Tolonglah, Jangan Jadikan “Open Minded” Sebagai Dalih Kebodohan Kalian!

Tidak hanya masalah Coki Pardede saja, tetapi masih banyak lagi hal-hal yang membuat frasa open minded ini menjadi suatu hal yang negatif.

Featured

Avatar

Apa yang terpikirkan di kepala kalian ketika mendengar atau membaca frasa open minded? Sebuah perilaku atau sifat dengan pikiran terbuka, atau orang-orang bodoh yang sok berpikiran terbuka? Harusnya frasa ini bermakna positif, ketika memang ditujukan kepada kegiatan, pemikiran, atau orang dengan pikiran yang benar-benar terbuka, pikiran yang benar-benar logis dan luas. Namun sayang sekali, frasa ini akhir-akhir ini mengalami peyorasi, yaitu berubah makna menjadi hal yang negatif. Bahkan, frasa ini sering digunakan oleh orang-orang bodoh sebagai dalih kelakuan mereka.

Perlu bukti? Coba saja masuk ke pencarian Twitter, lalu ketik frasa ini. Akan banyak muncul cuitan-cuitan orang yang menggunakan frasa tersebut. Dari banyaknya yang muncul, lebih dari setengahnya pasti menggunakan frasa ini dengan keliru, menggunakan frasa ini untuk kebodohan mereka, untuk mengolok-olok orang-orang yang berbeda pendapat dengan mereka. Ini yang saya maksud sebagai perubahan makna yang mengakibatkan frasa ini menggambarkan sesuatu yang negatif.

Sebelum itu, mari kita coba pahami apa itu open minded. Frasa ini sendiri bermakna sebagai “berpikiran terbuka”. Berpikiran terbuka dalam hal ini adalah terbuka dengan pendapat orang banyak meskipun berbeda, menghargai pendapat orang tanpa harus mencelanya, terbuka dengan perbedaan perilaku orang, dan terbuka dengan pola pikir orang lain, meskipun berbeda. Dari sini saja, sebenarnya frasa itu maknanya sudah sangat positif, sangat demokratif banget lah. Mengajarkan untuk mererima dan berdamai dengan perbedaan.

Hingga frasa ini akhirnya sampai pada masa di mana ia disalahgunakan. Akhir-akhir ini, frasa ini banyak disalahgunakan. Hingga kemudian ia mengalami perubahan makna. Ambil contoh dua kasus komedian Coki Pardede belakangan ini. Cuitan bercanda (jokes) yang soal banjir Jakarta dan virus corona kemarin menjadi ramai. Banyak yang menegur Coki, yang dirasa tidak tepat dan dirasa tidak punya empati ketika bercanda soal banjir dan virus corona saat itu. Cuitan coki ramai. Ramai teguran itu pasti, tetapi tidak sedikit “umatnya” yang mendukung Coki. “Umat-umatnya” Coki ini menegur balik orang-orang yang menegur Coki dengan sebutan “tidak open minded”.

Baca Juga:  Ampun Dah, Memahami Dark Joke Coki Pardede Emang Susah

Dari sini saja, sudah terlihat bagaimana frasa tersebut salah digunakan dan akhirnya menjadi hal yang negatif. Kalau memang berpikiran terbuka, dalam kasus ini harusnya Coki tidak mengeluarkan candaan seperti itu. Bukan masalah tidak boleh atau bagaimana, tetapi tidak tepat saja waktunya. “Umat-umatnya” Coki juga begitu, ngakunya open minded tetapi lihat ada yang berbeda pendapat dengan junjungannya malah dibilang tidak open minded.

Tidak hanya masalah Coki Pardede saja, tetapi masih banyak lagi hal-hal yang membuat frasa ini menjadi hal yang negatif. Misalnya, ada orang yang ikut-ikut ibadah agama lain, lalu pamer di media sosialnya dan berdalih dia open-minded. Ada juga orang-orang yang sok tidak beragama, jadi agnostik, bahkan ateis (padahal malas beribadah saja) dan pamer di mana-mana, lalu bilang bahwa mereka punya pikiran terbuka. Ada juga orang-orang yang sok bercanda tentang hal-hal yang dark (padahal candaannya jelek banget), lalu ngakunya open minded. Frasa ini akhirnya jadi dalih kebodohan mereka saja.

Maksudnya, ya kalau mau ikut ibadah agama lain, ya tidak perlu pamer lalu bilang bahwa ini open minded, biasa saja. Atau kalau mau jadi tidak beragama, agnostik, atau bahkan ateis, pastikan dulu kamu tidak sedang ikut-ikut tren. Atau memang sedang malas beribadah lalu sok jadi agnostik atau ateis, dan berlindung dibalik frasa ini. Juga kalau mau bercanda soal hal-hal yang dark, pastikan dulu candaannya bagus, atau belajar dulu lah nulis komedi yang baik, baru bercanda soal ini itu. Jangan apa-apa menjadikan open minded sebagai dalih kebodohan kalian.

Orang-orang akhirnya menjadi sok open minded, sok berpikiran terbuka. Padahal mereka hanya masuk ke kolam dengan orang-orang yang punya pendapat yang sama. Mereka belum bertemu orang-orang yang punya pendapat berbeda. Kalau ketemu pun, pasti orang-orang yang pendapatnya berbeda akan dibilang tidak open minded. Padahal kunci dari open minded adalah terbuka dengan pendapat orang lain, ini kok malah mempraktikkan perilaku close minded tetapi berdalih open minded.

Akhirnya frasa ini bernasib sama seperti frasa Social Justice Warriors atau SJW yang sebenarnya punya makna positif. Tapi ya tidak masalah, yang penting jangan terlalu percaya-percaya amat dengan orang-orang yang bilang bahwa dirinya itu open minded.

BACA JUGA Ampun Dah, Memahami Dark Joke Coki Pardede Emang Susah atau tulisan Iqbal AR lainnya.

Baca Juga:  Beda Pandangan Kiai Maimoen dan Gus Baha' Soal Menerima Tamu

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
56

Komentar

Comments are closed.