Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD – Terminal Mojok

Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD

Artikel

Fatimatuz Zahra

Masa kecil memang menyisakan banyak warna untuk kita orang dewasa yang sudah banyak masalah ini. Hampir semua cerita masa kecil itu selalu memorable, termasuk cerita saat menjalankan ibadah puasa. Mulai dari puasa setengah hari, puasa bolong-bolong, dapat hadiah karena puasa full, dan masih banyak lagi. Tak ketinggalan juga buku Catatan Ramadan yang setia menemani. Saking cintanya sama buku Catatan Ramadan, bahkan kita kadang rela berangkat tarawih walaupun perut rasanya mau meledak karena kebanyakan makan saat buka puasa. Tak lain dan tak bukan, demi sebuah tanda tangan imam tarawih.

Meskipun di sekolah saya tidak menerapkan hukuman apa pun kalau tanda tangan imam tarawih tidak penuh, tetapi saya tetap punya obsesi untuk mengumpulkan tanda tangan itu. Bukan karena takut kepada bapak ibu guru, tapi lebih karena gengsi kepada teman-teman kalau ketahuan tarawihnya bolong. Semacam mengumpulkan huruf N pada YOSAN, tanda tangan imam tarawih pun menjelma menjadi sebuah kompetisi yang sangat membanggakan pada masanya.

Padahal kalau diingat-ingat, saya adalah pribadi yang cenderung pemalu saat masih kecil. Ya meskipun pas udah besar jadinya malu-maluin, tapi saya pernah jadi pemalu pada zamannya. Jadi, mengisi buku Catatan Ramadan itu merupakan tantangan tersendiri bagi saya. Menemui imam tarawih kemudian ditanya-tanya, “Tadi salat beneran nggak?” sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kenangan Ramadan masa kecil saya.

Tanda tangan imam tarawih masih bisa saya dapatkan dengan cukup mulus karena imam tarawihnya kalau nggak tetangga sebelah, ya kakak, atau ayah saya. Namun, tantangan yang lain dalam buku Catatan Ramadan benar-benar menguji nyali saya. Yaitu meminta tanda tangan imam salat Idul Fitri dan para guru yang kita kunjungi rumahnya saat hari raya.

Pernah suatu ketika buku Catatan Ramadan milik saya terpaksa dibawa oleh ayah saya ketika salat Idul Fitri. Lagi-lagi demi sebuah tanda tangan imam salat. Kali ini tidak bisa nepotisme, karena saya dan keluarga biasa salat Idul Fitri di Masjid Agung yang imamnya tentu bukan tetangga atau saudara saya.

Kegiatan silaturahmi kepada bapak ibu guru pun terasa seperti mengerjakan PR. Ada jadwal kunjungan ke rumah bapak ibu guru yang harus saya penuhi jika tidak mau turun pamor di hadapan teman-teman sepermainan bekel, saat masuk sekolah nanti. Hal ini tak kalah menantang untuk saya.

Teman-teman saya biasa berkumpul dan pergi bersama-sama ke rumah para guru dengan mengayuh sepeda. Sedangkan saya selama sekolah ya hanya mengandalkan orang tua. Bukan karena malas, tapi karena saya tidak bisa mengendarai segala jenis kendaraan pada saat itu. Jadi, ke rumah para guru pun menunggu jadwal longgar dan sepi tamu dari orang tua saya. Sehingga sering kali dapat tanda tangannya terlambat. Nggak apa-apa, yang penting bisa dibanggain waktu masuk sekolah.

Selain digunakan sebagai ajang untuk saling membanggakan pencapaian, buku Catatan Ramadan ini juga jadi teman setia saat menginap di sekolah dalam rangka mengikuti kegiatan pesantren kilat. Selama mengikuti pesantren kilat, kita akan punya waktu semalam untuk saling bercerita tentang bagaimana perjuangan mengisi buku Catatan Ramadan. Ada yang datang tarawih sekali lalu tanda tangan imam tarawih diduplikat untuk hari-hari berikutnya. Ada juga yang bukunya sudah hilang entah ke mana, dan segala cerita lainnya.

Sudah, tidak perlu mengatakan bahwa buku Catatan Ramadan membuat anak-anak menjadi pamrih saat menjalankan ibadah puasa. Jangankan kami yang masih anak-anak, orang yang lebih tua pun juga tak jarang berpuasa demi keuntungan atau keringanan dalam pekerjaannya.

Seperti kata ustaz Yusuf Mansur, selama pamrihnya kepada hal-hal yang baik, lakukan saja, jangan malah berhenti. Pasalnya, segala sesuatu yang baik perlu dimulai, meskipun awalnya dengan terpaksa. Kalau dimulai saja tidak pernah, lalu kapan akan timbul ikhlasnya? Jadi biarkan anak-anak memulai kecintaannya pada ibadah puasa melalui buku Catatan Ramadan miliknya.

Bagi kami saat itu, Ramadan jadi sangat menyenangkan berkat tantangan-tantangan tahunan dalam buku tersebut. Meskipun kami semua sudah dapat pelajaran dari buku tentang ikhlas yang rumit dan ribet itu, tetapi bagi anak-anak seusia kami definisi ikhlas itu sesederhana melakukan ibadah dengan bahagia dan suka cita, meskipun motivasi utamanya adalah untuk menjaga gengsi di hadapan teman-teman semata.

BACA JUGA Esai-esai Terminal Ramadan Mojok lainnya.

Baca Juga:  Jangan Beli Makanan Buka Puasa Kebanyakan, Kalau Jelas-Jelas Nggak Dihabiskan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
1


Komentar

Comments are closed.