Membaca tulisan Mbak Halwa yang berjudul Sisi Gelap Kuliah di Prodi PBSI: Belajar Bahasa Indonesia, tapi Mahasiswanya Nggak Paham PUEBI dan Nggak Suka Baca Buku di Terminal Mojok memancing saya menulis artikel tentang FISIP. Diceritakan, penulis kaget dengan mahasiswa prodi PBSI yang ternyata nggak baca buku.
Asal tahu saja, kumpulan mahasiswa yang malas baca itu ada banyak sebetulnya. Tidak hanya di prodi PBSI saja. Saat saya kuliah dulu, mahasiswa jenis ini juga mudah kita temukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik atau disingkat FISIP. Bahkan, bukan mahasiswanya saja, dosennya, sebagai pengajar di FISIP, yang mau baca buku juga sedikit. Kebanyakan, malah sibuk mengurus politik. Setidaknya begitulah berdasar pengalaman saya.
Anak FISIP memang terlihat sangar, tapi minim bacaan
Kalau ditanya fakultas mana yang paling sangar saat pemilihan presiden di kampus, saya yakin tidak ada fakultas lain berani berkutik jika sudah melihat anak FISIP. Alasannya mudah saja, mahasiswa FISIP itu santai, sebab jurusan di FISIP jarang ada praktikum. Tugas kuliahnya pun paling cuma bikin esai, ya mengarang bebas. Seperti kata senior saya, tugas anak FISIP itu mudah, kalau nggak baca, nulis, ya bacot! Hehehe.
Jadi ya maklum, otak mereka memang lebih banyak dihabiskan untuk menyusun strategi politik di kampus.
Akan tetapi, sayang, sesangar-sangarnya anak FISIP saat bacot, banyak dari mereka yang sebetulnya enggan baca buku. Bahkan, mereka sering diskusi berjam-jam sampai larut malam, tapi entah dari mana referensi bacaannya. Akhirnya, isi diskusinya cuma ngalor-ngidul bin amburadul. Tidak ketemu pangkal ujungnya. Paling isinya ya, “menurut saya”, “bagi saya”, “pendapat saya”.
Saya peringatkan kalian semua maba ya, kalian yakin sama pendapat senior FISIP kalian itu yang nggak suka baca?
Dosen nyambi berpolitik
Ketahuilah, FISIP itu bukan sekedar nama, tapi benar-benar gambaran civitas akademika di dalamnya. Jika kalian masuk FISIP, jangan disangka isinya adalah ilmuwan sosial saja. Di kampus saya misalnya, dosen FISIP itu beragam. Ada yang mantan aktivis, ada yang penasihat politik, ada pengurus ormas besar di Indonesia, bahkan ada yang jadi ketua nggak di satu ormas saja. The real, FISIP Menyala!
Akan tetapi, itu tidak selalu jadi hal menggembirakan bagi mahasiswanya. Sebab, tanggung jawab sebagai dosen kadang malah jadi yang nomor dua. Mulai dari sibuk rapat, sibuk konsolidasi, sampai sibuk ngopi sama juniornya bisa jadi alasan untuk tidak mengajar. Bahkan, ada dosen hanya memberi tugas pada mahasiswa, tanpa menjelaskan apa-apa. Yah, saya yakin kalau ada mahasiswa yang tekun membaca, dosen demikian mudah sekali ditekuk argumennya!
Saya disclaimer, tentu tidak semua dosen FISIP seperti itu kok. Dosen saya ada yang sudah aktivis, bacaannya luas, analisisnya juga sangat kritis!
Mahasiswa kritis nggak dilirik
Karena lingkungan FISIP yang demikian, mahasiswa yang niat belajar kadang malah merasa kesepian. Ya, saya alami sendiri hal itu. Teman saya pun mengatakan hal yang sama. Katanya, terlalu kritis di kampus kadang malah nggak dilirik. Dilirik pun harus diskusi dulu, apakah kritisnya akan mengancam kesepakatan dengan lawan politik atau tidak. Haduh, ribet!
Nah, maka dari itu, banyak mahasiswa FISIP yang bosan berproses di internal, apalagi ormek. Anak FISIP yang benar-benar kritis kadang lebih memilih aktif di organisasi sosial di luar, seperti komunitas lingkungan, membersamai anak jalanan, mendukung hak kelompok marjinal, dan lain sebagainya. Mereka muak sekali lah sama yang namanya politik di internal FISIP!
Atau paling aman mereka mendekat ke dosen yang tidak menduakan tanggung jawabnya. Tugas mengajar tidak ditinggalkan, sebagai aktivis juga tetap jalan. Sebab memang betul, apalah makna FISIP tanpa seorang aktivis! Hehehe.
Ya, sekian informasi sekilas dari saya terkait kondisi lingkungan FISIP. Jadi, jangan terlalu berharap kalian bakal bertemu mahasiswa kritis dan suka baca buku di fakultas ini. Dari luar mungkin FISIP terlihat sangar, tapi aslingnya sudah kehilangan “taring”. Sekali lagi, begitulah berdasar pengalaman saya.
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Kampus di Bangkalan Madura Bakal Jadi “Pabrik” Pengangguran kalau Tidak Serius Berbenah.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















