

Ia punya asumsi yang terkesan shopisticated. Dalam urusan politik, seekor badak mungkin lebih bisa dipercaya ketimbang manusia. Ya, emang betul, sih, tetapi sayangnya hewan berkulit tebal itu cukup tahu cara merawat harga diri. Dan, itulah sebab utama mengapa ide brilian itu tak kunjung terlaksana. Padahal saya selalu menunggu waktu itu tiba.

Atau, jika bukan badak, mungkin ada satu opsi lain yang bisa dipertimbangkan: Garaga, ular milik Panji. Untuk hewan yang satu ini, saya kira-kira Anda tahu mengapa ia layak diajukan.

“Ngajajal elmu” adalah salah satu alasan lain mengapa Dinasti bisa begitu lestari. Anda tahu daerah ini adalah pemasok jawara dan dukun nomor wahid, hanya Banyuwangi dan Kalimantan yang mungkin bisa mengekor kejayaannya di puncak klasemen, dan tentu saja Emyu yang terpuruk di jurang degradasi. Eh, maaf.

Para munsyi ini telah teruji kebal bacok, tahan hantam, dan weduk tikam. Mereka jelas butuh pembuktian-pembuktian lain, kuat menghadapi kebijakan dan perilaku nyeleneh dari pemangku jabatan, umpama.

Dengan tetap memilih orang yang berasal dari keluarga itu-itu terus, setidaknya mereka bisa lebih fokus memperdalam satu jurus. Sebab, Bruce Lee sekali pun lebih merasa ngeri pada mereka yang berlatih satu jurus seribu kali, ketimbang menghafal seribu jurus tapi dengan kemahiran seadanya.

Ada memang para petarung yang akhirnya bergabung ke dalam benteng dan turut menambah kokoh barisan dinasti, tapi itu lebih pada siasat mendekat dengan musuh. Tak ada yang lebih bahaya ketimbang musuh dalam selimut, bukan? Dan, semoga mereka tak terlalu mendalami karakter hingga lupa pada niat awalnya. Xixi~

Omong-omong, usia saya dan Provinsi Banten hanya terpaut tujuh bulan. Dan kiranya saya cukup otoritatif untuk sekadar memberi penilaian bahwa Banten—jika ia sesosok manusia—adalah kawan yang polos, sedikit bengal, dan kekanak-kanakan. Di umurnya yang menjelang 20 tahun, ia belum juga mampu merawat diri. Orang-orang di sekelilingnya masih merasa nyaman saat ia diatur sekelompok orang, meski bocah ini berkali-kali meronta dan meminta tolong bahwa ia sedang tak baik-baik saja.

Sumber gambar: Wikimedia Commons

BACA JUGA Penjual Madu Baduy Adalah Intel dan Kamu Harus Percaya Itu dan tulisan Muhammad Nanda Fauzan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 15 Juni 2022 oleh

Tags: BantenKorupsipolitik dinasti
Muhammad Nanda Fauzan

Muhammad Nanda Fauzan

Picolo dengan versi kearifan lokal.

ArtikelTerkait

Ormas Tukang Palak Hambat Investasi, Indonesia Rugi 135 Triliun (Pexels)

Ormas Oportunistik Tukang Palak Adalah Rayap Bagi Iklim Investasi Rugikan Indonesia Sampai 145 Triliun

11 Maret 2025
faldo maldini politisi muda mojok (1)

Faldo Maldini dan Fenomena Politisi Muda Rasa Boomer

15 Agustus 2021
WTC Matahari Serpong, Mall Nyaman bagai Rumah yang Kini Mulai Usang

WTC Matahari Serpong, Mall Nyaman bagai Rumah yang Kini Mulai Usang

17 Januari 2024
vaksinasi vaksin berbayar covid-19 Hoaks Vaksin Mengandung Virus Itu Wagunya Sampai Ubun-ubun terminal mojok.co

Kok Bisa Ada Negara yang Menggratiskan Vaksin? Contoh Indonesia, dong!

14 Desember 2020
Apa yang Akan Saya Lakukan Andai Saya Diberi Ronald Tannur Uang Satu Triliun

Apa yang Akan Saya Lakukan Andai Saya Diberi Ronald Tannur Uang Satu Triliun

26 Oktober 2024
Lampu Pocong Medan Itu Nggak Nakutin Warga, yang Nakutin Itu Anggaran dan Kegagalannya

Lampu Pocong Medan Itu Nggak Nakutin Warga, yang Nakutin Itu Anggaran dan Kegagalannya

26 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang? (Unsplash)

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli apa-apa sudah bikin senang?

3 Agustus 2026
Bendungan Rowo Jombor Klaten Membahayakan Pengunjung (Unsplash)

Stigma orang yang nongkrong di Rowo Jombor adalah jamet itu konyol, tapi dampaknya luar biasa

6 Agustus 2026
Akal-akalan loker isi survei dan nonton iklan online, menyedot banyak kuota, tapi hasilnya cuma cukup buat beli es teh Mojok.co

Akal-akalan loker isi survei dan nonton iklan online, menyedot banyak kuota, tapi hasilnya cuma cukup buat beli es teh

6 Agustus 2026
Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

6 Agustus 2026
Alasan modal Rp100 miliar lebih baik "disulap" jadi bisnis laundry daripada usaha yang ikuti tren Mojok.co

Alasan modal Rp100 miliar lebih baik “disulap” jadi bisnis laundry daripada usaha yang ikuti tren

2 Agustus 2026
Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam menyimpan keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga Mojok.co

Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam punya keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.