Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Sisi Suram Sekolah Kedinasan, Senioritas Masih Kental hingga Nggak Boleh Kristis sama Negara

Iqbal AR oleh Iqbal AR
15 Juni 2025
A A
Sisi Suram Sekolah Kedinasan, Senioritas Masih Kental hingga Tidak Bisa Bersuara Kritis ke Negara Mojok.co

Sisi Suram Sekolah Kedinasan, Senioritas Masih Kental hingga Tidak Bisa Bersuara Kritis ke Negara (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ketika membahas perguruan tinggi atau kampus favorit, kita selalu langsung merujuk ke kampus-kampus macam UI, UGM, ITB, IPB, atau UB. Kampus-kampus ini memang favorit, bisa dilihat dari banyaknya calon pendaftar yang tiap tahun membeludak. Tapi kita lupa, bahwa selain kampus-kampus tersebut, ada perguruan tinggi/kampus lain yang juga jadi favorit. Iya, perguruan tinggi ikatan dinas, atau sebut saja sekolah kedinasan.

Hingga saat ini, masih banyak orang yang menganggap bahwa masuk dan menjadi mahasiswa di sekolah kedinasan seperti STAN, IPDN, atau STIN itu enak. Anggapan yang sebenarnya nggak salah-salah banget, sebab bisa masuk dan jadi mahasiswa di sana memang enak. Banyak yang menggratiskan biaya pendidikan (setidaknya nggak bayar semesteran), kalau lulus cenderung gampang cari kerja, jenjang karier cukup jelas.

Akan tetapi, di balik segala “enak-enaknya” jadi mahasiswa di sekolah kedinasan, ada juga sisi suramnya.  Hal-hal yang mungkin selama ini nggak jadi pertimbangan, nggak jadi pembicaraan banyak orang, termasuk mereka-mereka yang berniat masuk dan menjadi mahasiswa sekolah kedinasan.

Senioritas tinggi, bullying yang nggak hilang-hilang, pokoknya militer banget

Salah satu yang paling kentara soal sisi gelap jadi mahasiswa sekolah kedinasan adalah bagaimana tingginya senioritas di sana. Di sebagian besar sekolah kedinasan, senioritas jadi semacam prinsip hidup mereka. Mereka seperti nggak mengenal konsep egaliter, konsep bahwa manusia itu setara. Entah apa alasannya.

Nah, senioritas yang tinggi inilah yang membuat kasus-kasus bullying kerap terjadi di sekolah kedinasan. Coba saja kalian Googling dengan kata kunci “sekolah kedinasan, bullying”, maka kalian akan menemukan banyak berita tentang bullying yang terjadi di sekolah kedinasan. Bahkan ada beberapa kasus bullying yang berakibat fatal, sampai menyebabkan hilangnya nyawa.

Senioritas tinggi, bullying yang merajalela, diperparah dengan kehidupan di lingkungan sekolah yang kelewat keras dan kelewat disiplin. Mirip-mirip militer, kan?

Mereka juga ingin bebas seperti mahasiswa PTN/PTS lainnya

Setelah ngobrol dengan teman yang pernah sekolah di sekolah kedinasan, saya jadi sadar bahwa ada momen di mana mereka sebenarnya merasa iri dengan mahasiswa-mahasiswa kampus negeri (PTN) atau swasta (PTS) lainnya. Mereka iri dengan banyaknya kebebasan yang dimiliki oleh mahasiswa PTN/PTS yang punya kebebasan melakukan apapun dan mengikuti kegiatan apapun. Mereka juga ingin merasakan kebebasan itu.

“Ya kadang aku pengin juga ngerasain gimana rasanya jadi anggota organisasi mahasiswa kayak yang lain. Aku juga penasaran gimana rasanya kuliah dengan rambut gondrong. Aku juga pengin ngerasain ikut aksi-aksi mahasiswa,” ujar teman saya. Tapi, teman saya itu juga sadar, bahwa dengan masuk sekolah kedinasan, dia tahu bahwa akan ada kebebasan-kebebasannya yang harus “terenggut”. Toh, mereka juga mendapatkan apa yang nggak didapatkan mahasiswa PTN/PTS lainnya.

Baca Juga:

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung”: Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman

5 Sifat Mahasiswa Semester Akhir yang Menjengkelkan, Segera Intropeksi Diri Jika Tidak Ingin Dijauhi Teman

Mahasiswa sekolah kedinasan bersuara kritis ke negara? Oh, jangan harap

“Kritis” dan “mahasiswa sekolah kedinasan” kayaknya jadi dua hal yang nyaris mustahil untuk disatukan. Lingkungan belajar yang feodal dan cenderung militeristik bikin bibit-bibit suara kritis nggak bisa tumbuh. Maka nggak heran rasanya kita jarang menemukan atau mendengar adanya suara-suara kritis dari mahasiswa yang ditujukan untuk negara.

Hal ini diakui oleh teman saya yang merupakan alumni sekolah kedinasan di bawah Kemendagri. Teman saya yang namanya nggak mau disebut ini bilang, sebagai mahasiswa dan alumni sekolah kedinasan, bersuara kritis, mengkritik kebijakan negara itu sama saja kayak bunuh diri. Nggak ada aturan tertulisnya, tapi risikonya kadang nggak main-main.

“Paling nanti dibilang, ‘sekolah dibiayain negara kok beraninya mengkritisi negara?’. Itu masih biasa. Kalau diincar gimana? Terus kalau masih nekat kritis, bisa-bisa kuliah kita dipersulit, karier kita dipersulit juga setelah lulus,” ujar teman saya.

Nggak mengherankan juga, sih. Lagian, apa yang mau diharapkan dari lingkungan pendidikan yang militeristik, memelihara senioritas, dan nggak serius dengan kasus bullying?

Itulah beberapa sisi gelap, sisi suram—nggak enaknya—jadi mahasiswa sekolah kedinasan. Mereka harus hidup di lingkungan yang cenderung militeristik, dengan senioritas tinggi. Kebanyakan dari mereka susah untuk kritis, baik ke institusi yang menaunginya atau ke negara, dan mereka nggak bisa sebebas mahasiswa PTN/PTS lainnya. Konsekuensi. Ini konsekuensi yang harus mereka terima.

Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Mahasiswa Fakultas Peternakan Unsoed Terdiskriminasi karena Dianggap Nggak Punya Masa Depan dan Bau 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Juni 2025 oleh

Tags: MahasiswaPerguruan Tinggisekolah kedinasansekolah tinggi
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

kos jogja

Lika-Liku Anak Kos Jogja (1)

13 Juli 2019
Cerita Kuliah di Universitas Siber Muhammadiyah, Universitas Terbuka Versi Muhammadiyah Mojok.co

Cerita Kuliah di Universitas Siber Muhammadiyah, Universitas Terbuka Versi Muhammadiyah

19 September 2025
Dear Bapak Ibu Dosen, Jangan Menilai Mahasiswa dari Keaktifan Bertanya setelah Presentasi. Mahasiswa Zaman Sekarang Pintar Membodohi, lho

Dear Bapak Ibu Dosen, Jangan Menilai Mahasiswa dari Keaktifan Bertanya setelah Presentasi. Mahasiswa Zaman Sekarang Pintar Membodohi, lho

22 Oktober 2023
5 Hal yang Biasa Dilakukan Mahasiswa Baru UGM dan Mustahil bagi Mahasiswa Tua

5 Hal yang Biasa Dilakukan Mahasiswa Baru UGM dan Mustahil bagi Mahasiswa Tua

7 Maret 2024
Detail Kecil tentang KKN yang Luput di Film KKN di Desa Penari Terminal Mojok

Detail Kecil tentang KKN yang Luput dalam Film KKN di Desa Penari

25 Mei 2022
7 Tipe Mahasiswa Pas Ngerjain Tugas Kelompok

7 Tipe Mahasiswa Pas Ngerjain Tugas Kelompok

24 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026
Arsenal (Memang) Berhati Nyaman

Arsenal (Memang) Berhati Nyaman

20 Mei 2026
Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

15 Mei 2026
Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

19 Mei 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Alasan Wonogiri Masih dan Akan Selalu Jadi Ibu Kota Bakso Indonesia, Malang Minggir Dulu!

20 Mei 2026
Jangan Terkecoh, Tutor Bimbel Online Pekerjaan yang Tidak Cocok untuk Fresh Graduate Mojok.co

Jangan Terkecoh, Tutor Bimbel Online Pekerjaan yang Tidak Cocok untuk Fresh Graduate

20 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.