Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Acara TV

Mengungkap Krisis Identitas Masyarakat Lombok dari Liga Dangdut Indosiar

Pratama Eko Yulianto oleh Pratama Eko Yulianto
7 April 2020
A A
Mengungkap Krisis Identitas Masyarakat Lombok dari Liga Dangdut Indosiar
Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari ini lini masa media sosial saya cukup ramai dengan postingan tentang seorang penyanyi yang ikut sebuah ajang liga dangdut di televisi. Saya bertanya, mengapa ini menjadi ramai dan berbeda? Bukankah masyarakat dunia maya telah melewatkan beribu-ribu kontes talenta yang isinya berujung hanya untuk pamer kemiskinan dan kesulitan hidup pesertanya semata? Hingga akhirnya sering kali menimbulkan ambigu: Pemenangnya ini berdasarkan keprihatinan atau memang mempunyai bakat yang nyata?

Jiwa julid khas ibu-ibu kompleks saya lalu terpanggil. Bagaimana tidak, sebab hanya ada satu nama yang selalu dibicarakan teman-teman netizen yang budiman ini. Ternyata, salah satu peserta ajang pencarian bakat liga dangdut yang menyebabkan kehebohan di media sosial beberapa hari ini adalah seorang biduan asal tanah saya tercinta: Lombok.

Saya yang awalnya biasa aja atas histeria baru di jagat medsos masyarakat Lombok, menjadi sangat penasaran terhadap fenomena ini ketika si peserta ini “tersenggol” (istilah mereka apabila seorang peserta harus gugur dan dipulangkan). Pasalnya, hal ini tentu saja berhasil membuat marah sebagian masyarakat di daerah saya. Kemarahan itu bisa saya lihat dari ungkapan kekesalan mereka di laman media sosial.

Tidak sampai di situ saja, bahkan kepulangannya juga berhasil menyita atensi luar biasa dari masyarakat di sini hingga membuat mereka berbondong-bondong menyambutnya dan menciptakan kerumunan massal. Mungkin akan biasa saja jika ini terjadi di hari-hari biasa, di mana matahari masih hangat dengan terik yang cukup, Indosiar dan RCTI masih menyiarkan maraton kartunnya, dan kekecewaan terbesar kita hanya ketika peliharaan kita di Tamagochi mati (Ah, indahnya menjadi anak 90-an). Namun, ini terjadi di saat pandemi corona sedang ganas-ganasnya dan pemerintah dengan jelas telah memfatwakan social distancing dan stay at home. Apalagi ini diperparah dengan daerah tempat kepulangan dan penyambutan besar-besaran biduan tersebut sudah masuk zona merah!

Mengapa ini bisa terjadi? Apakah motif yang lahir dari penyampingan ancaman serius karena ‘gagap’ selebritis? Apakah masyarakat haus akan ethnic achievement? Kalau menurut Phinney (1996), sih, ethnic identity adalah sebuah konstruk kompleks yang mengandung sebuah komitmen dan rasa kepemilikan (sense of belonging) pada kelompok etnik, adanya evaluasi positif pada kelompok, dan ada keinginan turut serta untuk terlibat dalam aktivitas sosial kelompok. Jadi ethnic identity bakal membuat seseorang punya harapan akan masa depan yang berkaitan dengan etniknya.

Jadi, kalau saya menyimpulkan, masyarakat Lombok (dan ini juga mungkin terjadi pada masyarakat daerah lain) masih sangat haus akan figur yang membawa nama daerahnya di kancah nasional. Mengapa ini penting? Lagi-lagi menurut teori di atas, ini sebagai barometer sejauh mana daerahnya berkembang dan maju dalam strata etnis di pergaulan nasional. Publik figur di sini berfungsi sebagai alat ukur tentang seberapa banyak pengakuan masyarakat Indonesia terhadap daerahnya,

Saya juga sebetulnya merasakan hal-hal yang dirasakan kawan-kawan yang haus akan pengakuan terhadap daerahnya ini. Saya kadang ingin seperti etnik Batak yang punya Luhut Binsar Panjaitan, etnik Jawa yang punya soto Lamongan dan musik koplonya, Bali yang punya klub sepak bola yang begitu terkenal, atau daerah-daerah lainnya yang sudah lebih dulu terkenal dari masakan khasnya atau sesederhana logat bicaranya.

Jadi, saya merasa wajar apabila orang seperti saya dan masyarakat Lombok kebanyakan, akan sangat cepat merasa sangat bangga apabila ada putera daerah dari etnis saya “terdengar” namanya di kancah nasional. Sehingga kami cenderung meremehkan hal-hal yang sebenarnya bisa lebih diprioritaskan. Contohnya, imbauan berkumpul dan berkerumun dari pemerintah yang diabaikan demi menyambut local hero yang baru pulang dari gemerlapnya panggung kontes musik nasional.

Baca Juga:

Restoran Ayam Taliwang Pak Udin Lombok: Populer di Kalangan Wisatawan, Jarang Disambangi Warga Lokal

Culture Shock Naik Kapal Batu Layar dari Lombok ke Surabaya: Penumpang Cekcok dengan Brimob dan Keributan Lainnya

Tentu hal ini sangat disayangkan mengingat ada penempatan kepentingan yang salah di situasi genting dan berbahaya di masa pandemi corona seperti saat ini.

BACA JUGA Pengalaman Saya Menonton Sinetron Azab di Indosiar dan tulisan Pratama Eko Yulianto lainnya. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pengin gabung grup WhatsApp Terminal Mojok? Kamu bisa klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 November 2021 oleh

Tags: Liga Dangdut IndosiarLombok
Pratama Eko Yulianto

Pratama Eko Yulianto

Menulis demi meneruskan tradisi bahwa kebebasan berpendapat itu perlu untuk dirayakan.

ArtikelTerkait

Selain Ayam Bakar, 4 Menu di Warung Ayam Taliwang Ini Nggak Pernah Gagal Terminal Mojok.co

Selain Ayam Bakar, 4 Menu di Warung Ayam Taliwang Ini Nggak Pernah Gagal

26 Maret 2022
kapal mogok di tengah laut mojok

Pengalaman Jadi Penumpang Kapal yang Mogok di Tengah Laut

7 Desember 2020
Krisbar atau Krispi Bakar, Penemuan Olahan Ayam Paling Jenius Sepanjang Sejarah terminal mojok.co

Ayam Bakar Taliwang, Ayam Khas Lombok Paling Galak Seantero Negeri

15 April 2020
Cari Transportasi Publik di Kota Mataram Itu Sulit terminal mojok.co

Cari Transportasi Publik di Kota Mataram Itu Sulit

21 Januari 2022
Meluruskan Salah Kaprah Terkait IAHN Gde Pudja Mataram, Satu-satunya Kampus Hindu Negeri yang Ada di Lombok

Meluruskan Salah Kaprah Terkait IAHN Gde Pudja Mataram, Satu-satunya Kampus Hindu Negeri yang Ada di Lombok

4 Agustus 2023
Sumber gambar Pixabay

Di Lombok, kalau Ada Orang Hilang, Dicari Pakai Gamelan

9 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasanya Jadi Orang Bangkalan Madura Belakangan Ini: Pilihan Toko Makin Banyak, tapi Tukang Parkir Ikut Merajalela Mojok.co

Rasanya Jadi Orang Bangkalan Madura Belakangan Ini: Pilihan Toko Makin Banyak, tapi Tukang Parkir Ikut Merajalela

23 April 2026
Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Bekerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak Mojok.co

Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Kerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak

20 April 2026
Kuliah S2 Itu Wajib Caper kalau Tidak, Kalian Cuma Buang-buang Uang dan Melewatkan Banyak Kesempatan Mojok.co

Kuliah S2 Itu Ternyata Mahal: SPP-nya Bisa Jadi Murah, tapi Akan Ada Biaya Tambahan yang Menghantam!

23 April 2026
Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai Mojok.co

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai

19 April 2026
4 Tabiat Tukang Parkir yang Disukai Pengendara. Sederhana, tapi Tidak Semua Tukang Parkir Bisa Melakukannya  Mojok.co

4 Tabiat Tukang Parkir yang Disukai Pengendara. Sebenarnya Sederhana, tapi Tidak Semua Tukang Parkir Bisa Melakukannya 

18 April 2026
Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna Mojok.co

Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna

18 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI
  • Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki
  • “Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama
  • Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli
  • Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa
  • 4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.