Daftar Serial Manga Sepak Bola dari yang Paling Mistis Sampai Paling Realistis

Artikel

Aliurridha

Siapa sih pembaca manga yang tidak kenal Kapten Tsubasa? Serial manga favorit remaja dan anak-anak bertema sepak bola ini pernah mewarnai tumbuh kembangnya pembaca manga dari anak-anak hingga dewasa.

Mungkin di antara begitu banyaknya serial manga bertema sepak bola bahkan olahraga, Kapten Tsubasa adalah yang paling populer. Namun hal itu bukan berarti Kapten Tsubasa merupakan serial manga sepak bola terbaik. Ada begitu banyak sekali serial manga bertema sepak bola yang mungkin tidak dikenal kecuali kalian benar-benar pecinta manga sekaligus pecinta sepak bola.

Pecinta manga sekaligus pecinta sepak bola, hmm rasanya keduanya merupakan sesuatu yang bertentangan satu dan lainnya. Kebanyakan pecinta manga dikenal cupu alih-alih atletis. Setahu saya, Wibu tidak terlalu menyukai sepak bola apalagi memainkan olahraga itu. Mungkin saya salah, mungkin juga karena faktor lingkungan yang membatasi saya hanya mengenal Wibu cosplay ketimbang Wibu atlet.

Dari sekian banyak serial manga bertema sepak bola ada yang mistis, sangat mistis, tidak terlalu mistis, dan realistis. Mistis di sini bukan merujuk pada kata yang bersifat mistik apalagi menyangkut hal yang seram-seram, tidak sama sekali. Mistis yang saya maksud adalah ceritanya terlalu surealis atau fantasi berlebihan. Hal-hal yang tidak mungkin terjadi dalam pertandingan bola bisa terjadi dalam seri manga ini. Sedangkan realistis adalah ketika suatu manga ceritanya lebih mendekati kenyataan.

Saya akan membuat daftar serial manga bertema sepak bola dari yang paling mistis sampai yang paling realistis. Ketimbang berantem memperdebatkan mana yang lebih baik antara manga One Piece dan Naruto yang membuat para Wibu garis keras menggerutu, mending kita memperdebatkan mana serial manga sepak bola yang mistis dan mana yang lebih realistis. Kalau mau berantem, boleh saja tapi dengan argumen yang cerdas.

1# Kapten Tsubasa

Selain menjadi manga yang paling terkenal di kalangan para pecinta manga atau pembaca manga numpang lewat, Kapten Tsubasa adalah serial manga yang paling mistis. Tidak peduli Gusti Aditya memuja-muja ini serial sampai menghitung-hitung penghasilan Tsubasa Ozora di Barcelona atau juga Kojiro Hyuga di Juventus, manga kapten Tsubasa adalah serial manga yang paling tidak masuk akal.

Jika kalian tidak percaya berarti kalian tidak pernah melihat aksi si kembar Tachibana bersaudara, tokoh akrobatik yang lebih cocok bermain sirkus ketimbang sepak bola. Belum lagi dengan tendangan gabungan Tsubasa dengan Misaki yang secara bersebelahan menendang bola bersamaan.

Saya pernah ketika mencoba cara nendang gabungan Tsubasa dengan Misaki bersama teman saya, saat itu saya masih SD dan lugu. Setelah berlatih berkali-kali menendang seperti itu saya menemukan peluang keberhasilan jika dilakukan tanpa penjagaan adalah 30% dan ketika dilakukan dengan penjagaan turun menjadi 0%. Itu peluang berhasil mengenai bola dan bola meluncur ya bukan goal, lho. Kalau peluang goal, dijaga maupun tidak peluangnya konstan, 0%.

Baca Juga:  Pensiunnya Bambang Pamungkas Bukti Kita Tidak Bisa Move On dari Permainannya

Ngomong-ngomong soal kemistisan jenis tendangan, tendangan Kojiro Hyuga yang dinamakan tendangan Raiju yang diambil dari hewan mistis Jepang yang berbentuk mirip Harimau. Tendangan Raiju milik Hyuga ini mampu membelah pohon seperti disambar petir, gila bukan? Rasanya Sholin Soccer seperti main anak kecil.

Teknis tendangan Raiju juga unik, menendang dengan menyeret kaki mengenai tanah hingga kaki tertahan di tanah yang akan memberikan efek seperti busur panah yang ditarik dan ketika mengenai bola, bola akan melaju dengan kekuatan seperti game playstation Super Shoot Soccer.

Meski merupakan manga sepak bola paling mistis, saya tidak akan memungkiri bahwa serial Kapten Tsubasa adalah serial manga sepak bola paling populer di dunia.

2# Fantasista

Kalah populer jauh dibanding Kapten Tsubasa tapi hanya kalah mistis sedikit dari kapten Tsubasa, manga Fantasista. Sebagai serial manga yang sama-sama bertujuan meningkatkan harga diri warga Jepang untuk berlaga di dunia, baik Fantasista maupun Kapten Tsubasa menunjukkan kepada warga dunia meski Jepang tidak bisa juara dunia dalam dunia nyata setidaknya dalam serial manga mereka bisa.

Fantasista menceritakan tentang seorang bocah bernama Teppei Sakamoto, seorang anak yang dikaruniai berkah menjadi Fantasista, julukan dari negeri Italia untuk seorang pemain dengan sentuhannya mampu menyihir satu stadion dengan kekaguman. Jenis pemain yang sangat laku pada era sepak bola pra-modern, sepak bola sebelum sepak bola taktis ala mesin merajai. Pemain-pemain bola yang pernah mendapatkan julukan Fantasista adalah Roberto Baggio, Alexandro Del Piera, dan Francesco Totti.

Serial manga Fantasista menceritakan perjalanan Teppei Sakamoto dari negerinya Jepang sampai menjadi pemain kelas dunia yang berlaga di Serie A, AC Milan. Ketika SMP Teppei dilihat oleh seorang perekrut bakat asal Italia saat bermain di kompetisi antar sekolah se-Jepang. Perekrut ini seketika terpukau oleh bakat Teppei yang hanya ia lihat dimiliki oleh segelintir pria Italia. Tidak ingin bakatnya terpendam begitu saja perekrut ini membawanya ke Italia.

Perjalan Teppei sebagai Fantasista bukannya tanpa masalah. Era itu merupakan era-era dimulainya sepak bola modern di mana visi dan imajinasi yang menjadi kunci bermain Fantasista tidak lagi diperlukan. Para pelatih lebih menyukai permainan pasti ketimbang imajinasi Fantasista. Namun dengan segala perjuangannya Teppei seperti halnya Tsubasa mampu membawa harga diri Jepang melambung tinggi karena menjadi juara dunia, meskipun hanya di manga.

Baca Juga:  Memilih Hidup Sendiri Ketimbang Tunduk pada Budaya Patriarkis

3# Whistle

Whistle adalah serial manga yang tidak muluk-muluk seperti Kapten Tsubasa dan Fantasista yang menceritakan bahwa Jepang bisa menjadi juara dunia. Bercerita tentang anak SMP yang berjuang menjadi pemain sepak bola dengan keterbatasan fisiknya, alias pendek. Seorang remaja bernama Sho Kazamatsuri merupakan remaja yang tidak kenal menyerah. Karena tubuhnya yang pendek dan skill-nya yang pas-pasan, dia selalu menjadi cadangan yang bahkan tidak pernah diizinkan menyentuh lapangan di sekolahnya yang langganan juara kompetisi sepak bola antar SMP se-Jepang.

Tidak menyerah, Kazamatsuri memilih hijrah dengan pindah sekolah seperti anjuran Nabi Muhammad dan memulai mimpinya menjadi pemain sepak bola profesional pada zaman-zaman sepak bola belum menjadi profesi yang dilirik orang. Whistle sebaiknya menjadi bacaan bagi para penggemar sepak bola yang kurang suka dengan cerita yang kelebihan mistis macam Kapten Tsubasa maupun Fantasista.

4# Giant Killing

Giant Killing merupakan serial manga yang paling realistis di antara serial manga yang pernah ada. Berbeda sekali dengan ketiga manga di atas yang hanya fokus menceritakan tentang mimpi-mimpi seorang anak menjadi pemain bola profesional, Giant Killing menceritakan sepak bola sebagai kebudayaan dalam gelut kerasnya persaingain liga Jepang.

Tidak terbatas hanya melirik pemain bola saja, semua hal tentang sepak bola ada dalam serial manga Giant Killing. Mulai dari mengisahkan fotografer, jurnalis, manajemen, perekrut, dan pihak-pihak di balik layar yang membuat sepak bola menjadi olahraga yang mendunia.

Membaca Giant Killing adalah membaca sepak bola dalam tulisan Yamadipati Seno di rubrik balbalan atau tulisan-tulisan sepak bola yang terbit di Pandit Footbal dan Fandom.id. Ketiganya tidak hanya membatasi pembahasan sepak bola melulu statistik dan analisis, hingga sering kali melihat pemain sepak bola tidak lebih dari mesin untuk memenangkan kompetisi.

Giant Killing membahas sisi humanis dari sepak bola yang tidak melulu tentang pemain, terlebih pemain bintang. Bahkan yang menjadi fokus cerita dalam serial ini justru Takeshi Tatsumi manajernya yang unik. Membaca Giant Killing seperti membaca Simulakra Sepakbola karya Zen RS yang melihat sepak bola dari sudut pandang lain, sepak bola sebagai kisah, dan sepak bola sebagai kebudayaan.

BACA JUGA No Debat! One Piece Lebih Baik daripada Naruto dan tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
7


Komentar

Comments are closed.