Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Lomba Desa: Kegiatan Nggak Penting yang Bikin Repot Warga

Jevi Adhi Nugraha oleh Jevi Adhi Nugraha
18 Oktober 2022
A A
Lomba Desa: Kegiatan Nggak Penting yang Bikin Repot Warga

Lomba Desa: Kegiatan Nggak Penting yang Bikin Repot Warga (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Lomba desa adalah agenda tahunan paling menguras tenaga. Saya pernah mengalaminya beberapa tahun lalu. Nyaris setiap hari, saya dan warga sekitar diminta oleh pemerintah setempat untuk kerja bakti “memoles” desa menjadi sedemikian rupa. Nggak cuma tenaga saja, warga di kampung saya juga wajib iuran untuk memperbaiki jalan, membangun pagar rumah, membangun gapura, hingga renovasi tempat-tempat umum.

Biaya yang dibutuhkan persiapan lomba desa tentu nggak sedikit. Bahkan, warga harus rela ngangsur beberapa bulan demi “membangun desa” agar tampak gemerlap seperti “kota”. Dari sini sebenarnya sudah kelihatan kalau lomba desa tak lebih sekedar ajang untuk memeras keringat warga, karena pemerintah pengennya lihat kemajuan saja tanpa turun ke lapangan (baca: nggak mau modal).

Selain diminta iuran, warga di desa saya saat itu juga terpaksa harus membabat habis tanaman teh-tehan dan pepohonan di sekitar rumah. Padahal, sebelum lomba desa, kampung saya masih tampak begitu asri dan alami. Tapi, setelah kegiatan lomba desa dilaksanakan, pohon-pohon rindang dan pagar tanaman teh-tehan di sekitar rumah porak-poranda, digantikan pagar tembok tinggi menjulang.

Perbudakan gaya baru jelas terasa ketika persiapan lomba desa. Nyaris berbulan-bulan warga sekitar diminta untuk membangun berbagai fasilitas yang sebenarnya nggak penting-penting amat. Kayak bikin plang tulisan anjuran KB, tulisan jam belajar masyarakat, banner-banner menyambut tim juri, hingga beragam umbul-umbul nirfaedah lainnya. Dan, kerja paksa kerja bakti itu dilakukan secara maraton, serba dadakan.

Entah kenapa setiap ada kegiatan yang diadakan pemerintah, masyarakatlah yang ujung-ujungnya mengeluarkan biaya. Bahkan, untuk menghaluskan jalan, mengadakan penerangan jalan, hingga renovasi fasilitas umum, warga harus mandiri (baca: patungan). Kadang suka mikir, apa sih guna pemerintah setempat kalau semua urusan pada akhirnya ditanggung warga? Klasik sih, tapi emang gitu kenyataannya.

Pemerintah bahagia, warga merana

Lomba desa, baik tingkat kabupaten maupun provinsi, bagi saya cuma akal-akalan pemerintah saja agar warga terus-terusan mandiri membangun berbagai fasilitas di kampung halaman. Kita tahu, sebagian warga masyarakat masih memiliki jiwa serba ewuh-pekewuh dan “nggah-nggih” (baca: nggak enakan) kalau nggak nuruti kemauan pemerintah setempat. Sebab, ancamannya cukup serius. Misal nggak patuh, bisa dianggap sebagai warga yang membangkang, nggak umum batur, dan bisa dilemahke putih (baca: tidak dianggap warga).

Sifat serba ewuh-pekewuh itu nggak jarang dimanfaatkan pemerintah lokal untuk “memperbudak” warga masyarakat. Nggak cuma diperas secara tenaga, tapi juga materi. Bayangkan saja, warga di desa saya yang rata-rata berprofesi sebagai tukang bangunan dan petani, terus-terusan diminta iuran untuk mengadakan berbagai kegiatan, tak terkecuali lomba desa nirfaedah itu. Ibaratnya, cari makan saja susah, lha kok disuruh bantu pemerintah yang notabene adalah pelayan rakyat, piye iki logikane?

Katanya sih, lomba desa bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dan meningkatkan kepekaan warga agar lebih peduli dengan lingkungan sekitar. Saya kira, kalau cuma urusan meningkatkan partisipasi saja, warga sudah ahlinya ahli. Nggak harus bikin kegiatan lomba desa, sejak dulu warga di pelosok desa itu sudah sangat peduli dengan tetangga dan lingkungan sekitar, ygy. Kalau ada tetangga sakit, ya menjenguk. Misal ada yang bikin rumah, ya ikut sambatan. Jadi, ya, nggak heran kalau banyak pihak yang menuding kalau lomba desa cuma akal-akalan pemerintah pusat biar warga mau keluar uang, dan pemerintah setempat tinggal nyawang doang.

Baca Juga:

Pemerintah Bangkalan Madura Nggak Paham Prioritas, Memilih Sibuk Bikin Ikon Pendidikan daripada Perbaiki Kualitas Pendidikan

5 Cara Legal Boikot Pemerintah yang Ugal-ugalan

Saya kira semua orang tahu kalau lomba desa sebenarnya ajang “tipu-tipu” semata. Ini sudah jadi rahasia umum, biar meraih juara pertama, ((biasanya)) nggak sedikit pemerintah setempat yang “memalsukan” dokumen, laporan, atau buku-buku administratif berkaitan dengan desa. Katanya sih mirip sekolah atau kampus kalau mau ngejar akreditasi itu, semua kerja lembur nggarap pembukuan ini itu demi kenaikan akreditasi. Katanya lho ini~

Artinya, kalau menang, adanya kegiatan lomba desa ini sesungguhnya hanya menguntungkan “sang kepala” saja. Bukankah ini kesempatan bagus buat membangun citra politikus lokal di mata dunia, ygy? Jadi, ya, nggak heran sih saat persiapan lomba, para pejabat lokal ini begitu vokal dan “maksa” warga agar mau keluar materi dan tenaga.

Tentu saja saya nggak serta merta menyalahkan aparatur setempat saja. Sebab, saya sadar betul bahwa di balik agenda lomba desa ada skenario yang jauh lebih besar di atas sana. Tapi saya nggak mau membahas lebih jauh perkara itu (risikone gede). Yang jelas saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kegiatan ini sangat membebani dan menyengsarakan warga. Atas nama “pembangunan”, berulang kali masyarakat akar rumput terus-terusan diperas dan menjadi tumbal para elit. Dan, inilah kabar dari desa, pemerintah bahagia, warga merana.

Penulis: Jevi Adhi Nugraha
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bali Desa Mbangun Desa: Diminta Membantu, Realitasnya Perbudakan Gaya Baru

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2022 oleh

Tags: lomba desapemerintahrepotwarga
Jevi Adhi Nugraha

Jevi Adhi Nugraha

Lulusan S1 Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berdomisili di Gunungkidul.

ArtikelTerkait

Festival Tawuran Jaksel: Kenapa sih Pemerintah Berlomba Bikin Ide Konyol?

Festival Tawuran Jaksel: Kenapa sih Pemerintah Berlomba Bikin Ide Konyol?

13 Oktober 2022
Cerita Prihatin yang Mungkin Dipahami Pedagang Pinggir Jalan Ketika Hujan terminal mojok.co

MasyaAllah, Negara Mana Coba yang Pemerintah dan Rakyatnya Qanaah Kayak Kita?

19 Mei 2020
Ibu Kota Jawa Timur Boleh Pindah ke Mana Saja, Asal Nggak ke Lamongan

4 Hal Tidak Menyenangkan Jadi Warga Kabupaten Lamongan

11 Maret 2022
Jadi Bendahara RT Itu Berat, Hindari 4 Hal Ini kalau Mau Selamat

Jadi Bendahara RT Itu Berat, Hindari 4 Hal Ini kalau Mau Selamat

5 Januari 2024
teori konspirasi chemtrails teluuur mojok

Alasan Teori Konspirasi Chemtrails yang Didengungkan Teluuur Bisa Dipercaya dan Diterima Banyak Orang

11 Juli 2021
Polisi Tidur: Dibutuhkan Warga, tapi Bikin Jengkel Pengendara karangmalang

Polisi Tidur: Dibutuhkan Warga, tapi Bikin Jengkel Pengendara

2 Februari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebumen Kecamatan Aneh, Kadang Sulit Dipahami Pendatang (Unsplash)

Pengakuan dari Saya, Warga Asli Kebumen yang Menyadari Bahwa Daerah Saya Memang Sulit Dipahami Khususnya Para Pendatang yang Sedang Beradaptasi

31 Mei 2026
Korupsi Mandala Krida Bunuh Marwah Jogja Kota Budaya (Wikimedia Commons)

Kasus Korupsi Mandala Krida Membuat Jogja Kehilangan Marwahnya Sebagai Kota Beradab

29 Mei 2026
Teman Saya Orang Surabaya Nggak Suka Makan Rawon, dan Alasannya Masuk Akal Mojok.co

Tidak Semua Lidah Orang Surabaya Doyan Makan Rawon, Beberapa Ada yang Trauma dengan Alasan yang Masuk Akal

26 Mei 2026
4 Pasar Kalcer Jogja yang Bisa Dikunjungi Selain Pasar Ngasem Mojok.co

4 Pasar “Kalcer” yang Bisa Dikunjungi kalau Bosan ke Pasar Ngasem Jogja

29 Mei 2026
Pantai Depok Batang, Destinasi Indah yang Berdampingan dengan Krisis Lingkungan Pesisir Mojok.co

Pantai Depok Batang, Destinasi Indah yang Berdampingan dengan Krisis Lingkungan Pesisir

30 Mei 2026
Perayaan Waisak di Borobudur: Momen Sakral yang Bawa Berkah bagi Warga Magelang

Perayaan Waisak di Borobudur: Momen Sakral yang Bawa Berkah bagi Warga Magelang

31 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.