Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

Jangan Jadi Peneliti di Indonesia

Uli Aprilia Mukaromah oleh Uli Aprilia Mukaromah
5 September 2022
A A
Jangan Jadi Peneliti di Indonesia

Jangan Jadi Peneliti di Indonesia (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tidak sedikit pada sarjana eksakta ataupun sosial yang fokusnya pada bidang penelitian memiliki hambatan karier, finansial, dan sejenisnya. Hal tersebut membuat para peneliti dan calon peneliti memilih banting stir ke pekerjaan yang notabenenya amat jauh dari disiplin ilmu yang ia pelajari selama kuliah.

Belum lagi menghadapi kenyataan bahwa peneliti dianggap nggak jelas tugasnya apa, nggak dibutuhin negara, bahkan menjadi lawan bagi pihak-pihak tertentu ketika ingin mengkomersilkan atau menyuarakan hasil penelitiannya kepada khalayak umum.

Tak mengagetkan jika akhirnya orang-orang berpikir apa gunanya jadi peneliti di negara ini, jika memang hampir tak ada dukungan untuk profesi ini. Tentu hal ini tak muncul tiba-tiba. Setidaknya, ada lima alasan yang saya temukan kenapa bisa hal ini terjadi.

#1 Perspektif negara berkembang

Secara umum, negara berkembang fokus kepada industri. Sehingga dalam hal SDM lebih banyak diambil dari jurusan teknik, D3, atau D4. Sementara lulusan sains lebih banyak beralih dari bidang yang ia tekuni. Tidak lebih dari 10 persen sarjana sains yang bekerja sesuai dengan jurusan kuliah mereka.

Dan yang cukup mendasar dari negara berkembang, kita fokus pada produksi dan industri ketimbang riset, yang jelas jadi job desc-nya peneliti.

#2 Tidak ada sinergi yang baik

Ini masalah yang pelik. Peneliti dan industri kerap “cekcok” sebab mereka punya pandangan sendiri dan seringnya bertolak belakang. Industri tak berani trial and error terlalu sering, sedangkan peneliti butuh sekali hal tersebut. Hal itu diperparah oleh pemerintah yang tak (mau) menjembatani.

Tentu saja ini jadi masalah besar. Peneliti butuh dana, tapi industri memilih jalan konvensional dan tak mau mendanai. Pemerintah? Fokus Capres 2024.

#3 Gaji kecil

Kayaknya semua orang tahu kalau gaji peneliti di Indonesia itu kecil, terlebih jika dibandingkan dengan luar negeri. Dukungannya pun beda, dan statusnya pun dianggap mentereng.

Baca Juga:

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

Pulang dari Jepang Bikin Sadar Betapa Bobrok Daerah Asal Saya

Di negara kita? Sebentar, saya nangis dulu.

#4 Dianggap sebagai profesi yang tidak jelas

Mungkin ada benarnya jika ada anggapan bahwa jurusan kuliah yang ada di Indonesia itu hanya empat yaitu teknik, hukum, ekonomi dan kedokteran. Yang lain sifatnya pelengkap saja. Kemudian profesi yang dianggap mentereng oleh calon mertua pol-polnya seperti PNS, dokter, pebisnis, pejabat, polisi, TNI, dan sejenisnya. Ketika calon menantu bilang “saya peneliti di instansi A”, niscaya akan ada pertanyaan lagi setelahnya, “Peneliti kerjanya apa?”

Ya meneliti, Pak, Bu. Masak bikin kesel orang. Itu tugasnya Harry Maguire aja.

#5 Kerjaannya “diserobot”

Sudah tidak menjadi rahasia lagi jika permasalahan negara yang tupoksinya adalah milik peneliti, malah diserahkan sepenuhnya kepada politisi. Tidak usah berbicara mengenai pandemi atau wabah penyakit besar lainnya. Katakan, ambillah satu masalah genting yang sudah sangat di depan mata, yaitu penurunan laju muka tanah di pesisir Jakarta.

Sudah banyak pemberitaan, baik di media cetak maupun media elektronik mengenai topik tersebut. Ada yang memperkirakan 10 tahun, 15 tahun, 30 tahun, tapi semua intinya sama, Jakarta akan hilang ditelan laut.

Hal yang sama pernah terjadi di Tokyo pada 1930 dan 1960. Penurunan tanah yang terjadi di sana bisa dikatakan sama atau bahkan lebih buruk dengan yang saat ini terjadi di Jakarta. Namun, yang membedakan adalah tugas tersebut diserahkan kepada peneliti. Peneliti Jepang mengkaji banyak aspek sosial dan ilmiah yang menyebabkan bencana tersebut dapat terjadi. Maka diambillah keputusan dalam hal penghentian eksploitasi air tanah. Salah satu yang diterapkan, pemerintah menyediakan air gratis bagi masyarakat supaya tidak menggunakan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari. Pada 1980 permukaan tanah membaik dan berjalan konstan hingga 2000.

Sementara yang dilakukan pemerintah negara kita saat ini adalah membangun tanggul terus-menerus, yang sejatinya tidak menyelesaikan masalah dalam jangka panjang dan tidak memperbaiki pola hidup masyarakat agar lebih baik. Kenapa? Soalnya permasalahan diserahkan kepada politisi. Contohnya sih masih buanyak.

Itulah beberapa alasan yang bikin nasib peneliti di Indonesia begitu suram. Kalau memang mau sejahtera dan kaya raya, saya pikir, jadi peneliti kurang tepat. namun, kalau nggak ada peneliti, kok ya masa depan negara terlihat suram.

Penulis: Uli Aprilia Mukaromah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Inferiority Complex dalam Dunia Riset Indonesia 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 September 2022 oleh

Tags: Indonesiapenelitipolitisi
Uli Aprilia Mukaromah

Uli Aprilia Mukaromah

Yang punya Levitasi.

ArtikelTerkait

4 Perbedaan Wisuda di Jepang dan Indonesia Terminal Mojok

4 Perbedaan Wisuda di Jepang dan Indonesia

20 April 2022
Perlu Ada Balance of Power di Laut Cina Selatan

Perlu Ada Balance of Power di Laut Cina Selatan

8 Januari 2020
3 Budaya Orang Korea yang Nggak Relate Sama Orang Indonesia terminal mojok

3 Budaya Korea yang Nggak Dijumpai di Indonesia

27 Maret 2021
Mengenal Penajam Paser Utara, Ibu Kota Negara yang Baru

Mengenal Penajam Paser Utara, Ibu Kota Negara yang Baru

25 Januari 2022
warna pasir pantai

Ini Loh, 8 Warna Pasir Pantai Serta Asal Muasalnya

29 Agustus 2019
tas siaga bencana mojok

Tas Siaga Bencana yang Selalu Dianggap Sebelah Mata

3 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan Mojok.co

Katak dalam Soto, Ternyata Swike: Pengalaman yang Membuat Saya Kini Tak Mudah Percaya dan Meragukan Segalanya

21 Maret 2026
BEM Unesa Gerombolan Mahasiswa Malas Kerja, Cuma Cari Muka (Ardhan Febriansyah via Wikimedia Commons)

Kuliah di Unesa Surabaya Itu Sangat Menyenangkan, asal Dosennya Betul-betul Ngajar, Bukan Ngebet Jurnal

20 Maret 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Tinggal di Wonogiri Menyadarkan Kenapa Saya dan para Perantau yang Lain Memilih Mengadu Nasib di Kota Lain

19 Maret 2026
Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Butuh Kreativitas (Wikimedia Commons)

Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Kalau Punya Uang Tak Terbatas dan Boleh Saya Akan Ubah Alfamart Jadi “Ruang Singgah Urban”

20 Maret 2026
Seturan dan Babarsari, Padukuhan Kiblat Kehidupan Bebas Yogyakarta Mojok.co

Seturan dan Babarsari, Padukuhan Kiblat Kehidupan Bebas Yogyakarta

22 Maret 2026
Jalan Nasional Purworejo Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA Mojok.co

Jalan Nasional Purworejo-Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA

16 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.