Sebagai Anak Kampung yang Kuliah, Saya Dianggap Master of Everything – Terminal Mojok

Sebagai Anak Kampung yang Kuliah, Saya Dianggap Master of Everything

Artikel

Barangkali hal yang paling dan akan selalu saya syukuri sepanjang hayat adalah kesempatan langka yang saya dapatkan untuk merantau dan kuliah di Pulau Jawa. Sebabnya tidak terlalu muluk-muluk, banyak dari teman sebaya saya yang paling banter menyelesaikan pendidikan setingkat SMP atau SMA. Itu pun kalau mereka belum kebelet nikah atau tergiur uang hasil dari jadi nelayan tradisional yang sebenarnya penghasilannya juga tidak terlalu menunjang untuk hidup.

Demi mendapat kesempatan yang hanya beberapa persen dari hampir seribuan warga desa, saya tentu tidak akan menyia-nyiakannya. Maka segala bentuk pengetahuan di dunia kuliah, dunia informasi dan keterampilan yang sekiranya mampu saya kuasai, saya pelajari. Dari sekadar kemampuan Office yang selama sekolah tidak pernah saya dapatkan, sampai kemampuan selam memakai alat scuba, dan kemampuan survival di gunung. Soal kemampuan selam sih, di kampung malah jadi mainan sehari-hari. Tapi dengan alat scuba yang lengkap, mungkin hanya saya dan adik saya seorang yang punya kesempatan mencobanya.

Tidak berhenti sampai di situ saja. Kemampuan teknologi adalah sesuatu yang paling jadi perhatian saya. Segala teknologi, walau tidak perlu dapat membuat atau sekadar memperbaiki, saya harus tahu sedetail yang bisa saya pelajari dan ingat.

Maka perihal spesifikasi ponsel dan laptop pada zaman itu, orang-orang di desa saya bisa menjadikan saya sebagai rujukan. Dan memang itu yang terjadi. Untuk sekadar membeli laptop, teman-teman saya yang juga merantau dan kuliah tapi tidak di Pulau Jawa atau menetap di desa, sering sekali menanyakan hal seputaran teknologi ini kepada saya.

Mereka menanyakan spesifikasi satu merek laptop tertentu beserta kisaran harganya. Lalu besoknya menanyakan lagi spesifikasi dan kisaran untuk laptop merek lainnya. Besoknya baru menanyakan sekiranya keunggulan dan kelemahan kedua laptop tersebut serta rekomendasi saya jika disuruh memilih. Di situ, saya merasa posisi saya bahkan sudah ngalah-ngalahin David Gadgetin, yang terkenal mukanya datar banget itu. Padahal ya kebanyakan infonya ya saya dapat juga dengan berselancar di internet.

Selanjutnya, misalkan orang ini tadi jadi membeli laptop, tentu saja saya lagi yang direpotkan. Saya masih harus mengurus pengirimannya ke kota di mana ia kuliah atau ke kampung. Walau saya juga mendapat “ongkos keringat”, tapi kadang hal ini juga bikin saya jenuh.

Nah, kabar kebiasaan saya perihal teknologi inilah yang sampai sekarang saya anggap sebagai senjata makan tuan karena tersebar ke semua orang di kampung. Saya bahkan dicap sebagai master of everything. Semua hal bisa saya lakukan. Semua barang bisa saya perbaiki. Apalagi jika itu urusannya dengan teknologi canggih yang bahkan mungkin di desa saya, barang itu disangkanya milik alien.

Awal saya berkarier sebagai teknisi dadakan ini, pernah dibayar 50 ribu hanya untuk meng-install Office di laptop milik desa. Awalnya saya malah mikir, jangan-jangan ini gratifikasi yang akan mengantarkan saya berurusan dengan KPK? Namun, setelah banyak sekali pekerjaan yang saya dapat terkait perbaiki memperbaiki ini, saya jadi sadar, emang warga desa saya ini ternyata terbelakangnya minta ampun dalam hal teknologi. Slogan “lebih pintar teknologi daripada orangnya” mungkin akan sangat cocok untuk masyarakat di desa saya.

Dan demi dikira master of everything, maka sekadar mengganti background wallpaper hape agar sesuai gambar yang diinginkan, sampai dengan install dan rekomendasi aplikasi, nama saya selalu nangkring di kepala orang-orang.

Pernah sekali waktu saya diminta mbak saya sendiri untuk memperbaiki mixer kue dan blendernya yang rusak. Mohon maaf, saya kuliah jurusan Oseanografi bukan jurusan Elektro atau Teknologi Informasi. Lagian kalaupun saya kuliah di kedua jurusan itu, belum tentu juga saya bisa langsung mampu memperbaiki alat yang dimaksud? Mentok-mentok ya bongkar, habis itu pasang kembali dengan kondisi dua atau tiga sekrupnya hilang entah ke mana.

Kondisi yang menganggap saya tahu segala hal ini ternyata tidak berhenti hanya sampai memperbaiki barang. Pada satu waktu, saya pernah diminta seorang teman untuk mencari cara agar bisa teleponan dan internetan tidak pakai pulsa dan data lagi. Jadi mikirnya blio, seharusnya ada kondisi di mana kita sebagai pengguna teknologi ini, layaknya menggunakan radio yang hanya memerlukan medium dan alatnya. Tidak butuh lagi pulsa dan terutama data untuk internetan.

Masuk akal sih, tapi sekiranya pertanyaan itu tidak usah diberi kepada saya. Saya tegaskan sekali lagi, saya (saat itu) hanya mahasiswa oseanografi, yang tahu banyak mengenai teknologi juga dari pencarian di mbah gugel. Saya bukan ilmuwan yang tahu dan mencipta berbagai hal.

Sayangnya, sebesar saya menjelaskan bahwa saya bukan ahli dalam segala hal, sebesar itu pula gelombang permintaan kepada saya untuk memperbaiki segala sesuatu yang rusak di desa saya. Mungkin ada baiknya saya menetap saja di Pulau Jawa ini.

BACA JUGA Setelah Masuk Oseanografi, Saya Jadi Tahu kalau Hal Mistis di Laut Bisa Dinalar dan tulisan Taufik lainnya.

Baca Juga:  Cabut Kuliah Ekonomi, Masuk Sastra, eh Malah Ingin Jadi Pengusaha

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Baca Juga:  Starter Pack Wajib Saat Lockdown dengan Kearifan Lokal alias Menjemur Padi

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.