Sebagai alumni Universitas Terbuka (UT), saya masih sering membaca cuitan mahasiswa UT di forum-forum di media sosial. Membaca curhatan para mahasiswa ini membuat saya seperti sedang bernostalgia. Bagaimanapun saya pernah ada di posisi mereka. Pernah buka tutup Learning Management System (LMS) untuk intip-intip tugas, membaca modul di sela-sela jam istirahat, hingga merasakan sensasi ujian online.
Saat membaca curhatan mahasiswa UT, tak jarang saya menemukan cuitan yang bernada keluhan. Ada yang mengeluh tugas terlalu banyak lah, waktu mengirimkan tugas terlalu mepet lah, hingga susahnya dapat nilai bagus di UT. Bahkan, ada yang sampai menyalahkan sistem pembelajaran di sini.
Haduh, Dek, yok bisa yok kurang-kurangin ngeluhnya. Pakai segala ngeluhin sistem pembelajaran di UT. Sistem di kampus ini sudah bagus, lho. Kalau nggak bagus, nggak mungkin UT bolak-balik jadi bahan rujukan dalam hal pembelajaran jarak jauh.
Baca juga: Kuliah Sekarang: Bayarnya ke Kampus, tapi Terpaksa Cari Ilmu di Warung Kopi.
Ingin serba instan
Setelah saya pikir-pikir, bisa jadi keluhan yang dilontarkan mahasiswa UT ini berkaitan dengan penyakit klasik manusia yang selalu ingin serba cepat. Pokoknya dalam banyak hal, penginnya tuh yang instan. Agak-agaknya mereka lupa bahwa untuk masak mie instan sekalipun harus ada effort merebus air terlebih dahulu. Nggak bisa ujug-ujug matang dalam satu kedipan mata. Itu mie instan, lho, ya. Apalagi kuliah.
Sudah, tidak usah bawa-bawa gen Z. Penyakit ingin yang serba gampang ini sebenarnya bukan penyakit satu angkatan. Aslinya ya apa pun generasinya, kalau boleh milih, pasti pilih jalan yang mudah dan cepat. Cuma kebetulan saja para gen Z ini lebih bisa mengekspresikannya.
Sistem belajar UT tidak Instan, tapi terstruktur
Saya tuh gemes ya dengan mahasiswa UT yang maido sistem pembelajaran di UT. Apanya coba yang pantas dipaido? Btw, “paido” itu maksudnya menjelek-jelekkan, ya Gaes ya.
Secara nyata, sistem belajar di UT dirancang dengan kesadaran penuh bahwa mahasiswa Ukampus ini datang dari latar belakang yang beragam. Ada yang bekerja penuh waktu, ada yang sudah berkeluarga, ada pula yang baru memulai hidup dewasa. Karena itu, UT menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh yang berbasis kemandirian, bukan ketergantungan pada ruang kelas.
Mahasiswa UT belajar menggunakan modul yang disusun secara sistematis, lengkap, dan bisa dipelajari secara mandiri. Di beberapa mata kuliah, pembelajaran juga didukung dengan tutorial, baik tatap muka maupun online, untuk membantu mahasiswa yang membutuhkan pendampingan.
Lalu soal evaluasi. Evaluasi di UT pun dilakukan secara terukur. Ada tugas, ada diskusi, ada ujian. Sistem ini menuntut tanggung jawab pribadi. Tidak ada dosen yang mengejar-ngejar, tidak ada absensi harian yang memaksa. Yang ada adalah kepercayaan, sekaligus tuntutan kedewasaan.
Artinya, sistemnya sudah bagus, MyLov. Sudah bagus~
Kuliah di UT memudahkan, tapi tidak memanjakan
Kalau soal anggapan kuliah di UT itu sulit alias tidak mudah… Duh, gimana ya ngomongnya?
Gini, lho, Dek. Tolong pahami bahwa “mudah” itu bukan berarti “tanpa usaha”. Kalau sedari awal kamu berpikir mudah itu tanpa usaha ya… nggak bakal ketemu. Sampai kiamat pun kamu bakal terus mengira kalau UT itu tidak mudah.
Nyatanya, sistem di UT itu mudah. Bukan mudah lulus atau mudah dapat nilai yang bikin kamu jadi manja, ya. Tetapi UT memaknai kemudahan secara berbeda. Mudah versi UT adalah mudah aksesnya, mudah waktunya, dan mudah ruang belajarnya. Dengan sistem seperti ini, kampus terbukti mencetak lulusan yang terbiasa mengatur waktu, membaca dengan serius, dan bertanggung jawab pada pilihannya sendiri.
Mengubah mindset dari cepat ke tepat
Saran saya ya Dek, ya, kurang-kurangin ngeluhnya, perbanyak muhasabah. Bisa jadi bukan sistemnya yang salah, tapi kamunya. Mending ubah mindset kamu dalam memandang tujuan. Jangan terlalu fokus pada hasil yang cepat, sampai lupa bertanya: apakah sistemnya mendukung kita untuk bertahan sampai akhir?
Karena kenyataannya, sistem di UT sudah dirancang sedemikian rupa sebagai kawan seperjuangan bagi kalian untuk meraih impian.
Yakin, deh, ketika mindset berubah, keluhan pun akan berkurang. Tugas tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai alat belajar. Ujian tidak lagi dianggap penghalang, tetapi penanda sejauh mana kita benar-benar memahami.
Sekian ya Dek ya. Baik-baik kuliahnya. Jangan ngeluh-ngeluh bae.
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Intan Ekapratiwi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















