Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mengamati Perilaku Orang yang Pasti Menggeser ‘Bangku Bakso’ setiap Mau Duduk

Dessy Liestiyani oleh Dessy Liestiyani
6 Juni 2020
A A
bangku bakso bangku plastik lion star mojok.co

bangku bakso bangku plastik lion star mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Suatu saat saya berkesempatan untuk mengamati perilaku orang-orang yang sedang ngantre berobat di rumah sakit. Tahu dong betapa luar biasanya ujian kesabaran kala menunggu giliran dokter. Setelah buku bawaan habis dibaca dan hape tinggal 5 persen, kegiatan kepo-in orang-orang di sekitar pun dimulai. Mulai dari dengerin (tepatnya: dipaksa denger) emak-emak yang bangga nyeritain penyakitnya masing-masing, menggunjing pasien yang nggak sabaran bolak-balik nanya sekarang udah nomer berapa, sampai ini nih… mengamati kelakuan orang-orang yang mau duduk di bangku bakso.

Bangku bakso yang saya maksud bukan karena di dalam rumah sakit ada tukang bakso. Saya mau merujuk ke bangku yang bentuknya gini nih:

Foto ini dipinjam dari Lion Star.

Sengaja saya pakai istilah bangku bakso supaya asumsinya sama, yaitu bangku yang biasa dipakai abang-abang bakso buat pembelinya yang mau dine in alias makan di samping gerobak. Sebenarnya bahasa kerennya sih barstool… cuma ya sudahlah.

Nah, setelah diperhatikan, semua orang selain saya dan suster di ruangan, saya ulangi ya… semua orang (bukan beberapa orang atau kalangan tertentu saja) secara otomatis akan menggeser bangku baru kemudian duduk. Berusaha rileks menjaga keseimbangan bokong di permukaan yang pas-pasan itu.

Tiba-tiba saja melintas di otak pengangguran saya, pertanyaan seperti ini: kenapa semua orang kecuali saya (kembali saya tegaskan), entah sengaja, sadar ataupun tidak sadar, akan menggeser ulang posisi sang bangku bakso? Sepertinya nih, kalau mau duduk di bangku bakso ya harus dipindah posisinya, walaupun hanya beberapa sentimeter dari posisi awal si bangku.

Syukurlah ada hal (nggak penting) yang bisa saya pikirkan daripada bete nunggu nomer antrean saya yang tiga digit itu. Nah masalahnya, tuh bangku-bangku bakso sebenarnya sudah diatur sedemikian rupa oleh pihak rumah sakit, sesuai dengan posisi yang dianjurkan saat PSBB. Udah diatur jaraknya. Kalau dalam kondisi normal sih terserah aja mau digeser atau dibawa pulang. Eh… yang terakhir nggak boleh ding.

Atas dasar itulah akhirnya muncul beberapa analisis setelah melalui pengamatan selama kurang lebih 2 jam di ruang tunggu, dengan responden sekitar 30 orang yang datang dan pergi:

#1 Buat ngobrol

Umumnya hal ini dilakukan oleh para ibu. Kalau nggak ngobrol sepertinya nggak afdol, belum bisa menunjukkan identitasnya sebagai para emak. Jadilah tu bangku bakso gerilya ke sana kemari. Gelagatnya begini: dateng, lapor suster, celingak-celinguk cari bangku, nyengir lega, sapa orang di sebelah bangku, NGGESER bangku, ngobrol deh. Dan setelah selesai menguak fakta hidup ibu “tetangga” duduknya, bangku bakso itu pun jadi sohib (ngalahin hape) yang DIGESER ke sana-sini, ngikutin ke mana pun sang ibu mau duduk dekat target ngobrol berikutnya.

Baca Juga:

Toilet Rumah Sakit Memang Bersih, tapi Tubuh Saya “Menolak” dan Tidak Bisa Buang Air di Sana

Jalan Sompok, Jalan yang Bikin Warga Semarang Tetap Sehat karena Banyak Dokter Praktik di Sini

#2 Supaya deket kerabat yang sakit

Ini juga biasa terjadi. Bangku bakso digeser supaya lebih dekat dengan kerabat sakit yang ditemani ke dokter. Jelas tidak ada yang salah dengan hal ini, di beberapa kasus mungkin malah perlu dilakukan terkait kesehatan sang pasien sendiri. Jadilah sang bangku bakso NGGESER mendekati sang pasien. Namun, dari pengamatan saya saat itu, beberapa pasien juga sepertinya tidak memerlukan penanganan khusus yang mewajibkan sang kerabat harus duduk mendekat.

#3 Untuk menunjukkan ego

Nah, kalau mau dirata-rata, asumsi ini menguasai sekitar 80 persen dari keseluruhan kasus. Jangan protes ah, ini yang saya amati lho! Gelagatnya gini: dateng, lapor suster, celingak-celinguk cari bangku bakso, NGGESER bangku bakso ke posisi yang diinginkan, duduk manis. Alasannya simpel, saya maunya duduk di dekat pintu keluar supaya kena angin semilir, saya maunya duduk di sudut itu supaya bisa nyender tiang, atau saya maunya duduk di dekat pintu ruangan dokter supaya cepet masuknya, dll. Saya maunya begini, atau saya maunya begitu, terserah saya dong.

Nggak perlu dipikirin kenapa bangku bakso ini ditata sudah sedemikian rupa karena protokol rumah sakit atau sekenanya mood si security yang nyusun. Pokoknya saya maunya duduk di sonoh, mau apa? Angkat topi buat ego nya.

#4 Kaum yang nggak menggeser bangku bakso sama sekali

Nah, untuk kaum ini sesuai pengamatan saya terhadap responden 30 orang itu, hanya saya dan para suster yang tidak melakukan aktivitas nggeser bangku. Pertama, dari sudut pandang para suster pastinya karena mereka sadar protokol dan SOP. Kedua, mungkin karena para suster duduknya di kursi sandar yang berat kalau digeser-geser. Yang ketiga, dari sudut pandang saya (sebagai satu-satunya pasien yang nggak nggeser kursi), saya mungkin nggak terbiasa untuk duduk rapet-rapetan dengan orang lain, kalau nggak terpaksa seperti di angkutan umum yang penuh. Ya Alhamdulillah kalau ternyata bisa sekalian ngikutin protokol yang berlaku.

BACA JUGA Tanda-Tanda Pasangan Ilegal Mau Check-in Hotel dan tulisan Dessy Liestiyani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 Juni 2020 oleh

Tags: bangkurumah sakit
Dessy Liestiyani

Dessy Liestiyani

Tinggal di Bukittinggi. Wiraswasta, mantan kru televisi, penikmat musik dan film.

ArtikelTerkait

Nggak Cuma Ngurus Pasien, Dokter Juga Harus Siap Menghadapi Pengalaman di Luar Nalar Mojok.co

Nggak Cuma Ngurus Pasien, Dokter Juga Harus Siap Menghadapi Pengalaman di Luar Nalar

22 Maret 2024
Hal yang Perlu Saya Kritisi terhadap Setting Rumah Sakit di Sinetron atau FTV terminal mojok.co

Hal yang Perlu Saya Kritisi terhadap Setting Rumah Sakit di Sinetron atau FTV

2 Februari 2021
BPJS Adalah Masa Depan, Abaikan Nakes TikTok yang Menghina BPJS

Antara Jengkel dan Salut Menghadapi Penjenguk Orang Sakit yang Datang Beramai-ramai

31 Juli 2020
Menangani Keseleo Tanpa Harus ke Rumah Sakit

Menangani Keseleo Tanpa Harus ke Rumah Sakit

16 April 2023
Toilet Rumah Sakit Memang Bersih, tapi Tubuh Saya "Menolak" dan Tidak Bisa Buang Air di Sana

Toilet Rumah Sakit Memang Bersih, tapi Tubuh Saya “Menolak” dan Tidak Bisa Buang Air di Sana

7 Mei 2026
Daripada Main Hajar Begitu Aja, Mending Komplain dengan Cara Santuy Berikut Ini

Daripada Main Hakim Sendiri, Mending Komplain dengan Cara Santuy Berikut Ini

17 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasanya Hidup di Pengok Jogja: Tidur di Antara 2 Rel, Pasti Bisa Bangun Pagi karena Suara Kereta Begitu Membahana

Rasanya Hidup di Pengok Jogja: Tidur di Antara 2 Rel, Pasti Bisa Bangun Pagi karena Suara Kereta Begitu Membahana

26 Mei 2026
Mengenal Kabupaten Bungo, Tempat Awal Mula Sumber "Sumatera Blackout" yang Bikin Satu Pulau Geger

Mengenal Kabupaten Bungo, Tempat Awal Mula “Sumatera Blackout” yang Bikin Satu Pulau Geger

23 Mei 2026
Teman Saya Orang Surabaya Nggak Suka Makan Rawon, dan Alasannya Masuk Akal Mojok.co

Tidak Semua Lidah Orang Surabaya Doyan Makan Rawon, Beberapa Ada yang Trauma dengan Alasan yang Masuk Akal

26 Mei 2026
Sekolah Bukan Cuma Formalitas. Bimbel Tak Akan Bisa dan Tak Akan Pernah Bisa Menggantikan Sekolah  

Sekolah Bukan Cuma Formalitas, Bimbel Tak Akan Bisa dan Tak Akan Pernah Bisa Menggantikan Sekolah  

25 Mei 2026
Jakarta yang Keras di Dalam Ingatan Arek Surabaya (Unsplash)

Bagi Warga Kabupaten, Orang Jakarta Terlihat Terlalu Buru-buru dan Terlalu Punya Tujuan

25 Mei 2026
Dear Wisatawan, Bandungan Semarang Nggak Melulu Soal Prostitusi, Ada Banyak Potensi Lain Mojok.co

Dear Wisatawan, Bandungan Semarang Nggak Melulu Soal Prostitusi, Ada Banyak Potensi Lain

26 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.