Jangan Jadikan Open Minded Dalih untuk Membenarkan Pikiran dan Perilaku yang Salah

Featured

M. Farid Hermawan

Pemikiran manusia modern memang unik. Tak mau kalah dengan zaman yang terus memproduksi hal-hal baru yang nyeleneh dan konyol. Manusia, terutama manusia Indonesia tak mau ketinggalan. Bagaimana masyarakat Indonesia yang cenderung berbudaya ketimuran, saat ini justru mulai menganggap bahwa budaya ketimuran yang cenderung sopan dan ramah menjadi budaya yang kolot dan bodoh?

Entah ini karena pengaruh globalisasi atau apa. Masyarakat Indonesia saat ini seolah sangat mendewakan arus liberal. Yang mana ia mencoba membuat sebuah pemikiran yang bernama open minded menjadi sebuah pemikiran yang sarat akan kebenaran hakiki. Saya melihat ini seperti sebuah fenomena yang terus menerus berkembang dan mulai menjajah eksistensi budaya Indonesia yang sebenarnya.

Pemikiran terbuka sering kali digaungkan sebagai sebuah kebijaksanaan berpikir serta keadilan dalam merespons sebuah ide yang banyak bermunculan. Ruh dalam open minded pada dasarnya adalah bagaimana seseorang dibebaskan untuk berpikir dan mencerna berbagai ide yang dihasilkan oleh orang lain. Tidak mencela dan tidak juga dengan serta merta menerima. Berpikiran terbuka sebenarnya baik jika bisa diterapkan dengan baik. Simpelnya, berpikiran terbuka semacam filter untuk menyaring baik atau buruk sebuah ide ataupun pemikiran yang beredar di masyarakat.

Namun semakin berkembangnya dan begitu populernya pemikiran yang bernama open minded di era saat ini justru menjadi sebuah duri dalam daging terkhusus untuk masyarakat Indonesia sendiri. Berpikiran terbuka yang semestinya untuk sebuah filter baik dan buruk saat ini justru dijadikan sebuah dalih untuk melanggengkan pemikiran dan perbuatan yang buruk. Parahnya lagi, entah kenapa oknum-oknum yang mengaku berpikiran terbuka ini suka sekali nyerempet-nyerempet agama. Lantas membuat agama seolah-olah bukanlah sesuatu yang begitu penting. Saya agak gerah meilihat fenomena open minded kebablasan ini.

Baca Juga:  Sistem Kerja Remote, Bakal Bikin PNS Setara Freelancer

Bagaimana tidak, pikiran dan perilaku menyimpang seolah menjadi sesuatu yang benar jika dihajar dengan dalih open minded. Orang Indonesia yang rata-rata beragama. Saat kecil tentu kita diajarkan bahwa seks bebas, narkoba, minum-minuman keras, atau memperolok agama itu adalah perbuatan dosa. Namun konyolnya, mereka yang mengkultuskan open minded ini selalu punya dalih untuk membuat semua itu adalah hal biasa yang fine-fine saja dilakukan.

Dan senjata pamungkas jika ada yang mengusik dalih berpikiran terbuka mereka adalah dengan berkata, “Kamu nggak open minded, sih.” Orang-orang yang memiliki pemikiran terbuka sejatinya tidak pernah mengaku-ngaku dirinya open minded.

Namun apa yang terjadi di masyarakat Indonesia? Berpikiran terbuka dijadikan ajang keren-kerenan, sebagai simbol kebijaksanaan yang tidak dapat diganggu gugat. Serta sebagai dalih untuk membenarkan pemikiran menyimpang dan perbuatan tercela. Makna sejati punya pikiran terbuka sebagai filter seolah menguap dan justru menjadi sebuah senjata untuk memperolok golongan, menyerang individu, dan menghasut untuk harus setuju dengan mereka yang mengaku open minded ini.

Semakin ke sini saya melihat open minded sudah semakin kebablasan. Oke lah saya tahu bahwa namanya juga berpikiran terbuka. Jadi bebas dong orang mikir dan bertindak apa saja. Tapi pemikiran yang terlalu bebas dengan menjadikan open minded sebagai tameng dan dalih juga bukanlah hal bijak. Berpikiran terbuka kalau dipakenya kebablasan jadinya malah kebobrokan dan kebinatangan. Tidak ada kebaikannya sama sekali.

Apalagi jika kita berbicara kultur dan budaya masyarakat Indonesia. Pikiran terbuka yang kebablasan membuat ciri khas bangsa Indonesia yang terkenal dengan budaya ketimuran yang di dalamnya memegang norma sosial, norma agama, hingga norma susila yang ketat dan kuat. Hadirnya mereka-mereka yang ngakunya orang open minded ini malah membuat semua norma tersebut perlahan memudar dalam diri masyarakat Indonesia.

Baca Juga:  Waktu Buat Nagih-Nagih, Giliran Anak Lahir Kabur

Agama sering jadi lelucon, penyimpangan sosial justru dianggap hal yang wajar. Hingga kemaksiatan yang terjadi di lingkungan kita saat ini seolah hal yang sangat enteng dan biasa saja di mata orang-orang agung yang mengaku open minded. Padahal Indonesia walaupun bukan negara Islam adalah negara yang beragama, negara yang punya norma dan negara yang memiliki aturan terkait tindakan-tindakan yang menyimpang. Lucunya mereka yang menyebut dirinya open minded, seiring waktu membuat norma yang berlaku di masyarakat Indonesia hanya seperti objek bercandaan. Dalihnya zaman sudah semakin maju dan kita tidak boleh dikekang oleh apa pun. Ya ampun, kalau semua orang berpikiran seperti itu, tak ada bedanya manusia dengan binatang.

Menjustifikasi orang lain bodoh dan mencap seseorang tidak open minded karena masih berpegang teguh dengan norma yang ada adalah sebuah tindakan yang jauh lebih goblok dari segala hal goblok yang ada di dunia ini. Berpikiran terbuka itu berfungsi sebagai filter, bukan sebagai penyaluran sifat egois. Berpikiran terbuka itu tidak perlu pengakuan. Berpikiran terbuka sebaiknya disikapi lewat menghargai dengan “pengecualian” sesuai norma yang berlaku di masyarakat. Kalau open minded disikapi kebablasan dengan memberikan penghargaan atas segala hal mulai dari yang wajar sampai yang tidak wajar. Itu namanya bukan open minded, tapi goblok minded.

BACA JUGA Konsep Pembeli adalah Raja: Itu Kolot, Zheyeng! atau tulisan M. Farid Hermawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
65


Komentar

Comments are closed.