Label untuk orang Jawa Timur itu ada banyak. Kami sering dibilang kasar, terlalu blak-blakan, hingga yang paling populer belakangan ini, slengean.
Sebagai warga ber-KTP Jawa Timur asli, dada saya agak sesak mendengar tanggapan yang menyamaratakan gaya bicara kami. Seolah-olah cara kami bersikap selalu identik dengan sifat tidak sopan, bahkan dijadikan tameng pembelaan atas gaya komunikasi pejabat publik yang buruk.
Kritik terhadap pernyataan pejabat atau tokoh publik dari Jawa Timur memang sah-sah saja. Namun, menggeneralisasi bahwa semua orang Jawa Timur itu slengean tanpa aturan jelas merupakan sebuah kekeliruan.
Slengean pun ada waktunya
Sebagai orang Jawa Timur, terutama warga Surabaya, nada bicara kami memang cenderung keras dan ceplas-ceplos. Gaya blak-blakan ini kerap bikin kaget kawan-kawan dari Bandung atau Jogja yang dikenal soft spoken dan serba halus. Nada tinggi dan gaya lugas itu sering disalahartikan sebagai kemarahan atau ketidaksopanan.
Padahal, bukan berarti kami tidak punya sopan santun. Itu cuma soal dialek, bukan niat buruk. Gaya santai dan ceplas-ceplos itu biasanya baru kami keluarkan secara lepas saat cangkrukan di warung kopi bersama kawan akrab.
Kami paham betul kapan harus bercanda dan kapan harus bersikap formal. Kalau sedang berada di forum resmi atau menjalankan amanah jabatan publik, warga Jawa Timur juga tahu tata krama.
Slengean beda dengan arogan
Di sinilah letak kerancuan terbesar yang sering terjadi. Banyak orang keliru mencampuradukkan antara gaya slengean dan sikap arogan.
Slengean itu merupakan bentuk komunikasi yang santai, rileks, serta tidak kaku demi mencairkan suasana. Slengean sama sekali tidak berniat merendahkan atau menyakiti perasaan lawan bicara. Sebaliknya, arogan adalah kesombongan murni yang muncul karena merasa lebih tinggi, merasa paling benar, dan enggan mendengarkan orang lain.
Ketika seorang pejabat publik bersikap meremehkan kritik atau merespons persoalan secara menyepelekan, itu bukan lagi gaya slengean khas Jawa Timur. Itu murni tindakan arogan yang kebetulan dilakukan oleh orang Jawa Timur.
Nggak usah bawa-bawa Jawa Timur
Sebagai sesama warga asal Jawa Timur, saya justru menjadi pihak yang paling keras melontarkan protes. Kami sama sekali tidak terima jika karakter daerah kami dijadikan alat untuk memaklumi sikap pongah seseorang demi menutupi buruknya tata kelola komunikasi publik.
Mengatasnamakan gaya Jawa Timur demi membenarkan cara komunikasi publik yang buruk hanya akan mencoreng citra masyarakat luas. Kami bangga dengan identitas daerah kami yang cair dan akrab, tetapi kami jauh lebih menghargai kepatutan serta rasa hormat.
Jika ada figur pejabat yang dikritik karena cara bicaranya yang kurang patut, akuilah hal tersebut sebagai kekurangan pribadi, bukan dibebankan kepada seluruh warga Jatim.
Pada akhirnya, menjadi orang Jawa Timur yang sejati berarti tahu bagaimana cara menempatkan diri secara bijak. Kita boleh bangga dengan karakter yang lugas dan spontan, tetapi jangan sampai kehilangan empati serta rasa hormat.
Slengean yang bermartabat adalah gaya santai yang tetap menjunjung etika. Mari berhenti berlindung di balik kedaerahan hanya untuk menutupi keangkuhan individu. Nggak mbois itu namanya.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Betapa Pentingnya Ilmu Komunikasi buat Pejabat Negara Kita
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













