Tahun 2020 dan Saya Masih Menonton TV Tabung

Jika LED TV hanya memiliki ketebalan sekian senti saja, TV tabung di rumah saya tebalnya setidaknya 40 cm. Dan itu sungguh tidak ringkas.

Artikel

Avatar

TV, TV apa yang tabung?

Ya TV tabung!!!

Mungkin sebagian besar dari kita, entah tua atau muda, masih dapat menjawab teka-teki receh tersebut dengan sangat mudah (sekaligus sangat kesal, bisa jadi sambil nggeplak pakai sandal). Akan tetapi, melihat perkembangan teknologi televisi saat ini, saya tidak yakin bahwa anak-anak yang lahir di masa depan akan dapat menjawab pertanyaan tersebut. Bahkan ketika diberi tahu “jawabannya TV tabung”, mereka mungkin akan bertanya balik sambil kebingungan.

Hah, TV tabung? Memangnya ada ya TV berbentuk tabung?

Bukan apa-apa, saat ini hampir semua televisi yang kita temui (terutama di perkotaan) adalah TV berteknologi Light Emitting Diode (LED). TV berjenis Cathode Ray Tube (CRT), atau yang biasa dikenal sebagai TV tabung, sudah sangat jarang ditemui. Saya sendiri tidak heran dengan tren tersebut, mengingat LED TV memang jauh lebih praktis dibanding TV tabung.

Lebih tipis dan hemat tempat? Iya.

Lebih ringan? Juga iya.

Resolusi gambarnya lebih bagus? Yoi.

Ukuran layarnya lebih besar? Hampir 100% ya (saya tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk TV tabung dengan layar 50 inci).

Dengan kelebihan-kelebihan yang ada, LED TV memiliki banderol harga yang relatif terjangkau. Hanya dengan satu jutaan rupiah Anda dapat membelinya, tetapi tentu saja harus berkompromi dengan merk dan ukuran layarnya (Samsung Smart TV 4K dengan layar 43 inci seharga satu jutaan? Gundulmu le!). Sudah canggih, harganya terjangkau pula. Siapa sih yang masih mau menggunakan TV tabung?

Ternyata ada, banyak malah. Salah satunya adalah keluarga saya sendiri.

TV di rumah saya merknya Polytron, ukurannya kalau tidak salah 21 inci. Kalau ditanya serinya, tentu saja saya tidak ingat (apalagi nama seri produk suka aneh-aneh). Sudah ada di rumah saya bertahun-tahun, menggantikan TV lama yang rusak karena tersambar petir (tentu saja TV tabung juga). Akan tetapi, produk zaman baheula memang punya build quality yang mantap, belum ada bagian yang copot meski berkali-kali tersenggol maupun terhantam barang (atau kepala).

Kualitas gambarnya? Jangan ditanya. Bagi Anda yang suka mengeluh karena resolusi layar ponselnya masih 720p, lebih baik jangan menonton TV tabung karena dapat membuat naik darah. Maklum, titik-titik pikselnya saja masih sangat tampak kalau dilihat dari jarak dekat. Akan tetapi, sebenarnya hal itu tidak buruk-buruk amat kok. Output warnanya lumayan dan gambarnya masih cukup jelas, meski memang tidak bisa dibandingkan dengan LED TV.

Baca Juga:  Selain Saya, Siapa Lagi yang Menyebut Film Warkop DKI dengan Sebutan "Film Dono"?

Kualitas suaranya juga masih acceptable dan tidak pecah meski disetel ke volume yang cukup keras. Bahkan ketika digunakan untuk menonton acara seperti konser musik, suara merdu Raditya Dika Isyana Sarasvati masih dapat dinikmati (setidaknya untuk kuping kaleng saya). Tentu saja, jangan berekspektasi terlalu tinggi.

Masalah utamanya adalah pada tampilan layarnya. Hampir semua tayangan televisi saat ini telah menggunakan aspect ratio 16:9, sementara layar TV tabung memakai aspect ratio 4:3. Tentu saja akibatnya adalah adanya black bar di atas dan bawah layar, sehingga pada dasarnya tampilan layarnya tidak benar-benar 21 inci.

Sebenarnya hal ini bukanlah masalah besar bila layar TV yang digunakan berukuran cukup besar. Akan tetapi, bagi televisi berukuran layar kecil hal ini menjadi tidak mengenakkan. Sudah layarnya cuma 21 inci, masih terpotong juga? Belum lagi jika tayangan televisinya menggunakan subtitle yang kurang jelas. Hal ini menimbulkan situasi serba salah, mau menonton dari jauh kok subtitle-nya tidak terbaca. Sebaliknya, menonton dari dekat kok malah bikin mata makin minus. Hadeeehhh~

Satu masalah lagi yang agak merepotkan adalah saya tidak bisa mengoperasikan TV ini dengan remote. Bukan apa-apa, remote bawaannya sudah lama rusak. Mengingat segala jenis remote TV sejak zaman Paleolithikum memang sering mudah rusak, penghuni rumah saya tidak berminat untuk beli remote baru.

Lho, kan bisa pakai remote dari ponsel seperti hape kentang Xiaomi? Nah, itu dia masalahnya. Saking lawasnya TV ini, tidak ada setting aplikasi Mi Remote yang dapat dipakai. Alhasil, satu-satunya cara mengoperasikannya adalah dengan memencet tombol-tombol yang ada di bawah layar. Hal ini menimbulkan konsekuensi lain, yaitu selalu munculnya rasa mager untuk sekadar menyalakan, mematikan, atau mengganti saluran.

Selain itu, TV tabung ini sama sekali tidak ringkas. Jika LED TV hanya memiliki ketebalan sekian senti saja, TV tabung di rumah saya tebalnya setidaknya 40 cm. Oleh sebab itu, TV ini hampir-hampir tidak memenuhi unsur estetika masa kini. Beratnya juga cukup naudzubillah, bisa sampai belasan kilogram dan tidak bisa diangkat sendirian.

Baca Juga:  Lamalera dan Rindu yang Tak Kunjung Selesai

Lalu, mengapa masih menggunakan TV tabung?

Pertama, karena gambar dan suaranya masih lumayan. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, kualitas detail gambar dan warna yang dikeluarkan masih cukup acceptable, begitu pula dengan suaranya. Kalau masih bisa diterima, untuk apa diganti?

Kedua, saat ini keluarga saya sudah jarang menonton televisi. Seperti masyarakat pada umumnya, kami juga sudah terjajah YouTube. Bukannya tidak mau menonton TV, tetapi konten televisi saat ini memang sampah tidak bermutu kurang sesuai selera. Tayangan yang ada sering kali berupa sinetron absurd, reality show, hingga adu domba berkedok talkshow. Sekalinya ada tayangan yang bermutu, durasi iklannya lebih panjang dari acaranya. Kan jadi mlz bgt~

Di sisi lain, layanan streaming video menawarkan kepraktisan. Tidak perlu jauh-jauh membahas Netflix yang berbayar dan diblokir grup Telkom, di YouTube kita sudah bisa mendapatkan banyak hal secara gratis. Meski tidak terbebas dari konten kurang bermutu, tetapi kita memiliki kebebasan untuk memilih konten yang sesuai selera kita. Berbagai macam konten tersedia, mulai dari acara TV hingga content creator kecil-kecilan bermodal kamera ponsel. Memang kenikmatan menonton kita masih diselingi oleh iklan, tapi durasinya relatif pendek dan mayoritas dapat di-skip. YouTube juga dapat diakses dengan mudah dari mana saja, bahkan bisa diunduh dan ditonton secara luring. YouTube YouTube lebih dari TV, BOOM!!! *GGS vibes intensifies*

Ketiga, layar LED TV cenderung lebih mudah rusak. Hei, ini bukan sekadar penghiburan diri saja. Sebenarnya kami bukannya benar-benar tidak ingin memakai LED TV, tetapi tukang servis televisi kenalan bapak saya justru menyarankan agar tetap mempertahankan TV tabung kami karena lebih awet dan bandel.

Tukang tersebut curhat jika ia sering memperbaiki layar LED TV yang rusak, padahal usianya baru satu-dua tahun. Biaya perbaikannya juga tidak bisa dibilang murah. Hal ini berbanding terbalik dengan TV tabung, yang keawetannya menyaingi ponsel Nokia 3310.

Alasan terakhir dan terpenting, tentu saja hemat uang hehehehehehehe.

BACA JUGA Memangnya Dia Artis? Kok Nggak Pernah Masuk TV? atau tulisan Rafie Mohammad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
8

Komentar

Comments are closed.