Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Acara TV

Bagi Saya, TV Tabung Jauh Lebih Baik Dibanding TV LED!

Firdaus Al Faqi oleh Firdaus Al Faqi
30 Juni 2021
A A
Bagi Saya, TV Tabung Jauh Lebih Baik Dibanding TV LED! terminal mojok.co

Bagi Saya, TV Tabung Jauh Lebih Baik Dibanding TV LED! terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Zaman memang terus bergerak dengan kebut-kebutan. Beragam teknologi canggih, mulai menemukan bentuknya. Peralihan dari barang-barang dengan teknologi minim, sudah tak bisa dihindarkan. Namun, bagi saya, ada beberapa barang—walaupun dengan teknologi agak lawas—yang perlu dipertahankan. Salah satunya TV tabung yang setia menemani saya dari kecil hingga pada fase paling menyebalkan dalam kehidupan: jadi pengangguran.

Sewaktu kecil, kehadiran TV jadi semacam bonus bagi saya. Dari TV, saya jadi bisa liatin saluran macam National Geographic atau BBC Earth hampir setiap hari. Dulu nama salurannya Lativi, saya masih ingat betul namanya. Namun, setelah beberapa tahun, saluran tersebut diganti menjadi saluran berita dan jadi tempat debat menyebalkan dari orang-orang dengan tensi darah yang tinggi.

Tak hanya Lativi, dulu saya juga sering lihat Si Bolang. Salah satu acara di stasiun Trans 7 yang menampilkan kegiatan harian dan seru dari anak-anak di suatu daerah yang sepertinya jarang disorot oleh media. Kehadiran Si Bolang, sungguh bikin masa SD saya makin berwarna. Darinya, saya bisa belajar bahwa ternyata di Indonesia, banyak banget bahasa, suku, budaya, dan keindahan alam yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya.

Beragam keindahan itu, bisa saya rasakan dan lihat di tabung gendut yang dibeli oleh orang tua saya, TV. Ya, TV yang saya gunakan dari saya kecil hingga saat ini, masih TV jenis tabung yang bagian belakangnya menggelembung itu. Walaupun saat ini banyak penawaran dari agen dan iklan untuk mengganti TV tabung saya dengan TV LED, saya sekeluarga sama sekali tidak menyetujuinya. Kami, sudah sangat betah dan cinta dengan TV jenis tabung ini.

Bagaimana tidak. TV ini memiliki ragam kelebihan yang jauh di atas TV jenis lainnya. TV tabung yang saya miliki ini, dibeli saat saya masih kelas dua sekolah dasar. Kalau dihitung sampai saat ini, berarti TV ini telah menemani saya selama hampir 15 tahun. Bayangkan saja, mana ada teknologi saat ini, secanggih apa pun komponen di dalamnya mampu bertahan selama lima belas tahun. Kayaknya nggak ada lagi. Poin plus pertama sudah didapatkan, yakni tentang ketahanan dari TV tabung tersebut.

Poin kedua, harga TV jenis ini tergolong murah. Dulu, saat orang tua saya memutuskan untuk membelinya, mereka sama sekali nggak mengeluh terkait dengan harga yang ditawarkan. Yang kalau boleh saya ambil kesimpulan, harganya nggak mahal-mahal amat atau malah murah. Begitu juga saat saya cari harga bekas dari jenis TV yang saya miliki, nggak ada tuh harga yang sampai melebihi UMK Jogja. Malah sangat jauh di bawahnya.

Selain daya tahan dan harganya yang murah,TV tabung juga memiliki speaker yang nggak kalah dengan sound lima ratus ribuan yang saya beli. Bass, treble, dan beberapa komponen suara lainnya tercampur dengan amat rapi plus nyaman juga didengarkan oleh telinga. Nggak ada suara cempreng, gembret, ataupun pecah sejak lima belas tahun lalu saya gunakan. Sampai sekarang, ia masih baik-baik saja.

Belum berhenti di situ, selama lima belas tahun ini, TV yang saya miliki juga nggak pernah ada kerusakan sama sekali. Saya nggak pernah sekalipun membawanya ke tukang reparasi. Komponen yang ada di dalamnya, saya yakin, memiliki kualitas prima. Kalaupun ada kerusakan, paling biaya memperbaikinya nggak sampai dua ratus ribu rupiah. Masih relatif murah jika dibandingkan dengan biaya reparasi barang elektrnik nan canggih lainnya.

Baca Juga:

Setelah Saya Baca Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma

Tanpa Asuhan Keluarga Kent, Superman Nggak Akan Jadi Pahlawan

Bentar, masih ada lagi. Selain kelebihan di atas, TV tabung pun sangat mudah dan tergolong aman-aman saja saat dibersihkan. Nggak ada metode khusus yang harus pakai kelembutan, kehati-hatian agar layarnya nggak lecet, atau takut kena senggol dan insiden lain yang mungkin terjadi saat membersihkannya.

Dan hal yang paling bikin saya cinta dengan TV tabung, adalah jangkauan dari antenanya yang amat luas. Saya lahir di desa dan agak jauh dari kota. Kehadiran TV tabung dengan jangkauan antenanya yang luas, sangat membantu saya dalam menikmati beragam tayangan yang disiarkan. Begitu pula dengan orang-orang yang ada di desa saya, kebanyakan dari mereka, memilih TV jenis tabung.

Mengapa saya bandingkan dengan TV LED? Ya lantaran sekarang banyak banget yang pakai jenis tersebut. Namun, saya nggak pernah menemukan seperti apa yang ada dalam TV tabung. Pertama, coba saja kalian cari di gugel dengan keyword “TV LED”. Yang muncul dalam halaman pertama gugel dalam kolom ‘orang juga bertanya’, pertanyaan pertama yang muncul adalah, “TV LED yang awet merek apa?”

See? Itu menandakan kalau TV LED sama sekali nggak awet dan mudah rusak. Selain itu, harga TV LED juga mahal banget. Kalau masih gaji pas-pasan mah kayaknya mending disimpen aja ketimbang beli TV LED.

Selain kekurangan di atas, peletakan TV jenis LED juga nggak bisa sembarangan. Dia harus diletakkan di tempat yang sekiranya nggak memunculkan kemungkinan kena senggol. Tahu sendiri kan kalau TV jenis LED bentuknya tipis banget. Kena senggol dikit, lalu jatuh, haqqul yakin bakal langsung rusak.

Kalau rusak sih, memang, masih bisa dibenerin ke tukang reparasi TV. Kalau komponen di TV jenis tabung itu cenderung murah, pada komponen TV jenis LED malah sebaliknya. Mahal banget. Dan, beberapa alasan inilah yang masih bikin saya heran kenapa banyak orang-orang yang memilih TV jenis LED.

Ya memang, fiturnya lebih canggih. Bisa buat nonton film, disambunginTVataupun laptop, dan beberapa hal yang memang nggak bisa dilakukan di TV jenis tabung. Tapi ya, ngapain juga gituloh. Kan, dengan laptop ataupun gawai, tanpa TV pun masih bisa digunakan untuk nonton. Selain itu, nggak ada lagi kelebihan TV jenis LED.

Dan dengan perbandingan ini, saya pengin banget bilang, kalau TV jenis tabung jauh lebih baik daripada TV jenis LED. Nanti kalau pembaca ada yang pengin ganti TV-nya, jangan lupa pertimbangkan TV jenis tabung, ya~

BACA JUGA Tahun 2020 dan Saya Masih Menonton TV Tabung dan tulisan Firdaus Al Faqi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2021 oleh

Tags: Gaya Hidup TerminalTV LEDTV tabung
Firdaus Al Faqi

Firdaus Al Faqi

Sejak lahir belum pernah pacaran~

ArtikelTerkait

Membandingkan Majalah Kawanku, Gadis, dan Citacinta terminal mojok.co

Membandingkan Majalah Kawanku, Gadis, dan Citacinta

16 Juli 2021

Alasan Fans Musisi Indonesia Jarang Beli Album Fisik Karya Idolanya

20 Juni 2021
Kineruku: Tempat Favorit buat Skripsian Mahasiswa Bandung yang Terkenal Homey terminal mojok.co

Kineruku: Tempat Favorit buat Skripsian Mahasiswa Bandung yang Terkenal Homey

8 Juli 2021
penyembelihan hewan kurban idul adha qurban madura mojok

5 Kelompok Warga dan Tugas Mereka Saat Penyembelihan Hewan Kurban

15 Juli 2021

3 Hal yang Bikin Deg-degan Saat Pilih Tukang Bangunan

13 Juli 2021
3 Syarat Utama yang Harus Dimiliki jika Ingin Menjadi Barista terminal mojok

3 Syarat Utama yang Harus Dimiliki jika Ingin Menjadi Barista

24 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliah di UIN Dipandang Sebelah Mata, Ditambah Ambil Jurusan Nggak Populer Jadi  Makin Menderita Mojok.co

Kuliah di UIN Dipandang Sebelah Mata, Ditambah Ambil Jurusan Nggak Populer Jadi  Makin Menderita

16 April 2026
Jadi Petani Itu Blas Nggak Ada Slow Living-nya, Jangan Ketipu Konten Sosmed!

Jadi Petani Itu Blas Nggak Ada Slow Living-nya, Jangan Ketipu Konten Sosmed!

14 April 2026
5 Dosa Warung Bakso yang Bikin Hilang Nafsu Makan (Unsplash)

5 Dosa Warung Bakso yang Bikin Hilang Nafsu Makan, Bahkan Sebelum Sendok Pertama

13 April 2026
Honda Odyssey: Mobil Indah, tapi Jalan Nasibnya Tak Mudah

Honda Odyssey: Mobil Indah, tapi Jalan Nasibnya Tak Mudah

11 April 2026
Upin Ipin, Serial Misterius yang Bikin Orang Lupa Diri (Wikimedia Commons)

Semakin Dewasa, Saya Sadar Bahwa Makan Sambil Nonton Upin Ipin Itu adalah Terapi Paling Manjur karena Bikin Kita Lupa Diri Terhadap Berbagai Masalah Hidup

17 April 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co

Warga Depok Habiskan Hampir 2 Juta Rupiah per Bulan Cuma buat Kerja di Kawasan Senayan, Dedikasinya Tinggi!

16 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi
  • PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk
  • Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri
  • Penyesalan Pasang WiFi di Rumah: Lepas Kendali “Merusak” Hidup dan Mental karena Terkungkung Layar HP
  • PNS Dianggap Pekerjaan Mapan karena Bisa Makan Gaji “Buta”, tapi Aslinya Mengoyak Hati Nurani
  • Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.