Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

Moch. Fadhil Reiza Putra oleh Moch. Fadhil Reiza Putra
28 Maret 2026
A A
Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro Mojok.co

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro (wikipedia.org)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu hal yang dulu saya kira sederhana: pindah dari Bojonegoro ke Malang untuk kuliah. Dalam bayangan saya, perpindahan itu hanya soal alamat baru, kos baru, kampus baru, dan rutinitas yang berubah. Saya pikir tantangannya paling-paling hanya soal adaptasi jadwal kuliah, tugas, dan kehidupan sebagai mahasiswa rantau. 

Ternyata saya salah. Pindah kota rupanya bukan sekadar memindahkan badan dan barang bawaan. Ia juga memindahkan kebiasaan, selera, cara mendengar, bahkan cara bertahan hidup dari hal-hal kecil yang selama ini terasa biasa. Dan, justru dari hal-hal kecil itulah saya mengalami apa yang sering disebut orang sebagai culture shock.

Salah satu culture shock yang paling membekas adalah soal bahasa. Awalnya saya anggap bahasa adalah hal yang paling aman karena sama-sama menggunakan bahasa Jawa. Namun, saya salah, ternyata ada perbedaan logat, intonasi, dan rasa bahasa yang cukup terasa. Imbuhan seperti -nem dan -em yang biasa saya gunakan terdengar asing bagi orang Malang, begitu juga dengan beberapa kosakata seperti “menyok” yang disebut “puhung” dan “ote-ote” yang dikenal sebagai “weci.” 

Tentu culture shock semacam itu awalnya bikin nggak nyaman, tapi lama-kelamaan mulai terbiasa juga. Ketidaknyamanan itu juga berlaku untuk hal-hal di Malang yang lebih baik daripada Bojonegoro. Awalnya memang nggak nyaman, tapi lama kelamaan saya malah menyadari betapa nggak nyaman hidup di tempat asal saya Bojonegoro. 

Cuaca Malang menyadarkan saya betapa panas Bojonegoro

Selain bahasa, culture shock pertama yang awal-awal saya rasakan adalah cuaca. Sebagai orang Bojonegoro, saya tumbuh dalam suhu yang kadang terasa seperti bentuk ujian kesabaran dari alam. 

Panas di Bojonegoro bukan sekadar kondisi cuaca, tapi sudah seperti bagian dari identitas daerah. Siang hari di sana sering kali terasa sangat akrab dengan peluh, matahari yang menyengat, dan hawa yang membuat orang ingin cepat-cepat mencari tempat teduh. Bayangkan saja, suhu lebih dari 30 derajat celsius sudah menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat Bojonegoro. 

Jadi ketika saya pindah ke Malang, hal pertama yang paling saya rasakan justru bukan kampus, bukan jalanan, bukan juga suasana kotanya, melainkan udaranya. Malang terasa jauh lebih adem.

Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar biasa saja. Tapi buat saya, ini cukup mengejutkan. Saya seperti menemukan cara hidup baru: keluar pagi tanpa langsung merasa disetrika matahari, malam yang benar-benar dingin, dan udara yang tidak selalu terasa sedang punya masalah pribadi dengan kulit manusia. Saya sampai sempat berpikir, jangan-jangan selama ini saya memang hidup di oven. 

Baca Juga:

Universitas Merdeka Malang Sering Dipelesetkan Universitas Merana, padahal Layak Diperhitungkan

6 Alasan Saya Nggak Puas Kuliah di Fakultas Ekonomi UIN Saizu Purwokerto yang Dijuluki Fakultas Mahal

Perbedaan cuaca ini mungkin terdengar sederhana, tapi efeknya cukup terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ritme hidup terasa berbeda. Di Bojonegoro, panas membuat banyak aktivitas terasa lebih melelahkan. Sementara di Malang, udara yang lebih ramah seperti memberi ruang untuk bergerak sedikit lebih nyaman. Dari sini saya sadar, cuaca ternyata bukan cuma urusan suhu. Ia juga ikut menentukan cara kita menjalani hari.

Saya kaget harga makanan yang lebih bersahabat

Culture shock yang paling dekat dengan realitas mahasiswa adalah harga makanan. Kalau ada satu hal yang sangat cepat menentukan kualitas hidup anak rantau, itu bukan semangat akademik, bukan pula filosofi hidup. Tapi, pertanyaan yang jauh lebih mendasar: makan hari ini habis berapa? 

Sebagai mahasiswa, saya cukup cepat menyadari bahwa urusan makanan bukan sekadar kebutuhan, tapi bagian dari strategi bertahan hidup. Dan, di titik inilah Malang memberi saya kejutan yang cukup menyenangkan. Saya merasa harga makanan di Malang justru sering kali lebih ramah di kantong daripada yang saya bayangkan, bahkan terasa lebih murah dibanding yang biasa saya temui di Bojonegoro. 

Bayangkan saja, di Malang banyak sekali warung prasmanan yang apa-apa ambil sendiri mulai dari nasi hingga lauk. Yang harganya kadang ga sampe 10 ribu rupiah. Yang paling culture shock bagi saya adalah penjual bakso. Di Bojonegoro, bakso biasa dihidangkan langsung oleh penjualnya. Di Malang tidak. Kita sebagai pembeli melayani diri kita sendiri, ambil bakso sendiri, racik sendiri. Dan harganya? Kita yang nentuin sendiri. Udah kayak all you can eat versi kaki lima.

Di momen seperti itu, saya merasa hidup di kota rantau ternyata bisa sedamai ini Pengalaman ini juga membuat saya sadar bahwa kenyamanan tinggal di sebuah kota tidak selalu ditentukan oleh hal-hal besar seperti fasilitas modern atau tempat nongkrong yang ramai. Kadang, kenyamanan justru datang dari hal sederhana bisa makan enak tanpa merasa sedang mengambil keputusan finansial besar. Dan sebagai mahasiswa, saya rasa tidak ada bentuk adaptasi yang lebih cepat diterima tubuh dan pikiran selain makanan yang terjangkau.

Penulis: Moch. Fadhil Reiza Putra
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Kota Malang Mirip Bandung: Sama-Sama Adem dan Sejuk, tapi Lebih Rapi dan Terawat.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 Maret 2026 oleh

Tags: BojonegoroKampuskampus malangMahasiswamahasiswa perantauMalangperantau
Moch. Fadhil Reiza Putra

Moch. Fadhil Reiza Putra

Seorang mahasiswa Sejarah di Universitas Negeri Malang yang sedang belajar menenun masa lalu menjadi narasi masa kini.

ArtikelTerkait

Surat Cinta untuk Walikota: Pak, Malang Macet, Jangan Urus MiChat Saja!

Malang Memang Beda, Cuacanya Baru Dingin kalo Lagi Musim Maba, Caper, Bos?

2 Juli 2023
#PolisiSesuaiProsedur smackdown

Ironi #PolisiSesuaiProsedur: Kemarin (Berusaha) Romantis, Sekarang? Nilai Sendiri

14 Oktober 2021
Malang dan Batu Bertetangga, tapi Nyatanya Berlawanan (Unsplash)

Malang dan Batu: Dua Kota yang Bertetangga, tapi Nyatanya Saling Berlawanan karena Berbeda Karakter

3 Maret 2025
cerita ospek pengalaman mahasiswa baru angkatan corona beruang pemalas mojok.co

Yang Sedih dan Gembira dari Mahasiswa Baru Angkatan Corona

3 September 2020
Kuliah di Sleman dan Rumah di Bantul, Ngekos adalah Jawabannya

Kuliah di Sleman dan Rumah di Bantul, Ngekos adalah Jawabannya

22 Mei 2019
Kuliah di Sekolah Kedinasan Nggak Cocok buat Orang Gengsian karena Nggak Bisa Dibanggakan

Kuliah di Sekolah Kedinasan Nggak Cocok buat Orang Gengsian karena Nggak Bisa Dibanggakan

21 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

40 Jam Disiksa Bus Putra Remaja dari Jogja Sampai Jambi (Unsplash)

Pengalaman Naik Bus Putra Remaja dari Jogja Menuju Jambi: Seni Bertahan Hidup Selama 40 Jam di Atas Kursi Rusak yang Menyiksa

16 Juni 2026
5 Realitas Hidup Semarang yang Tidak Muncul di Brosur Wisata maupun Konten Perjalanan Mojok.co

5 Realitas Pahit Hidup di Semarang yang Tidak Muncul dalam Brosur

13 Juni 2026
13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Sebelum KKN, Pahami bahwa Hal-Hal Menyebalkan dalam KKN yang Kebanyakan Datang dari Teman Satu Posko

14 Juni 2026
Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau Mojok.co

Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau

17 Juni 2026
Pertamax di Pertashop Memang Lebih Murah, tapi Tetap Saja Orang pada Beli Pertalite, Harga Pertamax Nggak Ngotak! pertamina pertamax oplosan

Bisnis Pertashop Jelas Karam: Hidup Segan, Mati Tinggal Menunggu Hari

14 Juni 2026
Deodoran Kahf, Deodoran Murah yang Tidak Jualan Klaim yang Mewah, tapi Kualitasnya Begitu Hebat dan Nggak Bau, Nggak kayak Merek yang Itu tuh

Deodoran Kahf, Deodoran Murah yang Tidak Jualan Klaim yang Mewah, tapi Kualitasnya Begitu Hebat dan Tidak Bau, Nggak kayak Merek yang Itu tuh

17 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.