Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Sisi Gelap Kuliah di Prodi PBSI: Belajar Bahasa Indonesia, tapi Mahasiswanya Nggak Paham PUEBI dan Nggak Suka Baca Buku

Siti Halwah oleh Siti Halwah
6 Mei 2026
A A
Jurusan PBSI Memang Jurusan yang Nanggung: Mau Jadi Guru Masih Harus PPG, Sastranya Juga Nggak Terlalu Dalam PPG Calon Guru

Jurusan PBSI Memang Jurusan yang Nanggung: Mau Jadi Guru Masih Harus PPG, Sastranya Juga Nggak Terlalu Dalam

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai alumni dari program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia—selanjutnya disingkat PBSI—di Universitas Trunojoyo Madura, saya selalu menyadari bahwa jurusan yang ambil ini sebenarnya nggak bagus-bagus banget. Tapi, karena saya memang sangat suka mempelajari seputar bahasa Indonesia, juga suka membaca novel, sangat dengan tekad yakin memilih jurusan ini saat SBMPTN dulu.

Namun sayangnya, saat sudah masuk dan bertemu dengan teman-teman di jurusan yang sama, saya jadi tersadar bahwa mungkin hanya saya saja yang bersemangat dan dengan kesadaran penuh mengambil jalan di prodi PBSI ini. Sebagian besar teman-teman saya justru sebaliknya.

#1 Bukan prodi favorit, dipilih biar gampang untuk masuk dan lulusnya

Di kampus saya dulu, prodi PBSI ini bukanlah prodi favorit. Bahkan nggak termasuk ke dalam top 3 prodi dengan minat tertinggi di Fakultas Pendidikan. Top 3 prodi favorit di fakultas Pendidikan diisi oleh PGSD, PIPA (Pendidikan IPA), dan Pendidikan Informatika. Saya yakin, kondisi di beberapa kampus lainnya juga hampir nggak ada bedanya.

Makanya, saya udah nggak kaget lagi bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang kuliahnya kayak ogah-ogahan gitu. Kesannya kayak ambil prodi PBSI ini karena masuknya memang gampang dan nggak banyak pesaing, juga biar bisa kuliah dan dapat gelar aja, gitu.

BACA JUGA: Keresahan Mahasiswa PBSI UNESA tentang Masa Depannya: Jadi Guru Tak Mau, Maunya Bekerja di Luar Industri Pendidikan

#2 Dipilih karena dianggap merupakan prodi paling gampang dan nggak perlu keahlian khusus

Saya pernah bertanya kepada teman saya yang terkesan ogah-ogahan saat mengikuti perkuliahan. Mengapa ia memilih prodi PBSI ini? Ia menjawab dengan santainya karena di prodi ini nggak perlu keahlian khusus. Berbeda dengan prodi Pendidikan IPA yang harus pandai sains, atau Pendidikan Informatika yang butuh keahlian khusus di bidang komputer.

Menurutnya, ia hanya perlu paham Bahasa Indonesia saja—yang memang sudah diketahuinya sejak lahir—untuk bertahan di prodi ini. Jadi, menjalani perkuliahan di prodi PBSI ini pastinya akan gampang dan bisa lulus dengan cepat tanpa banyak kendala.

Padahal, perkuliahan di prodi PBSI ini menurut saya lumayan berat karena menggabungkan tiga bidang keilmuan, yaitu bidang Pendidikan, Bahasa Indonesia, dan Sastra Indonesia. Ada banyak hal yang perlu dipelajari dalam Bahasa Indonesia khususnya di bidang Linguistik. Belum lagi dengan mata kuliah yang berkaitan dengan sastra yang mengharuskan mahasiswa mengenal banyak karya sastra baik dari sastra kanon dan sastra populer. Selain itu, bidang pendidikan juga membutuhkan perhatian ekstra untuk memahami kurikulum yang hobinya gonta-ganti ini.

Baca Juga:

Bahasa Sunda yang Kaya Punya Banyak Istilah untuk Menyebut Hujan

Orang Jakarta Baperan: ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Jadi, kalau ada yang bilang kuliah di prodi PBSI ini nggak butuh keahlian khusus, rasanya pengin saya tempeleng orang itu!

#3 Mahasiswa PBSI banyak yang nggak paham aturan dasar PUEBI

Akibat dari poin pertama dan kedua tadi, saya justru berhadapan dengan sebagian mahasiswa PBSI yang bahkan nggak paham hal-hal dasar seputar EYD atau PUEBI. Mereka bahkan nggak tahu caranya membedakan “di” yang digabung dan dipisah.

Akibatnya, saat tes UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia) yang jadi syarat wajib kelulusan mahasiswa prodi PBSI sebelum maju sidang skripsi, justru banyak yang nggak lolos. Bahkan untuk dapat skor minimal saja, teman-teman saya banyak yang nggak mampu. Alhasil, mereka harus remedi dan diam-diam membeli kunci jawaban agar bisa lolos tes UKBI tadi.

Ironis banget kan, ya? Mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia tapi nggak paham Bahasa Indonesia. Terus, kuliah selama delapan semester tuh, ngapain aja sih?

#4 Sebagian besar mahasiswa Prodi PBSI nggak suka baca buku

Namanya saja prodi PBSI, jadi mahasiswanya seharusnya memang dituntut untuk membaca banyak buku. Pasalnya, kalau udah jadi guru nanti, diharapkan guru-guru Bahasa Indonesia ini bisa jadi agen perubahan untuk meningkatkan minat literasi siswa di sekolah.

Tapi, praktiknya justru nol besar. Sebagian besar teman saya justru nggak suka baca buku. Mereka nggak mengenal buku-buku fiksi ataupun non-fiksi. Dari sekitar tiga puluh dua mahasiswa di kelas, bisa jadi hanya lima sampai tujuh orang saja yang benar-benar membaca buku. Itu pun kadang baca buku fiksinya kalau lagi mata kuliah yang berhubungan dengan sastra Indonesia saja. Selebihnya bablas.

Saya jadi teringat, dulu saya punya teman yang hanya membeli satu saja buku fiksi selama kuliah delapan semester. Buku fiksi tersebutlah yang ia pakai terus-menerus di berbagai mata kuliah yang berkaitan dengan sastra Indonesia, seperti sosiologi sastra, psikologi sastra, kritik sastra, dll.

Jadi, jangan harap guru bahasa Indonesia di sekolah-sekolah itu bisa meningkatkan minat literasi bangsa ya, wong mereka saja nggak suka baca buku, kok, Hehehe.

Penulis: Siti Halwah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jurusan PBSI Memang Jurusan yang Nanggung: Mau Jadi Guru Masih Harus PPG, Sastranya Juga Nggak Terlalu Dalam

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Mei 2026 oleh

Tags: bahasa indonesiajurusan pbsipendidikan bahasa dan sastra indonesiapuebi
Siti Halwah

Siti Halwah

menulis untuk eksis

ArtikelTerkait

Jangan Anggap Mudah Bahasa Indonesia kalau Nulis Saja Masih Sering Salah

Jangan Anggap Mudah Bahasa Indonesia kalau Nulis Saja Masih Sering Salah

7 Februari 2023
Mempertanyakan Orang Jawa Tulen yang Masih Bingung dengan Istilah Bahasa Jawa “Selawe”, “Seket", dan “Sewidak” Mojok.co

Mempertanyakan Orang Jawa Tulen yang Masih Bingung dengan Istilah Bahasa Jawa “Selawe”, “Seket”, dan “Sewidak”

22 Mei 2024
Langkat, Kabupaten di Sumatera Utara yang Masyarakatnya Fasih Berbahasa Jawa Mojok.co

Langkat, Kabupaten di Sumatera Utara yang Masyarakatnya Fasih Berbahasa Jawa

6 November 2023
Pergi ke Pantai Malam Hari Adalah Hal Bodoh yang Tidak Seharusnya Dilakukan mojok.co/terminal

Pantai Rako: Pesona Wanita Bertubuh seksi

23 Juni 2019
Belajar dari Kasus Netflix Malaysia, Orang Jawa Harus Bangga Berbahasa Jawa terminal mojok.co

Belajar dari Kasus Netflix Malaysia, Orang Jawa Harus Bangga Berbahasa Jawa

3 Februari 2021
9 Kata yang Menggambarkan Sulitnya Belajar Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia (Unsplash)

9 Kata yang Menggambarkan Sulitnya Belajar Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia

7 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tolong Berhenti Menyuruh Orang yang Baru Belajar Menyetir Mobil untuk Pakai Insting, Mereka Lebih Butuh Teori dan Jam Terbang

Tolong Berhenti Menyuruh Orang yang Baru Belajar Menyetir Mobil untuk Pakai Insting, Mereka Lebih Butuh Teori dan Jam Terbang

26 Mei 2026
Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game Terminal

Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game

20 Mei 2026
Rasanya Hidup di Pengok Jogja: Tidur di Antara 2 Rel, Pasti Bisa Bangun Pagi karena Suara Kereta Begitu Membahana

Rasanya Hidup di Pengok Jogja: Tidur di Antara 2 Rel, Pasti Bisa Bangun Pagi karena Suara Kereta Begitu Membahana

26 Mei 2026
UIN Malang, Kampus Terbaik yang Bisa Bikin Kamu Patah Hati (Wikimedia Commons)

UIN Malang Adalah Kampus Terbaik di Kota Malang yang Bisa Bikin Kamu Patah Hati Jika Memasang Ekspektasi Terlalu Tinggi

24 Mei 2026
Dear Wisatawan, Bandungan Semarang Nggak Melulu Soal Prostitusi, Ada Banyak Potensi Lain Mojok.co

Dear Wisatawan, Bandungan Semarang Nggak Melulu Soal Prostitusi, Ada Banyak Potensi Lain

26 Mei 2026
Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh

Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh

21 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.