Kritik buat Kader Organisasi Ekstra Kampus yang Ngerasa Kalah Pamor sama Komunitas

Kekalahan kader organisasi ekstra dari komunitas kampus adalah nggak bisa meyakinkan maba kalau minat dan bakat mereka bisa disalurkan di sana.

Featured

Moh Rivaldi Abdul

Setiap tahun ajaran baru, selalu banyak sales tiba-tiba muncul di kampus. Sales-sales ini bukan sedang menawarkan barang tentu saja, mereka biasanya adalah kader organisasi yang ditugaskan untuk merekrut maba-maba biar join dan ikut organisasi mereka.

Tiap sales eh kader organisasi maksudnya, berlomba-lomba mempromosikan organisasinya sebagai yang paling hebat. Ooo jelas, tentu saja biar para adek-adek maba terpikat. Kan nggak mungkin bikin orang lain tertarik kalau kita menunjukan kebobrokan kekurangan organisasi. Saya haqqul yaqqin nggak akan ada yang mengenalkan organisasinya kayak gini:

“Halo, dek. Saya dari organisasi X. Jangan masuk situ, deh. Soalnya seniornya nggak mutu buanget, saya saja yang sudah setahun masuk situ malah dibiarin, padahal kan saya mau berproses betul-betul.”

Kader yang kelewat jujur tidak bisa mengagung-agungkan organisasinya tentu saja kader yang layak digampar. Kalau perlu, seniornya juga ikut digampar karena nggak bisa ngajarin kader biar ngomong yang bener.

Biasanya ada dua tipe sales organisasi. Yang pertama, yang bisa promosi di depan mahasiswa baru lewat podium pas ospek, ini biasanya kader organisasi pejabat kampus; kedua, sales organisasi yang harus turun gunung eh turun lapang buat ngenalin organisasinya dengan ngedeketin satu per satu mahasiswa baru, jenis ini biasanya kader organisasi rakyat jelata alias kader organisasi mahasiswa ekstra.

Sekarang sering jadi dilema buat kader organisasi ekstra—baik itu organisasi pergerakan atau pun paguyuban—yang ditugasi merekrut mahasiswa baru adalah pamor mereka kalah sama pamor sales-sales komunitas mahasiswa.

Hal ini bisa dilihat dari jumlah pendaftar organisasi ekstra yang semakin sedikit setiap tahunnya (artinya makin sedikit saja yang minat). Mana dari jumlah yang sedikit itu, lebih sedikit lagi yang mau serius di organisasinya lagi.

Sebagian kader organisasi ekstra ini berpikir kalau mahasiswa jaman sekarang mungkin didominasi kaum rebahan. Jadinya pada males berorganisasi.

Baca Juga:  Plastik Tercipta untuk Selamatkan Bumi, Sekarang Malah Jadi Masalah Lingkungan

Menurut saya sih itu keliru. Saya pikir banyak mahasiswa baru yang emang nggak mau join organisasi ekstra tapi tetep aktif pas kuliah dan aktif juga di organisasi yang lain. Saya lihat trennya memang berubah saja. Mahasiswa sekarang seperti lebih senang jadi relawan dalam gerakan non politis yang biasanya memang diwadahi oleh komunitas-komunitas di kampus.

Adik tingkat saya pernah seperti itu. Dia menolak ajakan saya masuk organisasi ekstra dengan alasan mau fokus kuliah, tapi ternyata malah jadi aktif di satu komunitas.

Alasan lain kenapa banyak mahasiswa sudah malas ikut organisasi ekstra dan lebih memilih komunitas adalah pamor organisasi ekstra hari ini memang sudah jauh tergerus dari sebelumnya.

Orang pengin masuk organisasi kan biar bisa terfasilitasi minat dan bakatnya ya, tapi kenyataan yang ada sekarang, organisasi ekstra tidak memberikan hal itu. Jadi ya buat apa bergabung di sana? Buang-buang waktu dan tenaga saja, kan?

Di sinilah kekalahan sales-sales organisasi ekstra, kurang mampu meyakinkan mahasiswa bahwa organisasi bisa memfasilitasi bakat atau minatnya.

Sales organisasi ekstra kalau nawarin organisasinya pasti doktrinnya: jangan jadi mahasiswa rebahan, mari kita bergerak bersama. Hadeh, kalau awal doktrinya kayak gini, ujung-ujungnya bisa ketebak, pasti bahas aksi jalanan. Bicaranya sih meyakinkan, penuh semangat. Namun, si mahasiswa baru nanggapinnya malah nggak semangat.

Gini-gini, harusnya kader organisasi ekstra itu tahu kalau nggak semua mahasiswa itu tertarik jadi aktivis-parlementer jalanan. Makanya mereka lebih memilih masuk komunitas.

Ini juga yang terjadi di organisasi paguyuban, mereka hanya menawarkan soal persaudaraan antar daerah, padahal, kan, itu mah di kosan juga bisa dapat.

Hal lain yang memperparah semakin sedikitnya mahasiswa yang pengin gabung di organisasi ekstra adalah pengurusnya kadang lebih asik ngurusin konflik dan cuma mau gerak buat aksi saja. Seakan-akan organisasi ekstra ini kegiatannya cuma ngumpulin orang pakai toa saja. Kalau citranya cuma kayak gitu, nanti mahasiswa baru pada mikir kalau di musim corona kayak sekarang, organisasi nggak bakal punya kegiatan apa-apa.

Baca Juga:  3 Alasan yang Bikin HMI Lebih Laku Dibanding PMII di Fakultas Saya

Saran saya, kalau nggak pengin kalah sama komunitas, kader dan pemimpin organisasi ekstra harus bisa mengubah paradigma lama. Gerakan organisasi ekstra bukan cuma soal aksi jalanan—dan paguyuban bukan hanya soal persaudaraan saja. Tawarkan citra lain seperti literasi, tempat untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, menulis, atau skill-skill penting lainnya. Saya yakin deh kalau organisasi ekstra nawarin banyak hal juga, semakin banyak yang tertarik buat gabung di sana. Kalian harus move on, ini tuh tahun 2020 bukan tahun 1990 seperti era masa jaya dulu.

Tapi ingat, jangan hanya kasih harapan palsu, ya. Nawarin kalau join organisasi bisa berproses dengan baik, dan mendapat wadah untuk berproses dengan baik. Eh, pas sudah dikader, malah dibiarain. Dan seniornya malah asik ngurus konflik, ambyar lagi malah asik ngajak kader baru pacaran. Hadehhh, woi, tuh mahasiswa join organisasi bukan mau jadi ahli konflik atau ahli romantisme, namun mau jadi mahasiswa yang lebih baik.

BACA JUGA Ormek Kayak HMI dan PMII yang Akurnya Cuma Lewat Ucapan “Selamat Ulang Tahun” Itu Kenapa, sih? atau tulisan Moh. Rivaldi Abdul lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
13


Komentar

Comments are closed.