Kepalsuan-Kepalsuan yang Bikin Muntah

Kepalsuan media sosial kini memang jadi racun yang merusak batin, mengotori pikiran-pikiran waras kita, membuat kita jadi gila.

Artikel

Avatar

Di dunia ini, kehidupan sudah sumpek sama puing-puing informasi yang tercecer sembarangan seperti sampah. Di mana pun kita berada, kita akan selalu disuguhi oleh potret-potret pemengaruh yang menjelma malaikat. Seperti saat menjelang pemilu belakangan misalnya—banyak terpampang baliho-baliho dengan foto para calon dengan wajah berseri seperti artis iklan lotion pemutih badan. Memang benar-benar!

Di sepanjang jalan, tak lagi kutemui keasrian. Warna-warni baliho raksasa menyilaukan mata. Menutupi cantiknya langit sore. Padahal, nggak ada tuh paparan visi misi yang jelas. Foto saja segede gaban buat apa? Dikira mereka—kami ini tolol hanya memilih pemimpin berdasarkan kecantikan atau ketampanannya saja? Benar-benar tidak ada esensi sama sekali.

Mari berhenti membahas baliho. Ada hal yang lebih menjemukan daripada itu. Zaman ini, kita tentu acap kali menemukan laporan-laporan palsu alias pencitraan yang tidak sesuai kenyataan. Kita sering menemukannya hilir mudik di beranda atau kolom explore media sosial. Di sana, akan kita temui banyak pemimpin yang terjun langsung ke sawah yang berlumpur, atau sekadar ikut nimbrung makan bersama para buruh—atau merangkul para pengais sampah. Katanya—guyub rukun sama rata, tidak ada ketimpangan di antara penguasa dan rakyatnya. Eh ndilalah, hanya di depan kamera saja to. Oalah Paaaak Pak~ Buuuu Bu~

Sejujurnya, saya bicara begini bukan asal tuduh. Karena beberapa kali saya menemukan pemimpin yang suka action di depan dokumentator saja. Asal klik, unggah, dengan caption yang terlampau bijak, citra yang tergambar akan menampilkan sosok pemimpin yang penuh kesahajaan dan citra baik—padahal aslinya sampah abis.

Tidak semuanya sih yang busuk begitu. Ada kok beberapa pemimpin yang berhati tulus, yang bersungguh-sungguh ingin membantu rakyat kecil—namun tidak sedikit pula yang cuma pura-pura.

Ada salah satu penelitian yang bilang, rata-rata milenial main telepon genggam adalah 5 jam per hari. Itu artinya, sekitar satu pertiga waktu melek kita digunakan untuk hidup di dunia maya. Iyaaa—dunia yang berbanding terbalik dengan dunia nyata dan dipenuhi kelancungan itu lhooo~

Maka, tidak heran bila para penguasa punya strategi licik untuk mengelabui kita—menyesatkan persepsi dan prasangka kita. Karena mereka berpikir kita akan menelan cuma-cuma melalui unggahan yang mereka sandiwarakan di social media. Mereka tahu betul, kita adalah orang yang malas riset, kita sering tersulut emosi dengan cepat, atau sering asal setuju dengan satu kali lihat saja, dan kita adalah orang yang mudah percaya.

Oleh karena itu, atas nama transparansi yang sekarang lagi digembor-gemborkan dan—katanya sih—dijunjung oleh para petinggi negeri, kita dijejali tipu muslihat—oleh siasat mereka yang membuat kita buta.

Kepalsuan media sosial kini memang jadi racun yang merusak batin, mengotori pikiran-pikiran waras kita, membuat kita jadi gila. Kamu tahu kan, tak jarang orang merasa depresi hanya karena media sosial. Sering juga kita jadi super cinta, rela memihak dan membela seseorang demi hal-hal yang tidak rasional. Media sosial jadi seperti tuhan, sebab begitu mudahnya orang menghamba dan membela pesohor mati-matian.

Pencitraan, hoaks, dan kebenaran yang dilebih-lebihkan. Di mana kini kebenaran yang benar-benar benar?

Siapa sebenarnya yang salah? Apakah orang-orang yang suka pamer? Atau orang-orang yang jualan online barang branded harga mahal dengan kualitas picisan? Atau netizen yang suka julid dan mengumbar kebencian di kolom komentar sana sini? Atau para penguasa yang suka pura-pura baik bak dewa? Atau para pengembang media sosial? Atau pencita telepon genggam? Atau saya yang suka menyalahkan orang-orang? Entahlah~

Kita semua tahu, di dunia ini tidak ada kebenaran yang hakiki kan? Bukankah kita hanya membenarkan apa-apa yang kita yakini saja? Dan kepalsuan itu hanya diri sendiri yang tahu.

Yang pasti—tidak ada yang benar-benar salah atau benar, yang ada hanya kita yang tidak bijak. Maka, memang begitulah manusia. Untuk menjadi dirinya sendiri saja lupa bagaimana caranya—termasuk saya yang suka menyalahkan semua orang.

Semoga sakit mual ini lekas sembuh.

Baca Juga:  Akankah Kita Menjadi Lebih Baik Setelah Lebaran?
---
770 kali dilihat

5

Komentar

Comments are closed.