Pesan untuk Diriku di Masa Lalu: Mencintai Persiba Adalah Destinasi yang Tepat – Terminal Mojok

Pesan untuk Diriku di Masa Lalu: Mencintai Persiba Adalah Destinasi yang Tepat

Artikel

Gusti Aditya

Untuk diriku yang tidak bisa membedakan mana kecebong dan mana ikan cethul. Untuk diriku yang selalu berdebat dengan teman sewaktu SD bahwa kelak, Naruto akan menjadi anggota Akatsuki karena fanart yang kamu telan mentah-mentah. Juga, lagi-lagi untuk diriku yang selalu takut angkat bicara ketika ada keresahan, selalu diam dalam perasaan mual penuh ketakutan. Tak apa, kamu akan hebat pada waktunya.

Silakan lakukan yang ingin kamu lakukan; baca komik, main beyblade sampai mental ke kepala orang, koleksi wadah rokok dari sampah-sampah, bilangnya ekstra drum band padahal habiskan waktu di Dino untuk bermain Tamiya, main PS-2 dengan curang karena stik untuk lawan kamu kendurkan kabelnya, ngobrolin novelnya Enny Arrow sama kakak kelas, naik sepeda dari Banguntapan ke Pujokusuman, tak apa. Kalau kata Puthut EA, kamu adalah bajingan yang menyenangkan.

Aku bangga pada diriku yang dulu, selalu memperoleh ranking lima terbawah. Dari SD hingga SMP, rekor tersebut seakan tak mau lepas. Tak apa, hal tersebut justru membuat guru-guru dekat denganmu. Bukan dekat atas dasar bangga, tapi prihatin. Ah, apa pun faktor di belakangnya, terminologi dari dekat tidak akan lepas dari semestinya.

Aku juga bangga kepada diriku yang dulu. Walau ketika Piala Dunia 2006 semua menjagokan Italia, dengan bodohnya kamu memilih Inggris. Pasang seratus ribu pula, aduh! Juga, ketika teman-temanmu memilih Manchester United sebagai tambatan hati, entah mengapa kamu justru memilih Liverpool. Adalah pilihan yang aneh karena pada saat itu Liverpool sedang meredup, hilang ditelan hegemoni Sir Alex Ferguson. Tak apa, aku percaya bahwa pilihanmu itu adalah beralasan dan tepat.

Namun, jangan kaget jika semua permasalahan itu akan datang. Bukan perkara cinta, bukan pula perkara keluarga, melainkan sepak bola Indonesia yang akan menemukan jalan terjal. Terlebih, tim sepak bola lokal pilihanmu, tambatan hatimu, walau tak semerah Liverpool, tapi darah yang dihasilkan tak kalah pekatnya.

Persiba atau tim lokal daerah Bantul adalah pilihan yang dirimu tak akan terelakan. Aku tidak akan menceritakan bagaimana pertemuan pertama dirimu dan Persiba. Percaya dengan ucapan Mbah Herakleitos, panta rhei kai uden menei, semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal tetap. Memang aneh, ketika teman-temanmu memilih PSIM dan PSS, tapi percayalah, pilihanmu tidak ada yang salah.

Untuk diriku yang dulu, aku peringatkan satu hal, sepak bola merupakan sebuah penyelamat bagi segenap jiwa yang malang di dunia nyata. Kebanyakan dari mereka akan mencintai sebuah tim yang luar biasa hebat agar moral selalu berkibar dalam dirinya yang letih akan kehidupan. Ketika sepak bola—lebih tepatnya adalah klub yang ia cinta—mengalami masa paceklik, apa yang harus dilakukan? Kebanyakan orang akan melupakan dan mencari yang baru dengan segenap suka cita yang telah diperbaharui.

Hal-hal manja dan rumahan yang dirimu temui sejak kecil, akan memudar beriringan dengan datangnya Persiba dalam kehidupanmu. Eksodus besar-besaran akan terjadi kepada warga Bantul yang menyebrang ke Solo dalam penghujung akhir Divisi Utama edisi 2011. Dan dirimu adalah salah satu di antara ribuan orang itu. Terhimpit dalam semarak, bergelora yang menyeruak. Semua akan pergi ke Manahan, menjadi saksi bahwa sepak bola yang selama ini kau junjung sedang naik-naiknya. Namun, tidak usah kaget jika seusai pulang dari Solo, tim yang kau dukung sebenarnya sedang tidak baik-baiknya.

Ingatlah nama-nama penting itu. Nama-nama pahlawan yang tak akan mungkin dibuatkan patung di depan Stadion Sultan Agung. Nama-nama seperti Busari dan Slamet Nurcahyo pun pernah merumput bersama PSS dan ketika itu mereka pula merasakan pahitnya berhenti di tengah liga yang sedang berjalan lantaran bencana gempa. Kemudian ada Wahyu Tri Nugroho dan Wahyu Wijiastanto yang pernah merumput bersama Persis hingga Ugiex Sugianto dan M. Ansori yang pernah membela panji PSIM. Tidak ada yang memusuhi Persiba lantaran ketika saat itu, mereka seakan merepresentasikan sepak bola Yogyakarta.

Aku ingat betul, dirimu akan ngetweet begini, “Setelah ini apa? Juara ISL?” Ah, jumawa betul ketika itu. Akan aku beritahu, setelah 2011 adalah neraka bagimu, diriku yang dulu. Setelah 2011, sepak bola Indonesia sempat mati suri—alih-alih mengatakan bahwa dualisme buntut dari orang-orang rakus lebih kasar—lantaran dualisme dalam bentuk terdapat dua liga di kasta teratas. Yakni, ISL (Indonesia Super League) dan IPL (Indonesia Premier League).

Persiba memilih IPL, kompetisi yang bermaksud baik, yakni mengusung konsep industrialisasi dan profesionalisme yang itu berarti APBD harus minggat dalam tubuh tim. Jika dirimu mendengar nama-nama seperti Real Mataram dan Tangerang Wolves, tolong jangan update tweet dengan suara sumbang dulu, ya? Tidak elok.

Kemudian, pada tahun 2014, semua klub IPL menyeberang ke ISL dan harus melalui proses verifikasi. Ya, Persiba lolos, tapi performa selanjutnya tidak menunjukkan bahwa mereka adalah representasi Yogyakarta, sebuah daerah yang lapar akan sepak bola. Dan pada tahun 2018, Persiba kembali degradasi ke Liga 3 usai kalah dari Sragen United yang kala itu diarsiteki oleh Kahudi Wahyu Widodo. Dan nyeseknya, blio adalah mantan pemain Persiba. Jembot!

Namun, ya itulah sepak bola. Komedi adalah abadi. Kemarin kita bisa tertawa bebas, hari ini kita menunduk lesu, bisa saja esok atau lusa kita kencing di celana karena tambah malu. Bisa saja. nggak ada yang bisa menebak kecuali cenayang. Ingat, separah apa pun, kamu harus tetap ada di posisi sulit ini.

Lalu, jika sudah seperti ini, apakah kamu akan beralih ke PSIM seperti teman-temanmu atau PSS yang kini bermain di kasta teratas? Jika ada perasaan seperti itu, coba ingat-ingat lagi sensasi geberan knalpot racing, kibaran bendera, wajah-wajah yang tertawa lepas, tersenyum dengan indah, setiap sabtu sore selalu menghiasi Jalan Imogiri Timur.

Deru bass drum, sorak sorai dan seorang ayah yang membisikan kepada anaknya bahwa gol kemenangan telah tercipta selalu terpanjat dengan khusyuk di Sultan Agung yang benar-benar agung. Dan itu warna merah. Bukan warna yang lain. Sebuah warna yang hadir kala kita lahir, sebuah warna yang terus mengalir walau menjadi getir.

Saranku untukmu diriku di masa lalu, bertahanlah sebentar saja sambil berbisik kepada Persiba yang sedang sakit saat ini. Sembari berkata, “Wayahe tangi, Ba, Persiba!” kecuali kalau masih nyaman, yowis mau gimana lagi.

BACA JUGA 4 Hal yang Sebaiknya Dilakukan Manchester United dan Ini Serius dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Baca Juga:  Kepindahan Daniele De Rossi dan Sesuatu yang Langka Saat Ini

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
8


Komentar

Comments are closed.