Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Olahraga

Liga Indonesia Saat Ini Adalah Panggung Kuasa Modal: Serupa Mesin Industri Pragmatis Tanpa Ruh

Rosnindar Prio Eko Rahardjo oleh Rosnindar Prio Eko Rahardjo
10 Mei 2026
A A
Liga Indonesia Saat Ini Seperti Mesin Industri Pragmatis Tanpa Ruh (Unsplash)

Liga Indonesia Saat Ini Seperti Mesin Industri Pragmatis Tanpa Ruh (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Persipura Jayapura kalah. Mutiara Hitam bersedih. Papua menangis. Mereka gagal kembali ke kasta tertinggi Liga Indonesia.

Yang mengalahkan bukan klub sembarangan. Tapi klub yang secara sejarah memang belum ada sejarah: Adhyaksa FC. Di laga play-off Liga Championship, Jumat (8/5/2026), Persipura takluk. 0-1.

Menyusul Adhyaksa, ada nama lain yang juga sukses promosi ke kasta tertinggi Liga Indonesia: Garudayaksa. Keduanya melenggang gagah. Membawa tiket mahal bernama promosi.

Anda sudah tahu apa persamaan kedua klub itu? Dua-duanya tidak punya basis suporter yang berisik. Dua-duanya tidak punya sejarah panjang. Dan yang paling mencolok, dua-duanya tidak memiliki akar pembinaan usia dini yang mengakar di masyarakat.

Lalu apa yang mereka punya? Uang. Modal. Stabilitas. Dukungan institusi.

BACA JUGA: Semisal Tim Sepak Bola Indonesia Menggunakan Konsep Nama Seperti di J. League

Liga Indonesia saat ini sebatas mesin industri pragmatis

Ini fenomena luar biasa. Sekaligus tamparan keras bagi romantisme Liga Indonesia. Lapangan hijau kita sedang bergeser. Berubah wujud. Dari panggung teatrikal kultural, menjadi mesin industri pragmatis.

Kita pinjam kaca mata sosiolog kondang asal Prancis, Pierre Bourdieu, yang punya teori terkenal tentang “Arena” dan “Modal”. Arena itu ya lapangan sepak bola kita ini. Di dalam arena, orang bertarung menggunakan berbagai jenis modal.

Baca Juga:

5 Hal yang Bisa Dibanggakan dari Kota Bandung meski Tata Kelolanya Buruk dan Transportasi Umumnya Tidak Layak

8 Aturan Tak Tertulis di Surabaya yang Wajib Kalian Tahu Sebelum Datang ke Sana

Selama puluhan tahun, mereka yang mempunyai “Modal Sosial” dan “Modal Kultural” menguasai Liga Indonesia. Persipura Jayapura, Persebaya Surabaya, Persiba Balikpapan, Persib Bandung, PSM Makassar, PSIS Semarang, atau Persija Jakarta adalah contoh nyatanya. Modal kultural mereka adalah sejarah panjang dan identitas kedaerahan. Modal sosial mereka adalah jutaan suporter fanatik.

Dulu, dengan dua modal itu, klub bisa hidup. Suporter adalah nyawa. Legitimasi.

Tapi hari ini, aturan di arena itu sudah diganti. Adhyaksa dan Garudayaksa (sebelumnya Dewa United), datang membawa “Modal Ekonomi” dan “Modal Simbolik” (kuasa institusi). Ternyata, modal uang dan tata kelola birokratis yang stabil bisa menggilas habis modal kultural sebesar apa pun.

Persipura punya bakat alam paling hebat di republik ini. Tapi Adhyaksa dan Garudayaksa punya uang untuk membeli pelatih taktik terbaik, gizi terbaik, dan pemain matang yang siap pakai. Uang, pada akhirnya, bicara lebih keras dari sejarah di Liga Indonesia.

Evolusi yang terjadi

Secara teori ekonomi-politik olahraga, ini sebenarnya evolusi yang masuk akal. Dulu klub-klub tradisional Liga Indonesia kita manja. Menetek pada APBD. Uang rakyat. 

Begitu pemerintah mengharamkan penggunaan APBD untuk sepak bola profesional, klub kelimpungan. Mereka harus cari sponsor dan jualan merchandise demi berkiprah di Liga Indonesia. Banyak yang gagal karena manajemennya masih amatiran.

Di tengah kebingungan itu, masuklah klub-klub institusi. Mereka mengambil alih ruang kosong. Klub-klub ini tidak pusing soal APBD. Kantong penyokongnya tebal. Manajemen keuangannya rapi. Gaji pemain tidak pernah telat. Pemain main tenang. Bebas stres. Tentu saja, mereka menang.

Bagus dong?

Untuk jangka pendek: ya. Sangat bagus. Liga Indonesia butuh klub yang sehat secara finansial.

Tapi untuk masa depan sepak bola Indonesia? Nanti dulu. Ada bahaya besar yang mengintip di depan mata.

Bahaya besar mengintip Liga Indonesia

Dalam teori manajemen olahraga (sports management), ekosistem sepak bola yang sehat harus berbentuk piramida. Bawahnya lebar. Akar rumputnya kuat. Pembinaan usia dini (akademi) adalah fondasi mutlak.

Adhyaksa dan Garudayaksa ini tidak punya pabrik. Mereka ini seperti toko ritel elite. Hanya jeli kulakan barang jadi. Keduanya membeli pemain yang sudah matang di bursa transfer. Kalau semua klub kasta tertinggi Liga Indonesia modelnya begini, memutus urat nadi pembinaan, lalu siapa yang memproduksi pemain?

Jika tidak ada yang mau bersusah payah membina anak usia 10 atau 12 tahun, ekosistem kita akan jadi parasit. Timnas Indonesia akan kekeringan darah segar. Ujung-ujungnya, Anda sudah bisa menebak: PSSI akan terus-terusan membuka keran naturalisasi.

Bahaya kedua lebih menakutkan lagi. Bahaya sosiologis. Namanya: Alienasi. Keterasingan.

Sepak bola itu bukan sekadar menendang bola kulit bundar masuk ke gawang. Sepak bola adalah eskapisme. Pelarian. Teater emosi bagi kelas pekerja dan masyarakat luas. Sepak bola butuh suporter. Butuh tangis, parade makian di tribun, dan nyanyian yang menjadi sejarah.

Bayangkan Liga 1 musim depan. Pertandingan Super Sunday. Adhyaksa melawan Garudayaksa. Disiarkan langsung di jam prime time.

Tapi stadionnya kosong. Hening. Hanya ada suara pelatih yang berteriak dari pinggir lapangan dan suara bola ditendang.

Tidak ada ruhnya. Hampa.

BACA JUGA: Persebaya Surabaya Wajib Menangan dan Menjadi Juara: Tentang Brand Loyalty dan Suporter Rasa Customer

Uang bisa membeli prestasi

Kalau ini terjadi terus-menerus, nilai jual Liga Indonesia di mata televisi akan anjlok. Sponsor akan lari. Kenapa? Karena industri televisi tidak membeli pertandingan sepak bola. Televisi itu membeli emosi dan drama. Dan drama itu diciptakan oleh interaksi panas antarsuporter. Sepak bola tanpa suporter tak ubahnya seperti pertandingan antarkantor di hari Jumat pagi. Sehat, tapi tidak menjual.

Maka, fenomena ini adalah pelajaran mahal untuk semua pihak.

Bagi Persipura dan klub tradisional lainnya di Liga Indonesia, berhentilah meratap. Sejarah besar dan suporter fanatik tidak bisa lagi kalian pakai untuk membayar gaji pemain. Kalian harus berbenah menjadi korporasi yang profesional.

Bagi Adhyaksa dan Garudayaksa: selamat datang di kasta tertinggi Liga Indonesia. Kalian sudah membuktikan uang dan stabilitas bisa membeli prestasi. Tapi tugas kalian baru dimulai. Kalian punya utang pada sepak bola Indonesia.

Segeralah bangun akademi. Turunlah ke masyarakat. Bangunlah basis suporter secara organik. Jangan biarkan uang membuat kalian terasing dari hakikat sepak bola itu sendiri. Sebab, sehebat apapun sebuah tata kelola, sepak bola yang dimainkan tanpa penonton pada akhirnya akan mati kesepian.

Penulis: Rosnindar Prio Eko Rahardjo

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Merindukan Sepak Bola Indonesia lewat Cerita Lucu Para Pencintanya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Mei 2026 oleh

Tags: AdhyaksaGarudayaksaLiga 1liga indonesiapersebayaPersib BandungpersijaPersipurapromosi liga indonesiaPSM Makassar
Rosnindar Prio Eko Rahardjo

Rosnindar Prio Eko Rahardjo

Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura.

ArtikelTerkait

jadi presiden selama sehari lambang negara jokowi nasionalisme karya anak bangsa jabatan presiden tiga periode sepak bola indonesia piala menpora 2021 iwan bule indonesia jokowi megawati ahok jadi presiden mojok

Iwan Bule, Ketua PSSI Terbaik Sepanjang Masa

30 Desember 2020
5 Hal yang Bisa Dibanggakan Kota Bandung meski Tata Kelolanya Buruk dan Transportasi Umumnya Tidak Layak

5 Hal yang Bisa Dibanggakan dari Kota Bandung meski Tata Kelolanya Buruk dan Transportasi Umumnya Tidak Layak

6 Januari 2026
makassar

Tentang “Maaf Sekadar Mengingatkan” yang Lagi Tren di Makassar

9 Agustus 2019
liga 2 judi bola shin tae-yong konstitusi indonesia Sepakbola: The Indonesian Way of Life amerika serikat Budaya Sepak Bola di Kampung Bajo: Bajo Club dan Sejarahnya yang Manis terminal mojok.co

Sepak Bola Indonesia Sudah Bermasalah dari Hulunya: Curhatan Pemain Tarkam

7 Desember 2020
persebaya

Persebaya Bukan AC Milan, Surabaya Bukan Napoli

20 Juni 2020
Alasan Orang Bekasi Lebih Ngefans Persija Jakarta daripada Persipasi dan Persikasi Mojok.co

Alasan Orang Bekasi Lebih Ngefans Persija Jakarta daripada Persipasi dan Persikasi

5 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bioskop Sukabumi Nggak Menarik, Warga Pilih Nonton di Bogor daripada di Kota Sendiri Mojok.co

Bioskop Sukabumi Nggak Menarik, Warga Pilih Nonton di Bogor daripada di Kota Sendiri

5 Mei 2026
Bangkalan Madura Nggak Selalu Jelek, Pengalaman Cetak Ulang KTP di Mal Pelayanan Publik Membuktikan Sebaliknya Mojok.co

Urus KTP di Bangkalan Madura Ternyata Tidak Menjengkelkan seperti yang Dikira

5 Mei 2026
Jalan Raya Narogong, Gerbang Neraka di Timur Bekasi: Pagi Kena Macet Truk Sampah, kalau Malam Dikuasai Kontainer

Jalan Raya Narogong, Gerbang Neraka di Timur Bekasi: Pagi Kena Macet Truk Sampah, Malam Dikuasai Kontainer

5 Mei 2026
Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas Terminal

Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas

8 Mei 2026
UT Adalah Teman bagi Orang-orang yang Mengejar Mimpi dalam Sunyi Mojok

UT Adalah Teman bagi Orang-orang yang Mengejar Mimpi dalam Sunyi

9 Mei 2026
Orang Kampung Berubah Jadi Picky dan Menyebalkan ketika Berhadapan dengan Makanan “Kota”

Orang Kampung Berubah Jadi Picky dan Menyebalkan ketika Berhadapan dengan Makanan “Kota”

3 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Membaca Peluang Ekonomi di Tengah Pertumbuhan Transaksi Digital, AstraPay Berkomitmen Bantu Tingkatkan Daya Saing UMKM
  • Alumnus UNJ Jurusan Pendidikan Bahasa Perancis, Pilih Berkebun di Bogor sekaligus Ajak Warga Keluar dari Jurang Kemiskinan
  • JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk
  • Sekolah Kemitraan di Jawa Tengah bikin Menangis Haru, Anak Miskin Bisa Sekolah Gratis dan Kejar Mimpi
  • Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat
  • Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.