Beberapa Logical Fallacy dalam Pernyataan Yasonna Laoly Mengenai Tanjung Priok dan Menteng

Yasonna membangun klaim dari hasil penelitian, menyimpulkan bahwa kejahatan lahir dari kemiskinan. Parahnya ia tidak mencoba menunjukkan penelitian itu dilakukan kapan dan oleh siapa.

Featured

Avatar

Pernyataan Yasonna Laoly tentang kejahatan terjadi lebih banyak di derah-daerah miskin dikecam oleh banyak pihak. Pasalnya ia menyatakan bahwa kejahatan lebih cenderung terjadi di derah-daerah slum areas seperti Tanjung Priok, tidak di Menteng. Meski ia sudah meminta maaf pada warga Tanjung Priok setelah didemo tentunya namun pernyataannya itu menarik untuk dibahas karena ada banyak sekali bentuk logical fallacy yang dibuatnya.

Saya akan menunjukkan logical fallacy dari pernyataan bapak yang terhormat ini dengan mengutip secara verbatim pernyataan-pernyataan yang disampaikan agar tidak dianggap mengada-ada. Saya hanya fokus pada pernyataan-pernyataan yang mengandung logical fallacy baru kemudian menjelaskannya.

Itu sebabnya kejahatan lebih banyak terjadi di daerah-daerah miskin. Slum areas. Bukan di Menteng. Anak-anak Menteng tidak. Tapi coba pergi ke Tanjung Priok di situ ada kriminal. Lahir dari kemiskinan.”

Pernyataan Yasonna di atas menunjukkan kesalahan logika berupa Circular Reasoning Fallacy. Jenis kesalahan logika ini merupakan kesalahan logika di mana klaim kesimpulan dibuat dengan berputar pada premis awal yang sebenarnya belum tentu benar. Apakah benar kejahatan lebih banyak terjadi di Tanjung Priok daripada Menteng? Pernahkah ada penelitian yang membandingan tingkat jumlah kejahatan yang terjadi di Menteng dan Tanjung Priok?

Yasonna saat itu membuat klaim kesimpulan yang merujuk pada premis bahwa kejahatan lebih banyak di daerah miskin maka kejahatan banyak terjadi di Tanjung Priok yang ia sebutkan sebagai slum areas, tempat kumuh yang miskin ketimbang daerah Menteng. Lalu ia membuat kesimpulan kriminal lahir dari kemiskinan. Saya tidak perlu menjelaskan lebih detail karena saya rasa semua pembaca paham bahwa argumen bapak ini memang muter-muter.

“Saya ini kriminolog. Profesor kriminologi. Jadi jelas apa yang saya sampaikan itu sesuai kaidah keilmuan saya, jangan diputar balik.”

Logical fallacy selanjutnya adalah jenis kesalahan logika yang disebut Appeal to Authority. Jenis kesalahan logika ini ditunjukkan dengan pembuatan klaim yang tidak didasarkan pada kualitas dari argumen tapi menggunakan otoritas untuk mendukung klaim. Pada pernyataan tersebut Yasonna menggunakan otoritasnya sebagai seorang kriminolog, terlebih profesor kriminologi. Jadi apa yang ia sampaikan bisa disimpulkan sudah benar karena sesuai kaidah keilmuannya bukan karena kualitas dari argumennya. Iya deh profesor memang selalu benar meski banyak cacat dalam argumennya tetap benar.

Baca Juga:  Panduan Misuh yang Halus, Baik, dan Benar untuk Dipakai di Kehidupan Sehari-hari

Berikan saya dua orang anak. Satu anak yang lahir di Menteng, kaya. Ibu kaya, bapak doktor atau profesor. Berikan saya. Dan ambil satu anak dari Tanjung Priok. Lahir dari ibu pelacur, bapak seorang preman. Kasih ke saya.

Dan kemudian anak Menteng itu saya kasih tinggal di tempat mamanya pelacur. Dan anak dari pelacur dan bapaknya preman saya kasih ke Menteng. Next twenty years. Look at them, who will be a criminal. Anak Menteng-kah atau Tanjung Priok? Biological factor only contribute (tak terdengar jelas), semua masyarakat harus paham soal ini.

Terdapat dua kesalahan logika dari pernyataan Yasonna di atas. Yang pertama adalah kesalahan logika yang disebut dengan The Texas Sharpshooter Fallacy. Jenis kesalahan logika ini mengambil satu informasi yang dianggap signifikan dan mengklaim bahwa data itu otomatis adalah pembenar absolut dari pernyataan tanpa melihat variabel lainnya.

Yasonna dalam membangun klaim dari hasil penelitian, menyimpulkan bahwa kejahatan lahir dari kemiskinan. Parahnya Yasonna tidak mencoba menunjukkan bahwa penelitian itu benar adanya, dilakukan oleh siapa, dan kapan. Okelah karena dia seorang kriminolog kita asumsikan dia benar soal eksistensi penelitian tersebut. Namun jika suatu informasi diklaim benar tanpa melihat variabel lain maka klaim ini menjadi The Texas Sharpshooter Fallacy.

Jenis kesalahan logika yang kedua adalah Burden of Proof Fallacy. Jenis logika ini menganggap klaim benar jika tak ada pihak yang bisa membuktikan ia salah. Yasonna membuat klaim bahwa jika ia mendidik anak dari Tanjung Priok yang miskin dan lahir dari rahim seorang pelacur sekalipun akan bisa menjadi orang baik-baik jika ia dididik dengan pendidikan ala orang kaya di Menteng. Berkebalikan dari anak orang kaya dari Menteng yang bapaknya seorang profesor atau doktor tapi jika dididik dan dibesarkan dengan kemiskinan kemungkinan akan menjadi kriminal.

Baca Juga:  Yasonna Laoly dan "Azab" karena Sudah Menghina Dian Sastrowardoyo

Narasi ini ia bangun untuk mendukung pernyataannya dan tidak bisa dibantah karena pernyataan ini bersifat apriori. Namun bukan berarti ia benar hanya karena tidak bisa dibuktikan salah. Lagian mana ada orang tua yang rela anaknya dibuat jadi subjek penelitian eksperiemental. Inikan sama saja melanggar kode etik penelitian.

Narasi ini dibangun dari pseudo sains dalam penelitian-penelitian yang menyangkut parenting yang sedari awal cacat prosedur. Stephen Pinker, The Blank Slate (2002) menjelaskan telah begitu banyak penelitian-penelitian yang menguji korelasi antara apa yang orang tua lakukan dan bagaimana hasilnya pada anak menyimpulkan parenting membentuk anak.

Pinker membahas penelitian yang menyimpulkan orang tua yang bicara banyak menghasilkan anak yang vokal, orang tua yang memukul anaknya membuat anaknya menjadi kasar. Hal ini tidaklah terlalu berbeda dari apa yang disampaikan Yasonna. Namun penelitian ini seringkali melupakan variabel bahwa orang tua mewariskan gen kepada anaknya.

Penelitian ini jenis ini hanya bisa dijadikan rujukan hanya jika ia memamsukan variable gen. Jadi menguji korelasi antara apa yang dilakukan orang tua terhadap anak angkatnya di mana tidak ada pengaruh dari faktor genetis barulah ia bisa disimpulkan bahwa parenting membentuk perilaku anak. Itu pun jika jika hipotesis diterima.

Narasi yang dibangun Yasonna sama sekali tidak berdasar dan bersifat apriori. Ia berasumsi tentang sesuatu sebelum bertemu dengan pengalaman tapi dengan seenaknya mengambil kesimpulan. Namun, karena ia menteri paling cerdas dalam pemerintahan Jokowi jadi tentu saja ia selalu benar. Beliau kan menteri lulusan Nort Carolina State University, semua lulusan Nort Carolina State University adalah orang yang cerdas.

Ngomong-ngomong saya juga membuat logical fallacy jenis Circular Reasoning Fallacy dalam tulisan ini. Apakah kalian bisa mendeteksi logical fallacy yang saya buat?

BACA JUGA Yasonna Laoly dan “Azab” karena Sudah Menghina Dian Sastrowardoyo atau tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
5

Komentar

Comments are closed.