Sebagai alumni dari program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia—selanjutnya disingkat PBSI—di Universitas Trunojoyo Madura, saya selalu menyadari bahwa jurusan yang ambil ini sebenarnya nggak bagus-bagus banget. Tapi, karena saya memang sangat suka mempelajari seputar bahasa Indonesia, juga suka membaca novel, sangat dengan tekad yakin memilih jurusan ini saat SBMPTN dulu.
Namun sayangnya, saat sudah masuk dan bertemu dengan teman-teman di jurusan yang sama, saya jadi tersadar bahwa mungkin hanya saya saja yang bersemangat dan dengan kesadaran penuh mengambil jalan di prodi PBSI ini. Sebagian besar teman-teman saya justru sebaliknya.
#1 Bukan prodi favorit, dipilih biar gampang untuk masuk dan lulusnya
Di kampus saya dulu, prodi PBSI ini bukanlah prodi favorit. Bahkan nggak termasuk ke dalam top 3 prodi dengan minat tertinggi di Fakultas Pendidikan. Top 3 prodi favorit di fakultas Pendidikan diisi oleh PGSD, PIPA (Pendidikan IPA), dan Pendidikan Informatika. Saya yakin, kondisi di beberapa kampus lainnya juga hampir nggak ada bedanya.
Makanya, saya udah nggak kaget lagi bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang kuliahnya kayak ogah-ogahan gitu. Kesannya kayak ambil prodi PBSI ini karena masuknya memang gampang dan nggak banyak pesaing, juga biar bisa kuliah dan dapat gelar aja, gitu.
#2 Dipilih karena dianggap merupakan prodi paling gampang dan nggak perlu keahlian khusus
Saya pernah bertanya kepada teman saya yang terkesan ogah-ogahan saat mengikuti perkuliahan. Mengapa ia memilih prodi PBSI ini? Ia menjawab dengan santainya karena di prodi ini nggak perlu keahlian khusus. Berbeda dengan prodi Pendidikan IPA yang harus pandai sains, atau Pendidikan Informatika yang butuh keahlian khusus di bidang komputer.
Menurutnya, ia hanya perlu paham Bahasa Indonesia saja—yang memang sudah diketahuinya sejak lahir—untuk bertahan di prodi ini. Jadi, menjalani perkuliahan di prodi PBSI ini pastinya akan gampang dan bisa lulus dengan cepat tanpa banyak kendala.
Padahal, perkuliahan di prodi PBSI ini menurut saya lumayan berat karena menggabungkan tiga bidang keilmuan, yaitu bidang Pendidikan, Bahasa Indonesia, dan Sastra Indonesia. Ada banyak hal yang perlu dipelajari dalam Bahasa Indonesia khususnya di bidang Linguistik. Belum lagi dengan mata kuliah yang berkaitan dengan sastra yang mengharuskan mahasiswa mengenal banyak karya sastra baik dari sastra kanon dan sastra populer. Selain itu, bidang pendidikan juga membutuhkan perhatian ekstra untuk memahami kurikulum yang hobinya gonta-ganti ini.
Jadi, kalau ada yang bilang kuliah di prodi PBSI ini nggak butuh keahlian khusus, rasanya pengin saya tempeleng orang itu!
#3 Mahasiswa PBSI banyak yang nggak paham aturan dasar PUEBI
Akibat dari poin pertama dan kedua tadi, saya justru berhadapan dengan sebagian mahasiswa PBSI yang bahkan nggak paham hal-hal dasar seputar EYD atau PUEBI. Mereka bahkan nggak tahu caranya membedakan “di” yang digabung dan dipisah.
Akibatnya, saat tes UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia) yang jadi syarat wajib kelulusan mahasiswa prodi PBSI sebelum maju sidang skripsi, justru banyak yang nggak lolos. Bahkan untuk dapat skor minimal saja, teman-teman saya banyak yang nggak mampu. Alhasil, mereka harus remedi dan diam-diam membeli kunci jawaban agar bisa lolos tes UKBI tadi.
Ironis banget kan, ya? Mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia tapi nggak paham Bahasa Indonesia. Terus, kuliah selama delapan semester tuh, ngapain aja sih?
#4 Sebagian besar mahasiswa Prodi PBSI nggak suka baca buku
Namanya saja prodi PBSI, jadi mahasiswanya seharusnya memang dituntut untuk membaca banyak buku. Pasalnya, kalau udah jadi guru nanti, diharapkan guru-guru Bahasa Indonesia ini bisa jadi agen perubahan untuk meningkatkan minat literasi siswa di sekolah.
Tapi, praktiknya justru nol besar. Sebagian besar teman saya justru nggak suka baca buku. Mereka nggak mengenal buku-buku fiksi ataupun non-fiksi. Dari sekitar tiga puluh dua mahasiswa di kelas, bisa jadi hanya lima sampai tujuh orang saja yang benar-benar membaca buku. Itu pun kadang baca buku fiksinya kalau lagi mata kuliah yang berhubungan dengan sastra Indonesia saja. Selebihnya bablas.
Saya jadi teringat, dulu saya punya teman yang hanya membeli satu saja buku fiksi selama kuliah delapan semester. Buku fiksi tersebutlah yang ia pakai terus-menerus di berbagai mata kuliah yang berkaitan dengan sastra Indonesia, seperti sosiologi sastra, psikologi sastra, kritik sastra, dll.
Jadi, jangan harap guru bahasa Indonesia di sekolah-sekolah itu bisa meningkatkan minat literasi bangsa ya, wong mereka saja nggak suka baca buku, kok, Hehehe.
Penulis: Siti Halwah
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















