Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Beratnya Tugas Tukang Undang di Kampung Saya

Muhammad Zaid Su'di oleh Muhammad Zaid Su'di
20 November 2022
A A
Beratnya Tugas Tukang Undang di Kampung Saya

Beratnya Tugas Tukang Undang di Kampung Saya (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Salah satu praktik yang masih diugemi, dipegang teguh oleh masyarakat di Jogja adalah adanya tukang undang. Ia adalah seseorang yang diminta oleh sohibul hajat untuk mewakili dirinya mengundang para tetangga agar hadir di acaranya.

Jika di Surabaya, setidaknya di kampung saya, tugas ini sudah sering digantikan oleh selembar kertas yang cukup diantarkan oleh anak usia sekolah dasar, maka di Jogja, tugas itu masih dijalankan oleh seorang “profesional”. Seseorang yang sudah diakui dan dikenal sebagai tukang ngundangi.

Saya selalu kagum dengan penampilan tukang undang ini setiap kali mereka datang ke rumah. Mereka berbaju batik dan rapi. Layaknya tamu baru, mereka datang dengan sikap formal; menyalami tuan rumah, duduk di ruang tamu, lalu mengutarakan maksud kedatangan dalam urutan yang pakem.

Pertama-tama, ia menyampaikan maksud kedatangannya sebagai bentuk silaturahmi kepada tuan rumah. Selanjutnya, ia memperkenalkan posisinya sebagai wakil dari pihak sohibul hajat yang ingin mengundang tuan rumah dalam acara yang akan dihelat oleh sohibul hajat. Kemudian, ia mengucapkan pamit dan bersalaman kembali.

Protokol itu akan dijalankan dengan setia di setiap rumah. Dengan sikap resmi dan sopan santun yang sama. Bahkan kepada teman yang biasa diajak bercanda. Barangkali demi menjaga martabat sohibul hajat yang diwakilinya juga. Setahu saya, amat jarang undangan itu disampaikan di jalan, dengan alasan mumpung sedang ketemu.

Selesai menyampaikan undangan, tugas tukang undang tidak lantas usai. Selama acara hajatan berlangsung, ia harus mengamati siapa saja undangannya yang berhalangan hadir. Di Jogja, sepertinya tidak ada kebiasaan mewakilkan undangan kepada seorang anak yang masih kecil ketika sang bapak absen.

Oleh karena itu, tukang undang akan mencatat dalam ingatannya siapa saja yang tidak datang untuk memastikan jatah berkatnya tidak terlupakan. Ia akan melaporkan ke sohibul hajat dan akan “menggandulkan” jatah berkat tersebut melalui tetangga terdekat.

Setiap RT biasanya memiliki tukang undang sendiri. Ia semacam humas dengan tugas khusus. Jadi kalau ada sohibul hajat dari RT 3 hendak mengundang RT 2, misalnya, maka ia tinggal menemui tukang undang dari RT 2 untuk mewakili dirinya mengundang.

Baca Juga:

Orang Kampung Berubah Jadi Picky dan Menyebalkan ketika Berhadapan dengan Makanan “Kota”

Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna

Meski terlihat mudah, menjadi seorang tukang undang membutuhkan modal sosial yang tidak sedikit. Ada semacam konsensus yang harus dipenuhi oleh seorang tukang undang. Dari pengamatan saya yang asal-asalan selama tinggal di Jogja (minimal di dusun saya), setidaknya ada tiga kriteria penting yang mesti dimiliki oleh seorang tukang undang.

Pertama, ia haruslah pribadi yang luwes, komunikatif dan diterima semua kalangan. Kecakapan berkomunikasi saja tidak cukup. Banyak orang yang pandai bicara, tapi belum tentu bisa diterima semua orang. Orang yang memiliki banyak musuh atau terkenal memiliki banyak utang bisa jadi tidak masuk ke dalam kriteria ini. Akses mereka terbatas. Mereka juga akan merasa pakewuh kalau harus mengetuk rumah-rumah yang seharusnya ia hindari.

Kedua, mengenal semua anggota warga. Orang yang berhak mendapatkan undangan biasanya adalah yang sudah berkeluarga. Jadi, jika dalam satu rumah ada beberapa KK (kepala keluarga) dalam satu rumah, maka seorang tukang undang wajib menghafal siapa saja mereka. Syarat ini terutama untuk keperluan menentukan berapa jumlah “gandulan” yang harus dititipkan kalau ternyata ada di antara mereka yang tidak hadir.

Ketiga, integritasnya teruji. Saya kira ini syarat yang tidak bisa ditawar. Pernah ada peristiwa seorang tukang undang baru di RT saya. Ia menggantikan tukang undang biasanya yang sedang berhalangan. Tukang undang baru ini sebenarnya juga bukan orang yang asing. Ia grapyak, supel, dan relatif tidak punya masalah, kecuali bahwa ia suka mengerjai orang. Korban prank–nya banyak.

Hari itu ia juga tampil dengan dandanan yang resmi, dengan baju batik dan peci di kepala. Ia bertamu ke setiap rumah dan menjalankan semua prosedur dengan tanpa cela. Semua berjalan lancar. Namun pada hari H ternyata sebagian besar undangan tidak datang. Acara pun dilakasanakan dengan jamaah seadanya.

Sohibul hajat merasa heran. Kondisi semacam ini sangat tidak lazim, apalagi saat itu tidak ada acara lain di kampung. Perasaan bingung juga mengganggu si tukang undang. Sebab ia merasa sudah menyampaikan undangan dengan benar. Tidak ada perbedaan informasi baik soal hari, waktu, maupun tempat.

Sebagai bentuk tanggung jawab, si tukang undang pun meminta mengantar berkat ke rumah para undangan yang absen. Selain mengobati rasa penasaran, ia juga ingin mencari tahu penyebab ketidakhadiran yang terasa seperti konspirasi itu. Hasilnya sungguh bikin geregetan, para undangan rata-rata mengira sedang dikerjai oleh si tukang undang sehingga memutuskan untuk mengabaikan undangan.

Maka, seperti cerita si gembala yang dombanya habis dimangsa serigala setelah teriakannya tak digubris para penduduk kampung yang muak karena telah dia kibuli, tukang undang itu pun hanya bisa bersungut-sungut sambil garuk-garuk kepala.

Ternyata betapa tidak mudah sekadar menjadi tukang undang di kampung. Seseorang harus memiliki track record yang baik untuk dapat dipercaya kata-katanya dan tidak diragukan integritasnya. Tentu saja itu membutuhkan kerja keras dan komitmen yang teguh. Sebuah kerja yang saya kira jauh lebih berat ketimbang memasang slogan-slogan muluk di baliho atau berfoto sedang menikmati makanan sederhana di warung untuk mencitrakan diri dekat dengan rakyat kecil.

Penulis: Muhammad Zaid Su’di
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Hal-hal Menyebalkan dari Kepanitiaan Hajatan di Kampung Saya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 20 November 2022 oleh

Tags: Hajatankampungtukang undang
Muhammad Zaid Su'di

Muhammad Zaid Su'di

Warga kampung biasa

ArtikelTerkait

Ungkapan Kekesalan untuk yang Menggelar Hajatan On the Road

Ungkapan Kekesalan untuk Mereka yang Gelar Hajatan On the Road

23 Februari 2020
Rekomendasi 8 Ide Usaha di Kampung. Dijamin Laris Manis dan Cepat Balik Modal

Rekomendasi 8 Ide Usaha di Kampung. Dijamin Laris Manis dan Cepat Balik Modal

14 Agustus 2023
Biskuit Roma Kelapa, Biskuit Legendaris yang Jadi Oleh-oleh Hajatan di Jawa Tengah

Biskuit Roma Kelapa, Biskuit Legendaris yang Jadi Oleh-oleh Hajatan di Jawa Tengah

19 Oktober 2023
Nasib Sopir Angkot di Kampung: Penumpang Sepi karena Beralih ke Motor Pribadi, Cari Kerja Lain pun Tak Semudah Bayangan

Nasib Sopir Angkot di Kampung: Penumpang Sepi karena Beralih ke Motor Pribadi, Cari Kerja Lain pun Tak Semudah Bayangan

15 Mei 2024
7 Spesies Operator Sound System yang Sering Muncul di Hajatan Kampung terminal mojok.co

7 Spesies Operator Sound System yang Sering Muncul di Hajatan Kampung

10 Desember 2020
pernikahan di desa bedanya di kota hajatan mojok.co

Meluruskan Salah Paham Soal Pesta Pernikahan di Desa yang Bisa Berhari-hari

30 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

8 Tipe Pengguna Toilet Mal Paling Red Flag di Mata Cleaning Service, Semoga Kalian Bukan Salah Satunya Mojok.co

8 Tipe Pengguna Toilet Mal Paling Red Flag di Mata Cleaning Service, Semoga Kalian Bukan Salah Satunya

19 Mei 2026
Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit Mojok.co

Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit

18 Mei 2026
Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026
Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game Terminal

Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game

20 Mei 2026
GOR Jatidiri Semarang Memang Tempat Olahraga, tapi Nggak Cocok buat Jogging Pemula (Pixabay)

GOR Jatidiri Semarang Memang Tempat Olahraga, tapi Nggak Cocok buat Jogging Pemula

21 Mei 2026
Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

15 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.