Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

FISIP Kehilangan “Taring” karena Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik 

Abdur Rohman oleh Abdur Rohman
7 Mei 2026
A A
Sisi Gelap FISIP, Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik Terminal

Sisi Gelap FISIP, Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Membaca tulisan Mbak Halwa yang berjudul Sisi Gelap Kuliah di Prodi PBSI: Belajar Bahasa Indonesia, tapi Mahasiswanya Nggak Paham PUEBI dan Nggak Suka Baca Buku di Terminal Mojok memancing saya menulis artikel tentang FISIP. Diceritakan, penulis kaget dengan mahasiswa prodi PBSI yang ternyata nggak baca buku. 

Asal tahu saja, kumpulan mahasiswa yang malas baca itu  ada banyak sebetulnya. Tidak hanya di prodi PBSI saja. Saat saya kuliah dulu, mahasiswa jenis ini juga mudah kita temukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik atau disingkat FISIP. Bahkan, bukan mahasiswanya saja, dosennya, sebagai pengajar di FISIP, yang mau baca buku juga sedikit. Kebanyakan, malah sibuk mengurus politik. Setidaknya begitulah berdasar pengalaman saya. 

ADVERTISEMENT

Baca juga Kampus di Bangkalan Madura Bakal Jadi “Pabrik” Pengangguran kalau Tidak Serius Berbenah.

Anak FISIP memang terlihat sangar, tapi minim bacaan

Kalau ditanya fakultas mana yang paling sangar saat pemilihan presiden di kampus, saya yakin tidak ada fakultas lain berani berkutik jika sudah melihat anak FISIP. Alasannya mudah saja, mahasiswa FISIP itu santai, sebab jurusan di FISIP jarang ada praktikum. Tugas kuliahnya pun paling cuma bikin esai, ya mengarang bebas. Seperti kata senior saya, tugas anak FISIP itu mudah, kalau nggak baca, nulis, ya bacot! Hehehe.

Jadi ya maklum, otak mereka memang lebih banyak dihabiskan untuk menyusun strategi politik di kampus.

Akan tetapi, sayang, sesangar-sangarnya anak FISIP saat bacot, banyak dari mereka yang sebetulnya enggan baca buku. Bahkan, mereka sering diskusi berjam-jam sampai larut malam, tapi entah dari mana referensi bacaannya. Akhirnya, isi diskusinya cuma ngalor-ngidul bin amburadul. Tidak ketemu pangkal ujungnya. Paling isinya ya, “menurut saya”, “bagi saya”, “pendapat saya”.

Saya peringatkan kalian semua maba ya, kalian yakin sama pendapat senior FISIP kalian itu yang nggak suka baca?

Dosen nyambi berpolitik

Ketahuilah, FISIP itu bukan sekedar nama, tapi benar-benar gambaran civitas akademika di dalamnya. Jika kalian masuk FISIP, jangan disangka isinya adalah ilmuwan sosial saja. Di kampus saya misalnya, dosen FISIP itu beragam. Ada yang mantan aktivis, ada yang penasihat politik, ada pengurus ormas besar di Indonesia, bahkan ada yang jadi ketua nggak di satu ormas saja. The real, FISIP Menyala!

Baca Juga:

Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1

Pemilik kos nggak problematik, fasilitas yang seharusnya tercantum dalam brosur

Akan tetapi, itu tidak selalu jadi hal menggembirakan bagi mahasiswanya. Sebab, tanggung jawab sebagai dosen kadang malah jadi yang nomor dua. Mulai dari sibuk rapat, sibuk konsolidasi, sampai sibuk ngopi sama juniornya bisa jadi alasan untuk tidak mengajar. Bahkan, ada dosen hanya memberi tugas pada mahasiswa, tanpa menjelaskan apa-apa. Yah, saya yakin kalau ada mahasiswa yang tekun membaca, dosen demikian mudah sekali ditekuk argumennya!

Saya disclaimer, tentu tidak semua dosen FISIP seperti itu kok. Dosen saya ada yang sudah aktivis, bacaannya luas, analisisnya juga sangat kritis!

Baca juga Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas.

Mahasiswa kritis nggak dilirik 

Karena lingkungan FISIP yang demikian, mahasiswa yang niat belajar kadang malah merasa kesepian. Ya, saya alami sendiri hal itu. Teman saya pun mengatakan hal yang sama. Katanya, terlalu kritis di kampus kadang malah nggak dilirik. Dilirik pun harus diskusi dulu, apakah kritisnya akan mengancam kesepakatan dengan lawan politik atau tidak. Haduh, ribet!

Nah, maka dari itu, banyak mahasiswa FISIP yang bosan berproses di internal, apalagi ormek. Anak FISIP yang benar-benar kritis kadang lebih memilih aktif di organisasi sosial di luar, seperti komunitas lingkungan, membersamai anak jalanan, mendukung hak kelompok marjinal, dan lain sebagainya. Mereka muak sekali lah sama yang namanya politik di internal FISIP!

Atau paling aman mereka mendekat ke dosen yang tidak menduakan tanggung jawabnya. Tugas mengajar tidak ditinggalkan, sebagai aktivis juga tetap jalan. Sebab memang betul, apalah makna FISIP tanpa seorang aktivis! Hehehe.

Ya, sekian informasi sekilas dari saya terkait kondisi lingkungan FISIP. Jadi, jangan terlalu berharap kalian bakal bertemu mahasiswa kritis dan suka baca buku di fakultas ini. Dari luar mungkin FISIP terlihat sangar, tapi aslingnya sudah kehilangan “taring”. Sekali lagi, begitulah berdasar pengalaman saya. 

Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Kampus yang Menambah Mahasiswa dan Gedung, tapi Lahan Parkirnya Tetap Sempit, Logikanya di Mana?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2026 oleh

Tags: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikFISIPMahasiswamahasiswa FISIP
Abdur Rohman

Abdur Rohman

Seorang warga sipil Bangkalan dengan selera yang kontradiktif: mencintai segala jenis olahan mie, namun memiliki alergi akut terhadap mie-literisme.

ArtikelTerkait

divisi desain kepanitiaan paling capek banyak kerjanya selama pandemi corona mojok.co

Di Kehidupan Serbadaring, Divisi Desain Jadi Divisi yang Paling Nambah Capeknya

20 Juli 2020
5 Hal yang Biasa Dilakukan Mahasiswa Baru UGM dan Mustahil bagi Mahasiswa Tua

5 Hal yang Biasa Dilakukan Mahasiswa Baru UGM dan Mustahil bagi Mahasiswa Tua

7 Maret 2024
Ironi Mahasiswa Rantau di Surabaya: Musim Kemarau Kepanasan, Musim Hujan Kebanjiran

Ironi Mahasiswa Rantau di Surabaya: Musim Kemarau Kepanasan, Musim Hujan Kebanjiran

8 Desember 2023
satpol PP, polisi

Anak Lelaki Perwira Polisi

26 September 2019
Wisuda UIN SAIZU Purwokerto: Wisuda Terbaik yang Nggak Menguras Duit, Justru Dapat Banyak Benefit

Wisuda UIN SAIZU Purwokerto: Wisuda Terbaik yang Nggak Menguras Duit, Justru Dapat Banyak Benefit

5 Desember 2023
Mahasiswa UNESA Iri dengan Wisuda ITS dan UNAIR Mojok.co

Mahasiswa UNESA Iri dengan Wisuda ITS dan UNAIR

12 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

5 jurusan S2 ini mending dipelajari di luar negeri, bukan di Indonesia Mojok.co

5 jurusan S2 ini mending dipelajari di luar negeri karena lingkungan akademis Indonesia belum siap

14 Agustus 2026
Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

20 Agustus 2026
Kaza Mal Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi Mojok.co

Kaza Mall Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi

19 Agustus 2026
Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa (Unsplash)

Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa hanya demi memuaskan ego merusak milik segelintir orang

17 Agustus 2026
Es Teh Jumbo, Minuman Orang Miskin yang Kuat Bertahan (Wikimedia Commons) sempol ayam

Sempol ayam memang lebih menarik ketimbang es teh jumbo, tapi secara hitungan bisnis, es teh jumbo pasti lebih untung

14 Agustus 2026
Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

16 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.