Gendar Pecel dan Lempok, Kuliner dari Ujung Boyolali yang Tak Setenar Soto Seger – Terminal Mojok

Gendar Pecel dan Lempok, Kuliner dari Ujung Boyolali yang Tak Setenar Soto Seger

Artikel

Dicky Setyawan

Apa yang terlintas di pikiran kalian setelah mendengar kata Boyolali? Jika saya mau “sok tahu” menyimpulkan, mungkin yang terlintas pertama tak lain kalau bukan susu khas Boyolali atau soto seger. Branding kuliner khas Boyolali tersebut tertanam kuat di benak orang luar Boyolali, yang cukup sering membuat saya kesal dengan pertanyaan, “Eh, rumahmu Boyolali, kan? Boyolali punya susu khas, kan? Bawain, dong!” Dan akan senantiasa saya bantah mentah-mentah. Bukan bermaksud pelit, Boyolali saya ini beda, loh. Jangankan susu, sapi perah mana ada di Boyolali saya.

Jika kalian pikir Boyolali itu tempat yang sejuk kebagian semilir Merapi dan Merbabu, Boyolali saya ini nggak kebagian semilirnya, cuma kebagian pemandangan dua gunung itu. Sama persis dengan gambar pemandangan yang kalian warnai dengan krayon ketika kalian SD. Dua gunung, sawah, dan burung-burung emprit terbang, itu thok! Lebih jelasnya, secara serakah ciri khas Kabupaten Boyolali sendiri diambil dari Kecamatan Boyolali dan sekitarnya. Dan daerah saya ini, bisa dibilang memiliki ketimpangan dengan Boyolali pusat.

Menariknya, letak pusat Kabupaten Boyolali (Kecamataan Boyolali) nggak berada di tengah-tengah, yang sejatinya posisi itu berada di Kecamatan Simo. Pusat Boyolali cenderung berada di ujung selatan ke barat, sedangkan wilayah yang saya jadikan tempat makan, minum, eek, dan segalanya ini berada di bagian utara mepet ke timur. Kecamatan Andong, Klego, Karanggede, Kemusu, Wonosegoro, Juwangi, dan sekitarnya, orang biasa menyebutnya: Boyolali utara. Yang jarak tempuh ke pusat kabupaten sama jauhnya dengan jarak tempuh ke kota Solo. Heuheuheu. Makanya wajar jika kalian menemui banyak perbedaan di wilayah ini, terutama semakin ke utara. Salah satunya soal makanan.

Satu di antara kuliner yang khas itu adalah pecelnya. Beda dengan pecel khas Jawa Timuran, di Boyolali “saya ini”, pecel itu tidak berdasar nasi yang lantas ditaburi sambal kacang dan sayuran. Nasi itu digantikan “gendar”. Apa itu gendar? Gendar itu semacam lontong, tapi memiliki tekstur lebih kenyal, nggak dibungkus daun pisang, dan dibuat dengan cara dikukus. Gendar terbuat dari nasi yang biasanya hampir basi (menggunakan nasi bagus juga lebih mashok), selain bisa digunakan sebagai pakan ayam dan olahan “cengkaruk”, nasi ini bisa diberi obat gendar, atau di daerah lain juga disebut ceketit, lantas jadilah “gendar”, yang di daerah saya juga populer dengan nama “puli”.

Baca Juga:  Sambal Tumpang, Makanan Khas Kediri yang Ramah Lingkungan

Gendar sebenarnya juga banyak ditemukan di daerah lain di Jawa Tengah, bedanya di daerah saya, penganan ini akan dengan mudah kalian temui, semudah menemukan seplastik es teh di kamar anak kos. Mau pagi hingga tengah malam. Mau di pasar hingga tukang sayur. Hal yang selama ini jarang saya temui selama kos di Solo, yang konon dulu juga sempat banyak beredar, sebelum dijajah pecel Jawa Timuran. Penganan ini biasanya dibungkus daun jati, tanaman yang mudah ditemui di dataran rendah. Kemudian, sub-olahan gendar juga sering dijadikan kerupuk, kerupuk gendar. Kerupuk gendar adalah gendar yang dipotong tipis-tipis, kemudian dikeringkan, lalu digoreng.

Selain gendar pecel, olahan lain yang populer di Boyolali utara ialah lempok. Berbeda dengan gendar yang cukup mudah ditemui di daerah lain juga, penganan satu ini cukup asing bagi beberapa orang luar Boyolali utara. Lempok sendiri sebenarnya tak jauh beda dengan lontong, pun sama-sama dibungkus daun pisang. Bedanya, lempok biasanya berbentuk pipih alias gepeng, nggak berbentuk bulat. Penganan ini di Boyolali utara akan mudah kalian temui di pasar-pasar, atau bahkan beberapa warung makan juga menjual makanan ini.

Lontong pipih itu tak sendirian, biasanya ditemani sayur jepan atau sayuran lainnya, yang penyajiannya biasannya dibungkus daun jati, sama seperti gendar pecel. Rasa pedas, manis, dan gurih menyatu layaknya bintang, bulan, dan malam. Uwuuu. Satu yang menjadi ciri khas, biasanya penyajian tradisional lempok, lontong-lontong tersebut akan dipotong-potong oleh si penjual, sehingga pembeli tinggal melahapnya dengan biting (lidi) sebagai kuncian bungkus daun jati, tanpa perlu repot memotong-motong lempok.

Yah, begitulah kiranya gambaran lain Kabupaten Boyolali yang sedikit berbeda dengan Boyolali yang dikenal orang. Meskipun bosan dengan pertanyaan soal Boyolali, sejuk, susu, dan soto seger seperti yang orang kira, saya juga memaklumi hal tersebut. Toh, cukup nggak asing dengan “Boyolali” saja sudah lumayan bagus kok. Heuheuheu.

Sumber Gambar: Travelingyuk.com

BACA JUGA Gendar Pecel, Kuliner Khas Tanah Jawa yang Makin Langka atau tulisan Dicky Setyawan lainnya.

Baca Juga:  Nasi Goreng Jadi Menu Sarapan Itu Aturan dari Mana, sih?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
4


Komentar

Comments are closed.