Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kaderisasi dan Romantisme PMII lewat PBAK

Rizki Muhammad Iqbal oleh Rizki Muhammad Iqbal
21 September 2020
A A
Alasan Yogyakarta Layak Disebut sebagai Kota Terbaik untuk Berdiskusi terminal mojok.co

Alasan Yogyakarta Layak Disebut sebagai Kota Terbaik untuk Berdiskusi terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Mungkin sama dengan ospek di kampus lain, kampus saya menjadikan ospek bukan hanya sebagai pengenalan budaya kampus, namun lebih dari itu. Setiap tahun PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan) berlangsung di kampus “Uwin”, sudah bukan rahasia lagi siapa yang memegang kendali atas pengenalan budaya kampus ini. Siapa lagi kalau bukan organisasi PMII?

Ya, ormek (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus) ini cukup berperan setiap tahunnya karena mereka berjasa mengantarkan maba-maba dalam masa transisi dari budaya SMA/SMK/MAN menuju kultur kampus yang lebih kompleks. Di tahun ini seperti tahun sebelumnya, mayoritas panitia merupakan kader dari PMII.

Tahun kemarin, PBAK ditutup dengan orasi kemanusiaan yang menentang ketidakadilan dan kasus-kasus HAM. Ini dilakukan untuk sekadar mengingatkan maba pada aktivis-aktivis yang telah membela hak-hak kami. Dengan nada yang menggebu-gebu, sebagian mahasiswa bisa jadi terpesona dengan nada-nada perlawanan seperti ini. Orasi ditutup dengan ucapan serentak, “Salam mahasiswa!”

Beberapa hari setelah PBAK selesai, muncul ormek-ormek yang menghiasi altar fakultas. Lalu mayoritas maba yang sedang polos-polosnya akan berlabuh di salah satu ormek yang tidak lain dan tidak bukan adalah PMII. Entah para maba ini tertarik karena memang murni ingin berproses atau terkena rayuan gombal dengan berbagai iming-iming punya relasi dan jadi aktivis yang senantiasa membela hak-hak buruh, tani, mahasiswa, dan rakyat miskin kota. Yo mbuh!

Orang pasti akan lebih tertarik masuk ke suatu perkumpulan jika di dalamnya ada orang-orang yang sebelumnya sudah dia kenal.

Menjelang pemilwa, senior PMII akan sibuk bikin agenda sedemikian rupa dengan menjaring kader dan menjadikannya bakal calon di lembaga intrakampus, seperti senat, dewan mahasiswa, maupun HMPS. Pada tahun kemarin, jabatan-jabatan strategis tersebut di fakultas saya dikuasai oleh kader-kader PMII.

Lalu apa salahnya?

Ya nggak salah. Memang begitu faktanya, kan? Fakta bahwa ormek ini cukup “berkualitas” sehingga banyak dilirik oleh maba-maba untuk berproses di dalamnya.

Baca Juga:

PMII Bangkalan Aneh, Paling Getol Mengkritik Pemkab, tapi Prokernya Selalu Bermanis-manis sama Pejabat

PMII Itu (Masih) Organisasi Mahasiswa Islam, kan? Iya, kan?

Tapi, adakah faktor yang menyebabkan semua ini terjadi terus-menerus? Nggak usah ngawang pakai ilmu arkeologi pengetahuannya Foucault atau dialektikanya Hegel. Kita cukup menguraikannya secara sederhana.

Jika kita mulai dari awal lagi, fakta menunjukkan bahwa mayoritas panitia PBAK berasal dari satu ormek yang sama, yaitu PMII. Anggaplah sisanya sejumlah dua sampai lima orang dari ormek lain. Panitia PBAK dari ormek lain terasa sebagai pupuk bawang atau luwes-luwes saja biar politik identitasnya nggak terkesan mencolok.

Lha wong akses panitia PBAK lebih terbuka menganga bagi para kader PMII kok. Sederhananya, sebagian besar mahasiswa yang aktif dalam fakultas ya memang kader-kader PMII. Mahasiswa yang bukan PMII hanya digunakan sebagai pelengkap PMII dalam merajut kekuasaannya di dalam kampus.

Kaderisasi berkedok PBAK ini sebelumnya juga terjadi lewat kedok-kedok yang lain, cuma teknisnya yang berbeda. Contoh terdekatnya adalah bimtes masuk “Uwin” yang diselenggarakan oleh ormek ini dan ormek yang lain. bimtes atau bimbingan tes adalah pembekalan materi ujian masuk kepada calon maba.

Bimtes ini sangat menguntungkan calon maba karena mereka akan punya gambaran soal ujian yang akan dihadapinya nanti. Namun, cara ini terbukti efektif dalam mengenalkan organisasi untuk menjaring mahasiswa ketika kelak ia masuk ke kampus putih. Istilah asmaranya “mbribik ndisik”.

Waktu PBAK berlangsung, mudah saja bagi PMII untuk menarik minat maba-maba polos yang masih anget itu. Maba-maba akan menganggap bahwa para kating ini pasti lebih banyak punya pengalaman dan informasi. Padahal, kating-kating yang kaya akan informasi ini adalah panitia PBAK yang merupakan kader-kader PMII.

Setelah PBAK usai, maka muncullah stand-stand ormek untuk proses perekrutan kader baru. Dengan sedikit rayuan persuasif nan ideologis, berjubellah maba-maba ini di salah satu stand tersebut. Usut punya usut, ternyata “rai-rai kating” yang ada di stand sudah familier pada saat PBAK berlangsung. Stand dari ormek lain abaikan saja lah. Wong ya maba ndak kenal mereka kok, mukanya saja asing-asing, ckckck.

Menjelang pemilwa, kita akan melihat betapa sibuknya senior PMII untuk memilih bakal calon yang tepat untuk bersaing dalam pemilihan yang katanya demokratis itu. Visi dan misi mereka pun cukup revolusioner, yakni membawa kemajuan bagi fakultas. Iya dong maju, bagi kelompok mereka sendiri.

Apakah fakultas saya hidup dalam pengulangan yang sama? Jika diurut mulai dari PBAK hingga pemilwa, jawabannya adalah: ya. Benar saja cuitan di akun Twitter @mahasiswaUwINd yang membuat narasi tentang PBAK sebagai: Pengenalan Budaya Angkut Kader.

PBAK = Pengenalan Budaya Angkut Kader pic.twitter.com/fYNNDcFKfj

— Toa-toa yang Terkubur (@mahasiswaUwINd) September 19, 2020

Kata Sartre, “Semua orang memiliki hak yang sama. Namun tidak semua orang bisa menikmati hak-hak tersebut.”

BACA JUGA 5 Makna Tersirat di Balik Konten ‘Dua Jam Nggak Ngapa-ngapain’ di YouTube dan tulisan-tulisan lainnya dari Rizki Muhammad Iqbal.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 September 2020 oleh

Tags: organisasi ekstra kampusPMII
Rizki Muhammad Iqbal

Rizki Muhammad Iqbal

Suka selonjoran sambil makan gorengan.

ArtikelTerkait

hmi vs pmii uin ciputat kaderisasi kelemahan kelebihan senioritas uin syarif hidayatullah fakultas adab dan humaniora mojok

Balasan untuk Tulisan tentang HMI vs PMII yang Terbit di Terminal Mojok

22 April 2020

Ormek Kayak HMI dan PMII yang Akurnya Cuma Lewat Ucapan “Selamat Ulang Tahun” Itu Kenapa, sih?

9 Februari 2020
4 Keunikan UIN SAIZU Purwokerto yang Nggak Ada di Kampus Lain purwasera uin saizu

Hal-hal Menyebalkan yang Hanya Bisa Dipahami Mahasiswa UIN SAIZU Purwokerto

22 Agustus 2025
PMII Itu (Masih) Organisasi Mahasiswa Islam, kan? Iya, kan?

PMII Itu (Masih) Organisasi Mahasiswa Islam, kan? Iya, kan?

8 Oktober 2025
Alasan Yogyakarta Layak Disebut sebagai Kota Terbaik untuk Berdiskusi terminal mojok.co

Kritik buat Kader Organisasi Ekstra Kampus yang Ngerasa Kalah Pamor sama Komunitas

7 April 2020

3 Ormek yang Sering Dianggap Underbow Partai, Meski Sering Deklarasi Independen

12 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Turunan Silayur Ngaliyan Semarang Momok Pengendara yang Perlu Segera Dibereskan Mojok.co

Turunan Silayur Ngaliyan Semarang Momok Pengendara yang Perlu Segera Dibereskan

5 Juni 2026
Mengurai Inflasi IPK: Dosen Makin Dermawan atau Mahasiswa Makin Pintar?  

Mengurai Inflasi IPK: Dosen Makin Dermawan atau Mahasiswa Makin Pintar?  

3 Juni 2026
Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan lulusan UIN

Lulusan UIN Sulit Cari Kerja Itu Mitos, Kenyataan Membuktikan Sebaliknya!

5 Juni 2026
Kopi Klotok Tidak Lagi Menarik, Warga Jogja Pilih Menghindar (Wikimedia Commons)

Kopi Klotok: Kuliner Wajib bagi Wisatawan, tapi Semakin Banyak Warga Lokal Jogja yang Memilih Menjauh dan Mencari Tempat Lain

6 Juni 2026
Suzuki GSX-R150, Motor Sport untuk Kalian yang Muak dengan Honda CBR dan Yamaha R15 suzuki hayate 125 motor suzuki shogun 110 suzuki access 125 motor suzuki nex crossover suzuki nex II

Suzuki Nex II Benar-benar Nggak Tahu Diri, Harganya Lebih Mahal dari Honda BeAT, tapi Fiturnya Masih Saja Tertinggal  

6 Juni 2026
4 Hal yang Bakal Saya Rindukan setelah Lulus dari UM Malang kkn

UM BBM: Program KKN ala UM Malang yang Punya Banyak Celah dan Penuh Masalah!

7 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.