Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Plis deh, Coki Bukan Joker, dan Berhenti Menyamakan Artis yang Kena Masalah dengan Joker

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
6 September 2021
A A
Joker coki pardede anji artis mojok

Joker coki pardede anji artis mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Dikit-dikit Joker, dikit-dikit Joker. Joker kok cuma dikit?

“Pemujaan yang berlebihan itu tidak sehat,” sabda Patrick Star. Sabda itu langsung terlintas saat saya membaca sebuah utas di Twitter. Seseorang yang mengaku bukan psikolog dan bukan pakar ini mengkaji Coki Pardede yang tengah viral. Yah kebiasaan warga negeri ini, semua menjadi pakar saat ada yang viral. Dulu jadi pakar hukum, pakar racun, pakar virologi, dan sekarang psikolog.

Saya sih memang kurang minat membaca utas akun bukan pakar ini. Tapi, saya agak senewen saat utas ini diawali dengan membahas Joker. Lebih tepatnya Joker dari film berjudul sama. Arthur Fleck dipandang jadi representasi kekacauan yang dialami Coki Pardede dan tragedi yang menimpa komedian lain.

Tidak cuma sekali Joker dijadikan simbol public figure yang tertimpa masalah. Apalagi masalah psikis dan tersandung hukum. Kemarin Anji disebut Joker karena terpaksa memakai ganja akibat tekanan psikis. Apalagi pasca menyuarakan konspirasi Covid-19. Jerinx juga sama, di-Joker-kan karena mendekam di penjara. Dan banyak lagi public figure yang menjadi Arthur Fleck dadakan.

Bukan tidak bersimpati. Saya percaya masalah psikis tidak boleh diremehkan, tapi saya pikir, konyol juga memandang public figure bermasalah sebagai Joker. Sebab, label ini tidak lebih dari pemujaan berlebihan dan tidak sehat. Bahkan penuh kesan cocoklogi yang dipaksakan. Seperti perkara vaksin dan chip 666.

Baiklah, kita bicara Joker dulu. Joker versi Arthur Fleck memang terkesan seksi. Seseorang yang depresi akibat tekanan sosial, menjadi sampah masyarakat, dan menginspirasi banyak orang melawan struktur hierarkis sosial yang membunuh itu. Mirip dengan cult of personality V dari V for Vendetta. Bahkan sama-sama disimbolkan lewat topeng atau, dalam kasus Joker, facepaint.

Keseksian Arthur Fleck dalam film ini seperti menginspirasi banyak orang untuk melawan sekat-sekat struktur sosial. Dan saya sih bisa menerima. Hierarki sosial tidak lebih dari nilai moral yang dibuat untuk kepentingan sekelompok “manusia unggul”. Tapi, kalau setiap public figure di-Joker-kan karena tersandung kasus atau depresi, kok menyebalkan ya?

Mari masuk dalam perkara Coki. Sejauh yang kita tahu dari Podcast Deddy Corbuzier kemarin, Coki memang mengalami tekanan sosial dalam keluarga. Tekanan ini dipandang menyebabkan Coki “sakit” dan tertekan. Akhirnya tekanan ini membuat Coki terjebak dalam kecanduan pada narkotika jenis Sabu-sabu.

Baca Juga:

Nekat Kuliah S3 di Taiwan Berujung Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia

Goa Jatijajar, Objek Wisata di Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi

Oke, Coki menjadi pecandu narkotika karena tekanan. Lalu di bagian mana mirip The Prince of Clown-nya? Ya di bagian saat si pembuat utas tadi melakukan cocoklogi. Memang Coki dalam situasi tertekan, tapi bukan berarti Coki perlu dimiripin sama Arthur Fleck. Menjadi simbol tekanan yang berakhir dengan perbuatan melawan aturan sosial bukanlah yang bisa dilabelkan pada Coki.

Hanya karena Coki adalah sosok viral dan jago dark joke, bukan berarti dia selevel Joker. Coki adalah Coki, dan masalah dia bukanlah masalah yang serupa masalah dalam angle cerita Joker. Apa yang terjadi pada Coki bukanlah inspirasi, ataupun kisah yang bisa dihebat-hebatkan. Sebab, tidak ada yang seksi dalam situasi Coki.

Banyak orang yang terjebak depresi. Baik karena tekanan keluarga, lingkungan sosial, atau pekerjaan. Tidak ada yang seksi dan layak jual dari situasi depresi ini. Yang diperlukan bukanlah label sosial semu sebagai normalisasi depresi ini. Yang diperlukan adalah akses menuju bantuan profesional, serta perombakan struktur sosial yang serba menindas dan konsumtif.

Memandang Coki dan Anji sebagai Joker hanyalah normalisasi dari kasus mereka. Seolah-olah normal bagi public figure untuk dieksploitasi perkara privasinya sebagai bentuk hiburan lain. Perkara depresi dan kecanduan narkotika tidak bisa dinormalisasi dan diromantisasi seperti Coki adalah Joker ini. Normalisasi seperti men-Joker-kan depresi ini tidak menyelesaikan masalah. Justru membuat simtom depresi dipandang seksi.

Padahal Coki tidak sendiri. Mungkin jutaan manusia di Indonesia tengah dirundung depresi dan jauh dari pertolongan profesional. Kasus bunuh diri dan gangguan jiwa tidak pernah hilang seiring tingkat depresi masyarakat yang tak pernah membaik. Apakah mereka semua Joker? Tidak! Mereka adalah orang-orang yang perlu support system!

Setiap situasi psikis tidak bisa dipukul rata. Setiap individu itu unik, dan keunikan ini bukan untuk diseragamkan. Jadi memang tidak ada relevansi men-Joker-kan public figure selain pembelaan fans terhadap sebuah kasus. Dan tidak lebih dari pemujaan tidak sehat dari tekanan mental akibat hierarkis sosial.

Apalagi pada kasus Jerinx. Oke, saya pernah menggunakan pendekatan Jerinx itu Joker sebagai satir saya untuk nyinyir pada pemerintah. Tapi, Jerinx bukanlah Joker. Jerinx dipenjara bukanlah sesuatu yang seksi untuk dicocoklogi. Yah mungkin rambut dan style JRX mirip-mirip Joker di Suicide Squad. Sama-sama berpomade dan bertato. Tapi, cuma itu saja. 

Membahas kasus dengan sudut pandang Joker hanyalah mengaburkan pendapat dengan mimpi-mimpi herois tentang seseorang yang misfits. Dan kita tidak bisa belajar dari sebuah kasus. Yang ada hanyalah normalisasi dan pembenaran atas tekanan mental seseorang. Dan kita tidak akan bisa beranjak dari normalisasi ini, selama Joker menjadi simbol.

Sudah saatnya kita memandang sebuah perkara sesuai porsinya. Dan cukup sudah memuja tokoh dengan tidak sehat. Dan yang penting, stop menistakan Joker kata teman saya. Yang jelas, Joker bukanlah orang yang dikit-dikit ngomong open minded, serta blio percaya virus sih.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 September 2021 oleh

Tags: anarkianjiartiscoki pardedejokerMasalahpilihan redaksi
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

5 Alasan Fathiah di Serial Upin dan Ipin Pindah Sekolah dari Tadika Mesra

5 Alasan Fathiah di Serial Upin dan Ipin Pindah Sekolah dari Tadika Mesra

19 April 2024
Apa Itu NFT? Bagaimana Cara Membuat dan Menjualnya? terminal mojok.co

Apa Itu NFT? Bagaimana Cara Membuat dan Menjualnya?

17 Januari 2022
5 Drama Korea yang Sebaiknya Nggak Usah Ditonton terminal mojok

5 Drama Korea yang Sebaiknya Nggak Usah Ditonton

17 November 2021
4 Kesamaan Bekasi dengan Yogyakarta Jakarta

Untuk Para Artis yang Terjun ke Politik, Nggak Usah Nyalon di Bekasi

14 November 2022
Our Beloved Summer, Drama Klise nan Ringan tapi Adiktif terminal mojok

Our Beloved Summer, Drakor Klise yang Bikin Penonton Ketagihan

22 Desember 2021
Golda Coffee, Kopi Botolan Terbaik Pesaing Kopi Saku Indomaret

Golda Coffee, Kopi Botolan Terbaik Pesaing Kopi Saku Indomaret

14 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026
Satria FU Sudah Tak Pantas Disebut Motor Jamet, Yamaha Aerox lah Motor Jamet yang Sebenarnya

Alasan Mengapa Satria FU Masih Digandrungi ABG di Madura, Membuat Pria Lebih Tampan dan Bikin Langgeng dalam Pacaran

23 April 2026
Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja Mojok.co

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

26 April 2026
Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir Mojok.co

Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir

25 April 2026
Kotabaru Jogja, Kawasan Pemukiman Belanda yang Punya Fasilitas Lengkap, yang Sekarang Bersolek Jadi Tempat Wisata

Hidup di Kotabaru Jogja Itu Enak, Sampai Kamu Coba Menyeberang Jalan, Ruwet!

28 April 2026
Pemkab Bangkalan Madura Hanya Omong Kosong Mau Bikin Kabupaten Ini Layak Anak, Nggak Layak Sama Sekali! sumenep, pamekasan

Menerka Alasan Bangkalan akan Terus Berada di Bawah Sumenep dan Pamekasan, padahal Kawasannya Masuk Kota Metropolitan

28 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas
  • Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”
  • Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan
  • KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa
  • Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.