Mempertanyakan Falsafah di Balik Nama Unik Orang Kampung Zaman Dulu – Terminal Mojok

Mempertanyakan Falsafah di Balik Nama Unik Orang Kampung Zaman Dulu

Artikel

Pada beberapa waktu yang lalu, saya menyimak sebuah obrolan cukup serius namun santai antara ibu dan kakak saya mengenai pilihan antara membeli tanah atau langsung membeli rumah. Sebuah diskusi wajar yang seringkali muncul di antara orang-orang yang sudah memiliki keluarga di usia muda seperti kakak saya. Diskusi seperti itu selalu menarik untuk diperhatikan sebagai acuan jangka panjang dalam berumah tangga dan mungkin saja berguna bagi saya jika suatu ketika sudah menikah.

Alih-alih mendapat pencerahan, tema diskusi seputar rumah itu tiba-tiba berganti jadi dongeng seputar pergantian nama yang terjadi di keluarga besar saya sendiri. Di pertengahan diskusi yang seru itu tiba-tiba menjadi mindblowing dan penuh gelak tawa ketika ibu saya bercerita tentang paman saya yang kesulitan mengurusi dokumen surat tanah. Pasalnya, pergantian nama itu tak sesuai antara akta kelahiran dengan ada yang di KTP. Misalnya, anggap saja nama paman saya yang tertera di KTP setelah diubah adalah Bagus Maulana, sedangkan nama di akta masih Nanang Jaelani.

Tanpa bermaksud mengejek nama asli paman saya, tapi cerita itu jadi kisah penuh simpati dan sekaligus bikin saya ketawa. Sebab, sejujurnya saya nggak menyangka bahwa nama paman yang saya kenal selama ini ternyata punya sekelumit cerita yang unik meski sebenarnya saya sama sekali tidak keberatan dengan orang-orang yang memutuskan mengganti namanya. Pikiran saya seketika dipenuhi oleh nama-nama unik yang pernah saya lihat di internet dan bikin saya terpingkal-pingkal sebelum Ibu saya kembali meneruskan ceritanya.

Tadinya saya pikir bahwa pergantian nama itu hanya terjadi pada paman saya seorang. Tapi, rupanya cerita tentang pergantian nama itu banyak terjadi di hampir seluruh keluarga besar Ibu saya. Saya dan kakak saya yang sudah kepalang penasaran pun lantas meminta Ibu untuk bercerita lebih lanjut mengenai pergantian nama yang kebanyakan muncul di keluarga nenek saya yang berasal dari kampung.

Nenek saya adalah anak sulung dari sembilan bersaudara. Empat orang adik di antara delapan adik nenek saya ternyata sudah mengalami penggantian nama setelah kakek saya membawa mereka ke Bandung untuk sekolah. Misalnya, anggap saja ada salah satu adik nenek yang saya kenal dengan nama Sofiyan dan biasa dipanggil Abah Iyan yang ternyata punya nama asli Rabu. Nama panjangnya? Ya, Rabu doang, nggak ada nama kedua apalagi nama ketiga. Nama unik yang amat simpel itu sukses bikin saya ngakak guling-guling.

Saya jadi penasaran, apa yang menjadi latar belakang nenek buyut saya memberi nama anaknya dengan nama hari ketiga dalam satu minggu itu? Saya bertanya-tanya, apakah nama Rabu itu dipilih sebagai simbol kepemimpinan seperti yang dimiliki oleh presiden Jokowi yang juga lahir di hari Rabu? Kalau saja nenek buyut saya tidak pikun, mungkin saya akan melakukan konfirmasi langsung kepada beliau untuk mendapatkan jawaban yang sejati.

Ibu saya pun dengan sabar melanjutkan ceritanya sembari melihat saya dan kakak saya ngakak. Adik nenek lainnya, anggap saja, yang saya kenal dengan nama Abdul, ternyata memiliki nama asli Sabtu. Ya betul, Sabtu doang, dan tidak memiliki nama kedua maupun nama ketiga. Nama “Sabtu” pun sesaat membuat saya merenung. Apakah nama itu punya makna keceriaan karena semua orang pasti bergembira menyambut akhir pekan? Atau jangan-jangan nama itu dipakai agar adik nenek saya ini senantiasa menjadi pribadi  yang taat beribadah kepada Tuhan sebagaimana perintah Nabi Musa memerintahkan umatnya untuk senantiasa melaksanakan ibadah di hari Sabtu? Atau justru merupakan gabungan dari keduanya yang bermakna bahagia dalam beribadah kepada Tuhan?

Di lain waktu, saya pun bertanya langsung kepada nenek saya apa yang sebetulnya memotivasi buyut saya ketika menamai anak-anaknya dengan nama unik di atas. Namun begitu, apa yang saya dapat bukanlah sebuah jawaban, melainkan nama lain yang mengejutkan lagi. Nenek saya pun lantas bercerita bahwa beliau punya seorang kerabat yang bernama Runtah dan berasal dari kampung yang sama dengan nenek saya di Kuningan.

Mendengar nama unik itu saya langsung terperanjat dengan rasa tak percaya sambil tertawa lepas karena “runtah” dalam bahasa Sunda artinya adalah sampah. Tetapi, saya pun dilanda perasaan skeptis karena beberapa istilah pada bahasa Sunda yang digunakan orang Kuningan boleh jadi punya arti yang berbeda dengan bahasa Sunda yang digunakan oleh orang Bandung atau oleh kota-kota di Jawa Barat lainnya. Istilah goblog contohnya, adalah istilah kasar dalam bahasa Sunda yang memiliki makna gila atau menggambarkan perilaku yang kurang ajar. Berbeda dengan kebanyakan daerah Jawa Barat lain yang mempunyai arti demikian, istilah goblog buat orang Kuningan bisa berarti tuli.

Saya semakin dibuat heran dan terdorong untuk mengasumsikan istilah runtah tersebut dengan makna-makna yang mungkin positif meski mustahil rasanya untuk mengasosiasikan nama unik tersebut ke sesuatu yang bermakna baik. Lagipula, istilah runtah memang sudah sejak awal memiliki arti harfiah untuk menggambarkan sesuatu yang buruk. Saya pun lalu bertanya kepada nenek saya mengenai apa arti dari runtah tersebut dalam bahasa Sunda orang Kuningan sehingga menjadi sebuah nama yang diberikan kepada kerabatnya. Bahkan nenek saya pun tidak tahu mengapa. Betul-betul misteri.

Sampai tulisan ini dibuat, saya pun masih mempertanyakan kalimat terkenal yang mengatakan “apalah arti sebuah nama?” Tapi ‘kan sebuah nama tidak akan memiliki arti apa-apa tanpa ada doa yang baik jika tidak diiringi dengan nama-nama yang baik. Kalaupun orang di kampung zaman dulu memang tidak punya sumber informasi yang tidak bisa dijadikan acuan untuk menamai anak dengan nama-nama yang baik, kenapa tidak sampai terpikir untuk menamai anak dengan nama buah ya?

Gedang misalnya, yang dalam bahasa Sunda punya arti buah pepaya, yang mempunyai fungsi melancarkan pencernaan dalam tubuh sehingga bisa dimaknai lancar rejeki. Atau Kadu, yang berarti buah durian sehingga bisa dimaknai sebagai raja. Saya percaya bahwa setiap orang punya hak untuk merubah namanya atas pertimbangan-pertimbangan tertentu terlepas apapun alasannya. Lagipula, salah satu tujuan adanya Disdukcapil adalah untuk memberikan perlindungan hukum kepada orang-orang yang ingin mengubah namanya dengan nama-nama yang baik kan?

BACA JUGA 6 Rekomendasi Nama Anak yang Nyentriknya Setara Nama Anak Elon Musk dan tulisan Nuriel Shiami Indiraphasa lainnya.

Baca Juga:  Pengalaman Mengajarkan Saya untuk Tidak Berharap Banyak pada Ban Tubeless
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.